Mohon tunggu...
Ali Zaenuddin
Ali Zaenuddin Mohon Tunggu... Penulis - Masih Mahasiswa

Analis Kebijakan Publik Pada Konsentrasi Islam, Pembangunan dan Kebijakan Publik (IPKP) Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Narsisme Pasca-Hijrah, Eksistensialis atau Esensialis?

18 Januari 2020   13:55 Diperbarui: 19 Januari 2020   03:33 5380
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab. Dalam kamus Lisanul al-Arab (Karya Ibnu Mandhur), hijrah diartikan sebagai "keluar dari satu tempat ke tempat lain". Atau secara garis besar yang dapat dipahami terkait hijrah adalah meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat.

Jika dikaitkan dengan konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Kota Mekah ke Madinah. 

Di dalam Al-Qur'an, kata hijrah beserta derivasi atau turunannya disebutkan sebanyak 31 kali. Semuanya mengandung arti meninggalkan keburukan atau suatu keadaan yang tidak baik.

Sedangkan makna taubat, secara bahasa, at-Taubah berasal dari kata yang bermakna kembali. Dia telah bertaubat,  artinya dia kembali dari dosanya.

Taubat adalah kembali kepada Allah dengan melepaskan hati dari belenggu kemaksiatan yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu kembali dan melaksanakan semua kebaikan dan amal shaleh yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla, kembali menjadi hamba yang bersih dengan menjadi pribadi yang lebih baik dengan melakukan taubat dengan sebenar-benarnya taubat (tubu ilallah taubatan nasuha).

Lalu apa istilah yang tepat untuk menggambarkan praktik meninggalkan kemaksiatan dan berusaha mengubah dirinya menjadi pribadi dan hamba yang lebih baik? Hijrah atau taubat? Di sinilah letak salah kaprah sebagian orang ketika memaknai hijrah dan berbagai fenomena yang berkaitan dengannya.

Ketika mereka berusaha mengubah dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, hamba yang taat dan bertaqwa dengan meninggalkan segala keburukan dan kemaksiatannya di masa lalu, maka praktik seperti ini bukan disebut sebagai hijrah, melainkan taubat.

Dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 17 Allah SWT berfirman:

Artinya: Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Wanita dan Hijrah (Sumber:  Anique Zakaria)
Wanita dan Hijrah (Sumber:  Anique Zakaria)

Hijrah, Eksistensialis Atau Esensialis?
Fenomena hijrah yang saat ini dimaknai oleh para generasi milenial lebih pada perubahan sikap gaya hidup dan tata cara berpakaian yang sesuai syariat Islam, namun belum sebetulnya masuk dalam ranah etis-ideologis. 

Hal ini didasarkan pada pengalaman dan fakta yang penulis temukan di lapangan. Beberapa bulan yang lalu, penulis melakukan survey kecil-kecilan ke tempat-tempat pengajian dan kajian anak-anak muda yang ada di Kota Yogyakarta. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun