Allan Maullana
Allan Maullana Karyawan Swasta

Terbangun pada pukul 04.12am, berharap sabtu dan minggu adalah quality time bersama Meita Eryanti.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Leuwipanjang Ketika Senja Berhujan

12 Juli 2017   07:49 Diperbarui: 12 Juli 2017   08:34 183 0 0

 "Tuhan pun enggak tau kapan Bus itu lewat...."

Ketika mengucapkan itu, suara Teh Mei agak sedikit judes sekaligus terdengar menggelikan. Sambil mengelap kaca mata miliknya, saya mengerti kalimat itu menjelaskan kalau Bus yang kami tunggu di depan stasiun Bandung tidak terjadwal kedatangannya.

Pagi hari diakhir pekan bulan Desember 2016 adalah ke empat kalinya saya berjumpa dengan wanita manis asal Yogyakarta yang bernama Meita Eryanti ini. Diakhir bulan Oktober 2016, pertemuan pertama kami berlangsung pada sebuah TBM (Taman Baca Masyarkat) yang berada di kota Bekasi. Sebuah pertemuan dengan moment sederhana, dengan tempo sesingkat-singkatnya. Perkenalan kami dipertemukan oleh seorang anak manusia paruh baya, anak kesayangan ibu, orang itu adalah Om saya. Om saya ini adalah teman dari Meita Eryanti.

Pagi ini saya sudah tiba di stasiun Bandung. Di kota ini tempat kami memadu janji, berjumpa dalam sehari untuk menelusuri setiap sudut kota. Ini adalah kedua kalinya saya berkunjung ke kota Bandung setelah yang pertama kalinya ditahun 2008. Sudah cukup lama bukan?

Setiba di stasiun Bandung, saya kebingungan mencari sosok wanita mungil yang akan menjadi guide saya sehari berkeliling di kota ini. Tak membutuhkan waktu lama untuk mencarinya. Seorang berkaos putih polos, celana jeans dengan sneakers birunya nampak melangkah kearah saya. Sosok wanita mungil berambut pendek dengan kaca matanya dan tak ketinggalan gantungan kunci berbentuk gorilla yang mengantungan setia pada ransel berwarna maroon turut menemani. Senyum manisnya menyapa, jemari yang mungil menjabat tangan saya dengan erat. Sungguh, saya tidak akan melupakan senyuman manis itu. Kini kami siap untuk menelusuri kota Bandung.

Mula-mula kami naik angkot dari stasiun Bandung menuju alun-alun kota. Ini adalah tujuan pertama kami, melihat halaman masjid agung Bandung yang beralaskan rumput sintetitis yang instagram-able itu. Sebenarnya dari stasiun Bandung menuju alun-alun bisa ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu 15 menit ya kira-kira dengan jarak 1,2 KM menurut google maps sih. Heheheeeee

Tapi kali ini kami memilih moda transportasi angkutan kota (angkot) dengan alasan menghemat waktu. Dengan ongkos 3000 rupiah terhitung untuk satu penumpang kami sudah bisa sampai alun-alun Bandung dalam waktu 5 menit. Saya rasa harga yang cukup ekonomis.

Lalu dari alun-alun Bandung kami melanjutkan tujuan berikutnya. Kali ini kami berjalan kaki menelusuri Jl. Asia-Afrika berlanjut menuju JL. Braga. Teh Mei dengan asyik menunjukan seluk-beluk Jl.Asia-Afrika dan Teh Mei pun menunjukan sebuah quote dari penulis novel terkenal 'Pidi Baqi' yang menempel pada sebuah dinding. Saya terpana akan quote itu yang berbunyi; "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi".

Matahari bersinar cerah, langit membiru indah, dibawah awan-awan yang bergumpal kami melanjutkan langkah kaki untuk mengunjungi Balai kota Bandung yang dikelilingi rimbunya pepohonan yang sejuk. Kami sempat duduk-duduk di bawah pepohonan sejenak melepas lelah. Balai kota terlihat ramai, anak-anak, pasangan muda, keluarga kecil, semua berkumpul di sini. Saya duduk termangu membisu sembari memperhatikan wisatawan lokal yang menikmati akhir pekannya di sini. Sayapun bergumam; "Sungguh ini benar-benar kota yang nyaman."

Setelah dari balai kota kami melanjutkan perjalanan kembali menggunakan angkot menuju Teras Cikapundung. Teras Cikapundung adalah tujuan jalan-jalan kami hari ini. Saya rasa ini adalah tujuan terakhir yang akan kami kunjungi hari ini. Mengingat waktu yang semakin sore. Saya harus memikirikan waktu tempuh perjalanan pulang ke Bekasi dengan mengguanakan Bus Kota. Sebab sebelumnya saya kehabisan tiket Kereta Api untuk perjalanan Bandung-Bekasi.

Riuh air dari sungai semakin akrab ditelinga, angin sepoi-sepoi dan udara yang sejuk menyelimuti kami yang sedang duduk asyik sambil berbincang ngalor-ngidul. Disinilah kami banyak menghabiskan waktu untuk sekedar berbincang mengakrabkan diri, sedikit canda-tawa mencairkan suasana. Ada rasa dihati yang tersirat pada senyuman kami, ada rasa yang belum mampu kami suratkan pada hari ini. Ya, saya rasa ini adalah perasaan senang karena seharian sudah jalan-jalan menelusuri setiap sudut kota. Dan moment yang tak lupa kami lewatkan, kami sempatkan mengabadikan senyum kami yang terlihat berbunga-bunga ini.

Di Teras Cikapundung matahari mulai condong ke barat. Kami bergegas menuju jalan raya, menunggu Bus Damri yang akan mengantarkan kami menuju terminal Bus Leuwipanjang. Tak perlu menunggu lama Bus Damri yang kami tunggupun datang. Kami menaiki Bus itu. Perjalanan terasa memakan waktu lama. Ada beberapa titik macet yang akan kami lewati. Senja semakin menghampiri, saya melamun pada balik kaca Bus. Tak terasa perjalanan kami telah sampai pada tujuan.

 Trotoar bercorak hitam-putih nampak basah terjatuhan gerimis dari awan. Awan mulai gelap, suara guntur mempercepat langkah kami. Jam tangan saya menunjukan pukul 17.30 WIB. Ini adalah pertemuan terpanjang yang pernah saya alami didalam sekali pertemuan. Saya sudah merasa lelah, Teh Mei juga sudah terlihat lelah. Mungkin ini waktu yang tepat untuk kami berpisah. Hujan turun semakin deras, menambah basah hati kami yang resah. Sejenak berharap dalam hati ada kesempatan waktu dan umur untuk jumpa kembali. Kami akan memadu janji di kota yang sama. Berjalan menelusuri jalan panjang yang membutuhkan bagian hidup yang tak akan pernah kembali yaitu "Waktu".

Sambil menatap wajah saya yang nampak kelelahan ini Teh Mei menggenggam tangan saya, ia berkata "Sudah sana pulang... udah sore. Tuh Busnya udah ada."

Saya pun tersenyum melihatnya seraya mengucap "Terimakasih ya Teh buat hari ini, Janji yah kita jumpa lagi."

"Iya janji. Dadah.. sampai jumpa.." Teh Mei pun melambaikan tangan sambil melepas kepergian saya yang masuk ke dalam Bus.

Dari dalam Bus saya masih memperhatikan langkah kecilnya. Gerak kecilnya sungguh meledakan hati ini, seakan saya enggak percaya kalau sentuhannya adalah nyata.

Kemudian, di dalam bus yang sudah melaju, sambil menahan air mata saya megingat kembali kata-kata Teh Meita; "Ini terminal, tempat kita berpisah. Di tempat ini, pada titik ini kau menempuh jalanmu, demikian juga denganku. Tapi seperti matahari yang bersinar setelah gerimis ini, kita akan bertemu setelah perpisahan ini."