HEADLINE HIGHLIGHT

Heran, Kenapa Ya Masih Banyak Ibu Enggan Memberikan ASI?

01 Mei 2012 04:31:28 Dibaca :
Heran, Kenapa Ya Masih Banyak Ibu Enggan Memberikan ASI?
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Memiliki buah hati yang sehat tentu adalah harapan semua orang tua. Apa saja akan dilakukan orang tua untuk menjaga kesehatan anaknya, bukan hanya saat dia hadir di dunia tetapi sejak si anak dalam rahim sang ibu. Mengkonsumsi makanan sehat pada masa kehamilan adalah salah satu usaha untuk menjaga kesehatan calon sang buah hati.

Saat dalam kandungan, bayi tumbuh dan berkembang tubuh ibu memberinya antibodi melalui plasenta. Dan ini memberikan kekebalan pasif yang mampu melindungi janin dari serangan penyakit selama kehamilan. Lalu setelah sang bayi lahir, suplai antibodi tidak lagi didapatkan, padahal sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir belum bekerja sempurna. Karenanya bayi sangat rentan akan resiko infeksi pada tahun pertama kelahirannya.

Kita semua tahu bahwa ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan pertama untuk bayi yang merupakan anugerah dari Tuhan. Maka dari itu ASI punya segudang keajaiban dalam kandungan nutrisinya. Dan ini tidak perlu diragukan lagi. Beberapa diantara keajaiban ASI menurut para pakar adalah:

  1. Memperkuat sistem kekebalan tubuh, karena ASI mengandung Prebiotik yaitu zat pembangun sistem kekebalan tubuh.
  2. Menurunkan resiko alergi
  3. Menurunkan resiko gangguan pernafasan (mis: batuk dan flu)
  4. Menurunkan resiko penyakit saluran cerna (mis: diare)
  5. Kaya AA dan DHA sebagai zat pendukung pertumbuhan kecerdasan anak.

Sebenarnya masih banyak keunggulan ASI yang sudah diteliti para ahli, namun saya bukan mau berpanjang lebar membahasnya. Saya akan berbagi seputar pengalaman saya tentang pemberian ASI dan dampaknya beberapa tahun kemudian. Karena masing-masing anak saya mendapat porsi ASI yang berbeda-beda, maka reaksinya pun berbeda-beda setelah saya amati tumbuh kembang mereka. Alasannya pun berbeda-beda kenapa saya membedakan mereka dalam pemberian ASI.

Anak pertama

Saya hanya sempat memberikan ASI padanya selama 40 hari saja. Bukan tanpa sebab, saat itu saya masih kuliah dan pada akhirnya saya meminta tolong ibu saya untuk mengasuh anak saya itu daripada diserahkan pada orang lain dalam hal pengasuhan. Dan ibu saya tinggal di luar kota, jadi memberi ASI ekslusif sudah tidak mungkin, alhasil susu formula adalah solusinya.

Anak kedua

Saya sedikit terjebak pada pemikiran yang salah tentang ASI saat anak kedua saya lahir. Mungkin saat itu saya belum begitu aktif mencari informasi soal ASI. Waktu itu, beberapa saat setelah bayi saya lahir si bayi mengalami kuning atau istilah kedokterannya disebut ikterus. Penyebabnya adalah hati yang belum berfungsi dengan baik sehingga terjadi penumpukan bilirubin. Penjelasan lengkapnya ada di sini.

Waktu itu saya panik karena saya tidak mengalaminya pada kelahiran anak pertama. Menurut informasi yang saya terima waktu itu, bayi harus diberikan banyak minum. Nah, saya berpikir bahwa ASI saya kurang banyak. Maka susu formula lagi-lagi saya berikan saat itu dikombinasikan dengan pemberian ASI dan keterusan sampai anak saya berumur 6 bulan.

Anak ketiga

Karena informasi tentang ASI sudah sangat berkembang waktu itu, ditambah saya juga semakin mahir browsing di internet. Sejak hamil anak ketiga, saya bertekad untuk memberikan ASI Ekslusif pada 6 bulan pertama dan memberikannya terus sampai anak berumur 2 tahun. Karena bertekad bulat itulah, saat kelahiran bayi saya menolak mentah-mentah pemberian susu formula dari rumah sakit. Walaupun sempat kecolongan juga pada jam-jam pertama, pihak rumah sakit ternyata memberikan susu formula merk terkenal dan mahal pada bayi saya yang baru lahir.

Sebabnya adalah karena saya melahirkan secara caesar, dan sempat tidak sadar sehingga saya dipisahkan dengan bayi selama beberapa jam. Setelah saya saya sadar saya meminta (agak memaksa) agar saya bisa menyusui bayi saya. Beberapa perawat mengatakan pada saya waktu itu agar susu formula yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit tetap diberikan pada bayi. Tapi saya "membandel" dengan tidak memberikan susu kaleng itu pada bayi saya sehingga akhirnya memang susu formula sama sekali tidak saya berikan. Alhasil saya sukses memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan berlanjut sampai anak ketiga saya berumur 2,3 tahun.

Faktanya

Mengamati tumbuh kembang ketiga anak saya dari tahun ke tahun saya lalu bisa menarik kesimpulan bahwa ASI memang sangat membantu dalam membentuk antibodi pada tubuh anak-anak. Jika anak pertama rentan alergi dan gampang sekali flu, batuk dan pilek, anak kedua juga mudah tertular flu maka anak ketiga sangat tahan luar biasa terhadap serangan virus flu. Diare, alergi, dan beberapa penyakit khas anak-anak hampir tidak pernah menempel di tubuhnya. Hanya batuk sesekali jika dia salah makan. Terutama saat mereka berada pada usia rentan terkena penyakit (usia balita).

Pernah suatu kali, 2 anak barengan terkena demam berdarah dan harus opname di rumah sakit, kami sempat khawatir karena demam berdarah mudah sekali menular namun si bungsu sehat dan segar bugar. Entah ini karena antibodi yang sudah terbentuk karena pemberian ASI ekslusif atau bukan tapi saya sih tetap yakin 100% ini karena ASI.

Jika dilihat dari rekam medis mereka bertiga, si bungsu hampir tidak pernah menjadi pelanggan dokter dibandingkan dua kakaknya untuk kasus pengobatan sebuah penyakit. Hanya saat melakukan imunisasi saja dia saya bawa ke dokter.

Kenapa Ibu tidak memberi ASI pada bayinya??

Informasi tentang keunggulan ASI sudah sangat banyak dibahas oleh para ahli, baik di media cetak (buku, majalah, koran), televisi ataupun internet. Maka saya agak heran dengan para ibu yang enggan memberikan ASI pada anaknya sehingga lebih memilih memberikan susu formula yang memerlukan budget tambahan tentu saja. Beberapa alasan dikemukakan oleh beberapa teman yang saya ketika saya bertanya kenapa tidak memberi ASI.

1. ASI tidak keluar

Alasan ini sebenarnya kurang bisa diterima, karena secara alami ASI akan keluar dan Tuhan tidak membedakan satu ibu dengan ibu yang lain. Hanya tergantung kemauan dan keyakinan si ibu untuk memberikan ASInya. Untuk alasan ASI tidak keluar sebenarnya ada beberapa penyebab antara lain :

  • Asupan gizi
  • Faktor kesehatan ibu
  • Psikologis

Dan ketiga hal itu sebenarnya bisa diatasi dengan mudah kalau ada niat ditambah dukungan dari suami dan keluarga. 2. Termakan iklan

Hal ini yang cukup banyak membuat ibu-ibu enggan memberikan ASI pada bayi mereka. Semakin banyak iklan susu formula yang mengatakan bahwa merk susu produksi mereka unggul dan sangat baik untuk membuat anak-anak menjadi cerdas, tahan penyakit, dan sehat. Iklan yang gencar ditambah "dukungan" rumah sakit untuk memberikan susu formula saat bayi baru lahir menjadi semakin menyesatkan. Seolah-olah susu formula lebih baik dari ASI.

Padahal kenyataannya ASI adalah produk alami tubuh manusia yang dianugerahkan Tuhan untuk diberikan pada manusia. Ya jelas tidak ada bandingannya... Sudah ada yang gratis koq malah pilih ngeluarin uang.

3. Malas

Karena saat menyusui penampilan tidak fashionable maka malas menjadi salah satu alasan yang dikemukakan kenapa tidak memberi ASI. Memberikan susu formula dengan botol dianggap tidak merusak penampilan dan nggak bikin berantakan katanya. Hehehehe... alasan yang cukup membuat kening saya berkerut. Mau punya anak tapi nggak mau terganggu penampilannya karena menyusui.

Apapun alasannya, ASI tetap makanan pertama untuk bayi dengan nutrisi paling lengkap dan nomor satu di jagat raya ini. ASI adalah hak anak dan ibu memiliki kewajiban untuk memenuhi hak anak tersebut.

Dan saya menyesal..... pernah tidak memberikan ASI ekslusif pada 2 anak saya.

Ellys Utami Purwandari

/amie.andari

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pecinta travelling, fotografi, dan masih terus belajar dalam menulis. Mimpi terbesar adalah ingin menimba pengalaman dari berbagai belahan dunia.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?