Konspirasi: Kapolri Tersandera "Kartel Besar" (bag.1)

08 April 2012 07:49:31 Dibaca :

Selamat siang saudara-saudara semua, di siang hari yang terik ini aku hanya sekedar memberikan informasi bahwasanya istri sekarang dalam keadaan yang lebih baik. Sudah siuman dan kondisi secara umum juga ada perkembangan yang lebih baik. :curcol

Baiklah saudara-saudara semuanya, sebenernya aku hanya ingin posting satu paragraf diatas itu saja, tapi berhubung ada informasi yang "jegerrrrr", maka tak afdol rasanya bila nggak digoreskan disini. Apa kabar dulur-dulur Bonek se-nusantara? Pastinya sedang menunggu-nunggu laga lanjutan IPL antara Persebaya melawan PSMS yang sedianya digelar sore hari ini di Gelora Bung Tomo kan? Ya, memang kondisi sekarang sangat-sangat memprihatinkan dengan permasalahan perijinan yang sulit didapat.

Lantas, berita "jegerrrrr-nya" apa mas Bup???

Hmmz, rupanya institusi Kepolisian yang selama ini hanya melakukan gerakan "underground" kini makin berani menunjukkan eksistensinya dalam konflik sepakbola nasional kita. Bila sebelum-sebelumnya Kepolisian di permukaan menampakkan wajahnya sebagai pihak yang netral, kini makin terlihat sebagai "netral maniak". Sebelumnya, mungkin harus kujelaskan dahulu perbedaan antara NETRAL dengan NETRAL MANIAK. Poin yang paling vital adalah, bila NETRAL itu maka akan tetap melihat dari dua sisi pihak yang bertikai, dan NETRAL MANIAK itu adalah pihak yang mengaku netral tapi hanya sebagai kamuflase saja. Contohnya: ngaku netral trapi nggak pernah mengkritisi KPSI, ngaku netral tapi menyerang secara membabi buta kepada PSSI, ngaku netral tapi mengagung-agungkan KPSI. Contoh personal ya banyak juga, antaranya ya Rahmad Darmawan yang ngaku netral ingin merangkul semua kubu tapi dianya sendiri masuk dalam salah satu kubu dan mengagung-agungkan kubunya. Sedangkan contoh personal di forum dunia maya, nggak usah dijelasin, silahkan saja sendiri mencarinya.

Kembali pada pokok pembahasan mengenai tema kali ini. Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah wacana yang sangat baik dari Kapolres Lamongan mengenai Pakta Perdamaian antara Bonek dan LA-Mania. Tentu saja awalnya hal ini disambut antusias oleh para Bonek yang ingin menunjukkan eksistensinya sebagai suporter revolusioner yang tahun lalu menyatakan berdamai dengan Pasoepati. Tapi yang terjadi belakangan malah sebaliknya, terjadi keributan saat Bonek yang merasa aman melewati Lamongan (via kereta) saat akan menyaksikan laga Persebaya melawan tuan rumah Persibo Bojonegoro. Tak hanya pra pertandingan saja keanehan terjadi, pasca pertandingan pun sama anehnya ketika gerombolan "beratribut Bonek" melakukan penjarahan di Bojonegoro. Hal yang belum bisa dijelaskan atau mungkin tak bisa dijelaskan oleh Kepolisian adalah pelaku aksi penjarahan tersebut melakukan aksinya dan menampung barang jarahannya ke dalam mobil yang telah dipersiapkannya. Di kalangan suporter pun hanya santai saja "sejak kapan ada Bonek yang bawa-bawa mobil hanya buat menjarah?", tentu saja hal aneh ini sangat tidak mungkin akan dijawab oleh jajaran Kepolisian.

Atas kejadian tersebut, Polres Bojonegoro tidak memberikan perijinan laga kandang kepada Persibo. Tentu saja hal ini identik dengan pepatah "operasi plastik gagal, cermin dibelah". Bukannya menginvestigasi terhadap kejadian yang sebenarnya, tetapi malah menyalahkan sepakbolanya. Kapolres Lamongan pun setali tiga uang, tak ada jawaban mengenai kesungguhan Pakta Perdamaian.

Sore ini sedianya Persebaya menjamu PSMS Medan di Gelora Bung Tomo, namun ijin pertandingan belum diperoleh dengan berbagai dalih seperti: perayaan Paskah, rawan demo BBM, dll. Pertanyaanya, apakah di seantero Indonesia ini hanya di Surabaya saja yang ada perayaan Paskah dan demo BBM? Apakah di daerah lain di Indonesia ini tidak ada perayaan Paskah dan demo BBM? Tentu saja hal ini hanya akal-akalan yang dibuat-buat saja sebagai pembenaran. Nah, hal apa yang mendasari demikian? Marilah kita sejenak mengupas kejadian beberapa bulan yang lalu dibawah ini.

Saat laga antara tuan rumah Persija Jakarta melawan Persebaya Surabaya sedianya digelar di Sleman, ijin dari Kepolisian pun didapat di detik-detik terakhir jelang pertandingan dilangsungkan. Ternyata oh ternyata ada "komando" dari pusat untuk menggagalkan laga tersebut. Kapolri kemana aja pak? Oooooh pak Kapolri mendapat telepon yang mengatakan kira-kira begini "Pak, ini Bonek sudah ada 5000-an orang di stadion. Kalo pertandingan batal digelar dan Bonek berbuat rusuh, maka akan memperburuk citra Jogja pak". Yang tadinya ngotot tidak memberi ijin pertandingan pun akhirnya hanya sendika dawuh karena Kapolri berubah pikiran. Tentunya keputusan Kepolisian merubah pendiriannya karena sudah berkonsultasi dengan "big boss" dulu dong sodaraaaaa.

Secara logis saja, ijin Persija ISL yang digelar di Stadion Mandala Krida, Jogja saja ijinnya mudah banget didapat, mengapa ini bisa dipersulit? Bahkan kalau mau jujur, suporter Persija dan Persiwa rusuh di dalam stadion. Bandingkan dengan kejadian di Bojonegoro yang di dalam stadion, Bonek dan Boromania beradu kreatifitas mendukung tim kesayangannya dengan damai, tapi di luar stadion rusuh tanpa ada investigasi Kepolisian. Tanya kenapa?

Melihat fakta diatas, maka tentu saja pikiran sebagian besar masyarakat yang mengamati fenomena aneh ini terarah pada saat pemilihan Kapolri beberapa waktu yang lalu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa nama Timur Pradopo adalah "nama pesanan" oleh Aburizal Bakrie kepada SBY. Entah apa motifnya, bisa saja asumsi yang paling pas adalah politik dagang sapi atas beberapa kasus yang membelit Partai Demokrat dan Partai Golkar, apalagi kini sang Ketua Umum Partai Golkar telah resmi menyatakan pencalonan dirinya untuk Pilpres 2014. Intuisi Kepolisian tersandera oleh kepentingan dua parpol besar ini, tak terkecuali dengan memanfaatkan sepakbola sebagai sarana pembenaran.

Bandingkan dengan kejadian LPI pada Januari 2011 lalu. LPI memperoleh perijinan kompetisi dari BOPI (resmi BOPI), dan peserta kompetisinya pun adalah tim-tim yang sebagian besar bukan merupakan anggota PSSI. Kini Kepolisian berdalih ijin penyelengaraan ISL diperoleh dari BOPI, padahal hanya sebatas rekomendasi Ketua Harian BOPI, bukan keputusan resmi BOPI. Dan yang paling penting adalah, semua tim yang berlaga di ISL sampai saat ini masih terdaftar sebagai anggota PSSI. Di dunia ini yang mana kompetisi yang diikuti oleh anggota federasi sepakbola tapi tak tunduk pada induk organisasinya?

Ohhh Pak Timur Pradopo, okelah kalo begitu ;)

Selanjutnya >

Konspirasi: Tabloid BOLA Tersandera "Kartel Besar" (bag.2)

Bubup Prameshwara

/bubup

Kadang saya memikirkan apa yg terjadi di indonesia ini, sungguh bikin "miris". Tapi kadang saya juga merasa tak ada gunanya memikirkan apa yg sedang saya pikirkan :O
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?