Adjat R. Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Penulis Kampungan

Orang biasa. Tinggal di desa. Masih sedang terus belajar mengeja aksara.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara highlight

Ketika Watak Asli Anies Kian Jelas Kelihatan

8 April 2017   22:42 Diperbarui: 8 April 2017   22:54 2440 11 3
Ketika Watak Asli Anies Kian Jelas Kelihatan
Spanduk Al Maidah 51 di tempat kampanye Anies Sumber: Kompas.com

Terjunnya Anies R. Baswedan ke ranah politik, dianggap sebagai langkah mantan Mendikbud ini dalam membuka ‘topeng’ wajah diri yang sesungguhnya di depan publik.

Betapa tidak. Mantan rektor Universitas Paramadina, ini suatu ketika pernah menulis artikel Merajut Benang Kebangsaan yang membahas perlunya mewujudkan nilai kebangsaan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Publik pun menilai cucu pahlawan kemerdekaan, AR Baswedan, ini walaupun sebagai WNI keturunan (Arab), ternyata seorang  yang memiliki watak nasionalis sejati.

Terlebih lagi tak lama kemudian Anies menggagas program Indonesia Mengajar. Suatu program yang mengajak para sarjana untuk secara sukarela menjadi guru di berbagai wilayah pelosok pedalaman, dan daerah perbatasan yang sebelumnya belum tersentuh pendidikan formal, karena keterbatasan sumber daya manusia.

Meskipun program di atas bukan murni gagasannya, melainkan memodifikasi ide Prof. DR.Koesnadi Hardjasoemantri (Rektor UGM periode 1986-1990), akan tetapi Anies pun kemudian mendapat pujian, dan dianggap sebagai salah seorang tokoh muda Indonesia yang dibanggakan.

Demikian juga halnya di saat menjadi Rektor perguruan tinggi yang didirikan mendiang Nurcholis Majid, salah seorang tokoh Islam moderat, itu namanya bertambah ‘moncer’ dengan membuat suatu gebrakan, yaitu dengan inisiatifnya membuat mata kuliah wajib anti korupsi di universitas yang dipimpinnya.

Bahkan saat partai Demokrat menggelar konvensi calon presiden, Anies pun menjadi salah satu pesertanya. Dan sejak itu pula rupanya Anies mulai mengambil ancang-ancang meninggalkan profesinya sebagai pendidik, dan beralih ke dunia politik.

Sehingga tak salah bila Presiden Joko Widodo merekrut Anies Baswedan sebagai punggawanya, yakni menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK.

Hanya saja entah bagaimana sebabnya, baru saja menikmati kursi empuk Mendikbud (sejak 26 Oktober 2014 sampai 27 Juli 2016), Anies pun tiba-tiba saja dicopot dari jabatannya. Akan tetapi menurut desas-desus yang santer beredar saat itu, Kementerian yang dipimpin Anies saat itu dianggap gagal menjalankan visi dan misi Presiden di bidang pendidikan.

Tatkala saat ini Anies Baswedan maju sebagai cagub DKI Jakarta dengan dukungan partai Gerindra dan PKS, sikap Anies dianggap telah berubah seratus delapan puluh derajat.

Sekarang ini Anies sama sekali tidak mencerminkan lagi sebagai intelektual yang menjunjung tinggi moral, dan nilai-nilai kebangsaan yang selalu digembar-gemborkannya. Sebaliknya Anies seolah telah menjadi politikus sejati yang berwatak lain di mulut lain di hati.

Coba saja simak pernyataannya kepada media terkait isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) yang merebak luas, seakan menyesaki setiap sudut di wilayah DKI Jakarta selama ini.

"Rakyat juga bosan dengan fitnah-fitnah, apalagi fitnah yang pakai isu SARA. Berhentilah memfitnah pakai isu SARA," kata Anies, usai kampanye di Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (5/4/2017).

Daripada saling fitnah, lanjut Anies, akan lebih indah jika beradu program.

Namun, seruan Anies itu ternyata tidak murni muncul dari hati sendiri. Sepertinya dia hanya mengulang seruan ketua KPU DKI Jakarta belaka. Karena setelah itu dikabarkan, di tempat Anies berkampanye, di Jalan Karet Karya, Setiabudi, Jakarta Selatan,Sabtu (8/4/2017), terpampang spanduk besar berisikan tulisan Surat Al-Maidah Ayat 51.

Pada spanduk berukuran 1 x 3 meter tersebut, tulisan di baris paling atasnya berbunyi, "Larangan Memilih Pemimpin Kafir" dilanjutkan dengan isi Surat Al-Maidah Ayat 51. Jarak spanduk itu ke lokasi kegiatan Anies hanya sekitar dua meter.

Omong kosong kalau Anies mencoba mengelak dengan mengatakan tidak mengetahuinya. Sebaliknya justru malah terkesan membiarkannya sebagai bukti dirinya yang menjadi bagian dari kelompok intolenransi itu.

Sehingga jelas sudah hal tersebut di atas menjadi salah satu bukti nyata, alias bukan fitnah lagi jika Anies Baswedan seorang aktor yang lihai memainkan peran ganda sekaligus dalam satu panggung yang bernama Pilkada DKI Jakarta ini.

Di satu saat Anies berperan sebagai seorang intelektual sejati, yang acapkali menyuarakan nilai kebangsaan yang dibingkai Bhineka tunggal Ika begitu tegasnya. Akan tetapi pada saat yang lain Anies pun dengan manisnya menebar fitnah, sampai dan memainkan isu SARA yang malah mengarah pada terpecah-belahnya bangsa.

Karena bukan warga Jakarta, atas sikap seorang cagubnya yang mencla-mencle ini, saya hanya bisa menyampaikan turut prihatin saja. Paling tidak hanya memodifikasi (Ikut kebiasaan Anies nih!) yang sering dikatakan orang Medan sana: “Ini Medan, Bung!”, maka diganti jadi: “Ini Jakarta, bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung!” ***