HEADLINE

Pantang Menyerah, Meskipun Cacat

14 Juni 2011 20:08:14 Dibaca :

Meskipun kondisi tubuhnya tidak sempurna, Sutrisno (70) atau yang sering dipanggil Mbah Tris tidak mau begitu saja menyerah kepada nasib. Kedua tangannya, tidak memiliki pergelangan. Kedua kakinya, tampak mengecil. Dalam kondisi seperti ini, ia masih giat bekerja yakni menjahit sepatu atau sandal. Kadang-kadang  juga menerima perbaikan alat elektronik (service elektronik). Dari jasa menjahit sepatu atau sandal itulah ia memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama untuk kebutuhan makan. Tetapi usaha yang ditekuninya, tidak menentu. "Yang menjahitkan sepatu, juga tidak tentu mas, kandang ada, kadang tidak. Ya beginilah keadaannya. Tapi saya masih bersyukur kepada Tuhan karena masih diberikan kesempatan untuk hidup" ujarnya Sebelum menekuni usaha jahit menjahit sepatu, Mbah Tris menjadi tukang tambal ban, di dekat Balai Desa Panggung. Menurutnya, sewaktu menjadi tukang tambal ban, penghasilannya cukup lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari. Tetapi, usaha itu sudah tidak ditekuninya lagi, karena sudah tidak memiliki alat. "Alat-alat kami, diambil pencuri mas. Pada waktu itu kami ke Jawa, nengok saudara, nengok orang tua, sesampai di sini, alat-alat hilang semua. Kejadian itu kira-kira tahun 2000-an mas. Kok tega ya, orang mencurinya. Padahal itu satu-satunya sumber penghidupan kami", katanya.

Menurut cerita Mbah Tris, ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga saudaranya tidak memiliki kekurangan fisik seperti dirinya. “saudara-saudara saya normal, dan semua bertani”, ujarnya. Meskipun ia memiliki tubuh yang kurang sempurna, sejak umur 15 tahun sudah bekerja mandiri. Orang tua Sutrisno berasal dari Jumoro Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Pada tahun 1930, orang tua Sutrisno, dikirim ke Kalimantan, yang waktu itu masih bernama Borneo, oleh Penjajah Belanda.

Mbah Tris, kini tinggal di Desa Panggung Rt.13b Kecamatan Pelaihari bersama kakaknya, Sunardi atau dipanggil Mbah Nardi. Dalam usianya yang relatif sudah tua itu, ia tetap bekerja. “Bila ada bantuan peralatan, saya akan menekuni service elektronik. Alat-alat yang ada tidak cukup memadai untuk usaha service elektronik. Harapan kami ada bantuan. Kalau kembali menekuni tambal ban, tenaganya sudah tidak kuat mas”, ujarnya.

Ia berharap kepada pemerintah dapat memberikan bantuan. Menurutnya, selama ini ia tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti Program Bantuan Tunal (BLT). Dan sejenisnya. “Semoga pemerintah peduli kepada kami”, pintanya.

Akhmad Rozi

/akhrozi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Bertutur sapa, berbagi pengetahuan.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?