Bidan Care / Romana Tari
Bidan Care / Romana Tari karyawan swasta

Bidan Romana Tari [bidancare] Sahabat bagi perempuan dan keluarga, saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang kesehatan dan pengalaman sehari - hari dalam hidup,\r\n\r\nMari hidup sehat dan kreatif dalam hidup bersama bidancare

Selanjutnya

Tutup

Cinta Seorang Mertua Pada Menantu

7 Februari 2012   04:44 Diperbarui: 25 Juni 2015   19:58 155063 4 17

Di Sebuah ruang tunggu kamar bersalin.  seorang ibu usia sekitar limapuluh tahun tampak gelisah mondar - mandir. Wajahnya terlihat cemas dan kuatir. Sesekali ia berhenti dan menunduk sambil bibirnya berbisik. Seuntai tasbih ada di tangannya. Jari jemarinya terus bergerak menggulirkan manik-manik tasbih itu.

" Menunggu anaknya melahirkan bu? " sapaku membuka percakapan.

"Iya suster, anak menantu saya sedang berjuang melahirkan, itu cucu pertama saya" kata ibu tadi.

" Oya selamat ya bu, semoga bisa segera lahir dan  sehat" jawabku.

Aku tersenyum sambil menyapa  seorang teman bidan yang sedang  membawa kereta bayi menuju ruang bersalin.

" Sudah hampir melahirkan ya bu Ratna?" tanyaku.

"Belum Mbak, masih pembukaan 2 cm" jawab bidan jaga tersebut.

Jarum jam dinding di ruang tunggu kamar bersalin menunjukkan pukul 02;00 WIB.  Malam ini hujan angin deras sekali. Ibu tadi tak kelihatan lagi. Ku cari di ruang tunggu juga tidak ada. Hanya ada tas - tas dan selimut bertumpuk di pojok ruang tunggu. Kudekati. Ku lihat ada sandal jepit merah sepasang.Ya ampun, aku kaget saat  terlihat ujung kaki  menyembul diujung  selimut. Aku jongkok pelan-pelan.

"Ibu,mengapa tidur di lantai? nanti masuk angin lho?" kataku berbisik. Ku pegang kakinya untuk membangunkan.

"Ndak apa  suster, kalau tidur di kursi panjang itu nanti saya jatuh, soalnya kadang suka ngelindur" jawab ibu itu sopan sekali.

"Ibu mau teh hangat, saya ambilkan" kataku.

Ia menolak dengan halus dan mengucap terimakasih. Lantas ibu itu bangun. Ia membetulkan gelungan konde rambutnya yang terlepas, tampak rambutnya  sudah yang beruban sedikit berantakan. Namanya bu Marsinah.

"Saya tidak mengantuk sebenarnya, hanya ingin meluruskan punggung sebentar. lha wong saya ini biasanya juga tidak gampang tidur. Apalagi ini saya menunggu anak menantu melahirkan" kata ibu itu.

"Ibu, mengapa tidak menunggu di dalam saja?" tanyaku.

"Lha wong saya ini dari desa tidak tahan dingin AC  suster, di dalam ruang bersalin menantu saya senang AC, jadi saya menunggu di luar saja" jawabnya sambil tersenyum.

"Lho, putranya ibu kemana?" tanyaku.

" Masih perjalanan dari Kalimantan, saya yang menjaga menantu saya sejak hamil muda sampai mau melahirkan. Hamilnya ini susah suster, muntah terus ndak bisa makan apa - apa. Saya juga sedih dengan keadaannya dulu, sulit sekali makan menantu saya ini, segala macam masakan saya ndak ada yang cocok, gawan bayi mungkin. Saya sempat sedih juga sudah susah - susah masak tidak dimakan. Tetapi untunglah bayi dalam kandungannya sehat, meskpun makannya hanya buah, roti sama susu sampai hamil 7 bulan" jawabnya panjang lebar.

" Ibu punya anak  berapa? mengapa tidak gantian saja menjaga menantunya, ini masih lama lho bu, menantu ibu  baru pembukaan 2" kataku lagi.

" Ini menantu saya satu-satunya suster, saya sangat menyayangi dia. Apalagi anak saya telat nikahnya,  sempat saya kuatir dia lupa menikah. Untung berjodoh dengan nak Ratna ini. Sekarang anak saya kerjanya jauh di Kalimantan. Saya harus menjaga istrinya agar sehat dan selamat. Kalau tidak sayang sama menantu nanti saya kalau tua menyesal telah menyakiti hati menantu yang juga istri anak saya. Lagipula pada siapa lagi saya nitip sisa hidup selain pada mantu saya ini.  Meskipun kadang cara berpikir menantu saya ini sudah maju dan tidak cocok dengan saya, saya berusaha mengerti. Jaman memang sudah berubah. Jaman saya dulu kalau sama mertua takut sekali. Bahkan saya gemetaran ketika pertama kali menginap di rumah mertua setelah manten anyar. Menantu jaman dulu  malahan harus bangun subuh- subuh ikut numbuk padi di lesung. Kalau bangun siang dimarahi mertua. Padahal dulu saya setahun awal pernikahan ikut mertua, saya sempat  sering pingsan di sawah. Saya tidak ingin menantu saya mengalami seperti saya, biarlah dia senang hatinya selama hamil, dan saya yang mengerjakan semua pekerjaan di rumah, sewaktu dia masih mual muntah  setiap masuk ke dapur, apalagi bau bumbu" katanya panjang lebar.

Aku manggut- manggut mendengar kisah ibu ini. Oh ternyata di ruang tunggu kamar bersalin ini ada sejuta kisah, termasuk kisah cinta seorang mertua pada menantu.

Kisah mertua dan menantu selalu menarik untuk dibahas. Tak pernah habis untuk jadi bahan cerita  ketika dua atau tiga wanita menikah berbincang - bincang, topik mertua  termasuk menjadi salah satu topik curhatan. Mulai dari kisah yang sedih maupun yang membahagiakan. Menantu seringkali merasa serba salah, sementara mertua seringkali merasa serba disalahkan. Tetapi tak sedikit juga para menantu yang terlihat kompak dan akrab dengan mertua bahkan mertua lebih sayang pada menantu daripada pada anak mereka sendiri. Semoga kisah ini menjadi salah satu catatan cinta yang tulus seorang mertua pada menantunya.

Salam hangat

Bidan Romana Tari

Disharekan dari cuplikan catatan harian bidan. Desember- 2010, tentang kisah -kisah nyata di ruang tunggu kamar bersalin.

Nglindur ( bahasa jawa ) : mimpi

Manten anyar ( jawa ): pengantin baru

Gawan bayi  ( jawa ) : bawaan bayi dalam kandungan