Ahmad Yusuf
Ahmad Yusuf

Kuli tinta Harian Pagi RADAR BANGKA (Jawa Pos Group) Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @Borneomucil,@Ahmad Yusuf FB Ahmad Yusuf Ariffien

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Makam Gusti Kacil Ada di Pulau Bangka

22 Februari 2015   08:40 Diperbarui: 17 Juni 2015   10:43 1923 0 0

Menimbulkan Batang yang Gaib



Di dalam buku sejarah Banjar tertulis Pangeran Muda (Pangeran Moeda) di dalam kitab Irsyyahdiyyah karangan Syekh Abdurrahman Siddik pada tahun 1910 selesai 1935, ditulis dengan nama Gusti Mas Muda dengan gelar Gusti Kacil keturunan dari Putri Junjung Buih dilahirkan di Martapura 1825, Gusti Kacil 3 bersaudara, Gusti Ismail, Gusti Mustopa, Gusti Kacil didalam isi kitab Irsyyahdiyyah menuliskan keturunan-keturunan Pangeran Surianata beristrikan Putri Junjung Buih yang menjadi Raja-raja Banjar dan keturunan Syekh H. Muhammad Arsad Al- Banjary adapun garis istilah keturunan Gusti Kacil sebagai berikut.


Gusti Mas Muda bergelar Gusti Kacil bin Pangeran Yusuf bin Gusti Maimunah bin Pangeran Bingking bin Pangeran KH Dipasanta, Pangeran KH Dipasanta wafat di Padang, Sumatera barat sewaktu membantu Imam Bonjol dalam perang Padri, penulis kitab Irsyyahdiyyah Syekh Abdurrahman Siddik pernah belajar ilmu agama dengan paman nya H. Muhammad As’ad, keturunan Pangeran KH Dipasanta di Padang, diatas garis keturunan Pangeran KH Dipasanta Pangeran Hidayatullah, Sultan Muhammad sampai Sultan Musta’in Billah dan seterusnya, Pangeran Muda atau Pangeran Mas Muda dengan gelar Gusti Kacil pernah memangku jabatan Teras di Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar pada bulan April 1859, disusul dengan rapat besar di Kandangan pada tahun 1859.




Sebelum Gusti Kacil memangku jabatan Teras di Kesultanan Banjar di Martapura banyak Pangeran/ Sultan dan perangkat Kesultanan di tangkap dan ada yang diasingkan keluar Banjar seperti keluarganya Pangeran Hidayatullah dan ada juga yang tewas dibunuh oleh Komapani Belanda, dengan adanya itu Gusti Kacil sangat anti sekali dengan Kompani Belanda, maka terjadilah perang antara Kesultanan Banjar dengan Kompani Belanda pada Agustus 1859 di Martapura, peperangan di Martapura langsung dipimpin oleh Gusti Kacil dengan gagah beraninya dan kesaktian tinggi beserta siasat perang yang dimiliki Gusti Kacil melawan Kompani Belanda bersenjatakan sebilah keris peninggalan Putri Junjung Buih.

Pada peristiwa tersebut banyak pasukan Kompani Belanda menjadi korban maka dicarilah terus Gusti Kacil untuk ditangkap namun usaha Kompani Belanda untuk menangkap Gusti Kacil tidak berhujung berhasil, dibuatlah seyembara siapa yang bisa menangkap Gusti Kacil dalam keadaan hidup atau mati diberi upah sebanyak 250 F, sayembara ini juga tidak berhasil untuk menangkap Gusti Kacil, Kompani Belanda mendengar kabar yang mana satu-satunya yang bisa menangkap dan menaklukan ilmu Gusti Kacil seorang ulama yang berilmu tinggi dengan kesaktiannya beliau adalah Datuk Landak, nama aslinya Syekh Muhammad Afif anak dari Syekh H. Muhammad Arsad Al-Banjarydengan gelar Datu Kelampayan.




Maka dicarilah dan diundang Datu Landak untuk mengadap Komapani Belanda, namun Datu Landak tidak mau hadir mengadap Kompani Belanda, sebelumnya berita ini telah sampai di telinga Datu Landak, ini sangat bertentangan sekali dengan Datu Landak, tiada kompromi untuk Kompani Belanda bagi Datu Landak, selain dari itu dibelakang Gusti Kacil untuk melawan Kompani Belanda tidak lepas dari peran dan bantuan Datu Landak, ditambah lagi antara Datu Landak masih ada hubungan keluarga menurut kisah dari kakek saya Datu Landak sepupu Gusti Kacil ini sesuai juga dengan kitab Irsyyadiyyah yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman Siddik.

Dengan adanya latar belakang diatas tadi tidak mungkin bagi Datu Landak untuk menangkap Gusti Kacil untuk diserahkan kepada Kompani Belanda maka musyawaralah Datu Landak dan Gusti Kacil dengan perangkat Kesultanan di ikut sertakan tokoh keluarga maka diambil keputusan yang mana Gusti Kacil harus meninggalkan Banjar demi keselamatan Gusti Kacil dan menghindar dari pertumpahan darah lebih banyak, dalam perjalanan meninggalkan Banjar pada tahun 1864 empat orang putra terbaik Banjar meninggalkan Banjar yaitu Gusti Kacil, Datu Landak, Gusti Mustofa ( abang Gusti Kacil), dan seorang Hulu Balang, Gusti Mustofa abangnya Gusti Kacil ini sebagian lidahnya hitam, untuk mengungkap keturunan lidah hitam istri saya Hj. Gusti Sri Dewi Pertiwi sebagian lidahnya hitam, saya nikah dengan istri saya kawin keluarga (sepupu), istri saya cucu Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil, saya sendiri cucu dari Gusti H. Abdul Hamid bin Gusti Kacil, selain dari istri saya ada juga keluarga keturunan Gusti Kacil yang berlidah hitam.




Sewaktu meninggalkan Banjar, Gusti Kacil, Datu Landak, Gusti Mustofa dan seorang Hulu Balang, meraung lautan memakai sampan, dilautan sampannya pecah, dua orang terdampar di Banten, Pulau Jawa, Gusti Mustofa dan seorang Hulu Balang, dua orang Datu Landak dan Gusti Kacil terdampar di Muntok, Pulau Bangka, sesampainya di Muntok, terdengar dan kelihatan oleh Tumenggung Muntok, ada dua orang pendatang yang asing baginya, yang taat solat, dan pintar membaca ayat suci Al- Qur’an. Pada suatu hari ada seekor kerbau gila mengamuk tiada seorang pun masyarakat Muntok yang sanggup menangkapnya, turunlah Datu Landak dan Gusti Kacil untuk mengamankan kerbau yang mengamuk.

Dengan kesaktian Gusti Kacil dan Datu Landak, kerbau tersebut jinak dihadapan Gusti Kacil dan Datu Landak, saat berada di Muntok, di Muntok tidak aman banyaknya terjadi perampokan setiap malam maupun siang hari, dengan adanya kesaktian Datu Landak dan Gusti Kacil menjinakan kerbau Gila, maka ditugaskan lah oleh Tumenggung Muntok Datu Landak dan Gusti Kacil untuk menangkap perampok, perampok pun tertangkap, kota Muntok pun menjadi aman. Dengan adanya kesaktian Gusti Kacil dan Datu Landak mau diangkat menjadi Hulubalang Temenggung Muntok, namun tawaran ini ditolak oleh Gusti Kacil dan Datu Landak.




Kesaktian ini menurun pada almarhum Idam cicit daripada Datu Landak, Alm. Idam banyak kelebihannya, semasa hidupnya seandainya beliau ke Banjar selalu berdampingan dengan Alm. Guru Ijai (KH Muhammad Zaini), selain dari itu cucu Datu Landak alm. Ustad Muhammad Thaib ulama besar di Pangkal Pinang, Bangka. Cucunya Alm. H. Jamaludin Sidik ulama besar di Tembilahan, Riau. Demikian juga dengan cicitnya H. Anang Zainal Ilmi di Martapura, Banjar, pernah belajar dengan Guru Ijai (KH Muhammad Zaini), sebagai murid kesayangan guru Ijai garis keturunan H. Anang Zainal Ilmi sebelah bapak keturunan dari Gusti Kacil, dari sebelah ibu keturunan dari Datu Landak. Dari garis keturunan Gusti Kacil banyak juga menjadi ulama besar di Pangkal Pinang, Bangka. Cucunya Gusti Kacil Alm. H. Suhaimi ulama besar dan Imam Masjid Jamik di Pangkal Pinang, Bangka. Cicitnya Alm. H. Umar Idris di Puding Besar, Bangka. Cucunya Alm. H. Gusti Abdul Wahab di Enok Tembilahan, Riau, cicitnya Alm. KH. Hasan Basri ulama terkenal sebagai sesepu pondok pesantren Darus Salam Pangkal Pinang, Alm. H. Sahak, murid sekaligus keluarga Gusti Kacil yang ilmu kebatinannya tinggi banyak dikenal oleh masyarakat Bangka.



Di Muntok Gusti Kacil dan Datu Landak menjalankan dakwah tentang agama islam dari desa ke desa lainnya, sampailah Gusti Kacil dan Datu Landak di desa Puding Besar, sekarang menjadi kecamatan Puding Besar, selama 33 tahun di Pulau Bangka, Datu Landak pulang ke Banjar pada tahun 1897, sesampainya di Banjar, Datu Landak ikut serta membangun dan memancangkan empat tiang utama di Masjid Martapura, tinggal lah Gusti Kacil sendiri di Puding Besar, Gusti Kacil tetap menjalankan dakwah agama islam dari desa ke desa lainnya, di Bangka setiap desa yang dikunjunginya untuk berdakwah selalu ditawarkan anak gadis desa untuk dinikahi, di Bangka Gusti Kacil mempunyai empat orang istri, sebelas orang anak. Dimasa tuanya Gusti Kacil membuka lahan hutan, lahan hutan itu menjadi desa, desa itu diberi nama oleh Gusti Kacil desa Kotawaringin, di Bangka Gusti Kacil mengubah namanya menjadi Atok Majid, ini semua menghindar dari tangkapan Kompani Belanda.

Menurut kisah,Kompani Belanda sampai di Bangka mencari Gusti Kacil, sampai Gusti Kacil dan Datu Landak wafat, tidak terbongkar rahasia keberadaan Gusti Kacil dipulau Bangka.Gusti Kacil wafat di desa Kotawaringin pada tahun 1906, dalam usia 81 tahun, dikebumikan di desa Kotawaringin, di tanah Wakab Gusti Kacil, sekarang Desa Kotawaringin cukup maju dengan KK 665, dengan ibu kota kecamatan Puding Besar, jarak dari provinsi Babel Pangkal Pinang lebih kurang 65 Km, di desa Kotawaringin ini 30% penduduknya keturunan dari Gusti Kacil, di Bangka banyak sekali keturunan Gusti Kacil setiap pelosok maupun kota.




Gusti Kacil sewaktu meninggalkan Banjar membawa:



1. Sebilah keris pusaka dari Putri Junjung Buih ber lok sembilan, bergagang seperti kepala ular naga, dilapisi emas bertahta intan 99 biji, setiap malam jumat pusaka ini dimandikan dengan kembang dan dirabun (dihasapi ) dengan kayu garu.
2. Seperangkat Tape (kain) Putri Junjung Buih yang bermotifkan Sasirangan.
3. Sebuah tombak tapi sayang tombak ini sewaktu Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil wafat tidak tahu keberadaannya.

Apa saja peninggalan Gusti Kacil di desa Kotawaringin Bangka:




1. Rumah peninggalan Gusti Kacil pada saat ini telah diwariskan kepada cicitnya yang tidak terwat di karenakan usia yang sudah mencapai ratusan tahun.2. Surau (Musollah) sekarang menjadi masjid, dahulunya tempat Gusti Kacil mengajar dan berdakwah tentang agama islam.

3. Benteng pertahanan di Kotawaringin sewaktu Gusti Kacil bersama pejuang masyarakat sekitarnya melawan Kompani Belanda.



4. Makam Gusti Kacil di Kotawaringin dalam bahasa Banjar Atang-atang, dalam bahasa Bangka Galang Makam, dalam bahasa Riau Batur didatangkan dari Singapura dibawa oleh anaknya Gusti H. Abdul Samad, makam ini belum diberi gubah.
Keturunan Gusti Kacil yang ada di Sumatra masih melakukan tradisi seperti zaman dahulu di Banjar, sepasang pengantin sebelum hari pernikahannya memandikan (mandi pengantin), sebelum pernikahan pengantin wanita khatam Al-Qur’an terlebih dahulu (khatam Al-Qur’an), seorang perempuan yang telah bersuami, kehamilannya yang ketujuh bulan dimandikan (mandi tujuh bulan), setelah melahirkan anak berumur 40 hari ditepung tawarkan (tepung tawar).



Untuk perlengkapan upacara tradisi diatas disiapkan kembang tujuh macam, kue 40 macam, mayang pinang, kain kuning dan juga doa selamat.


Mengapa Syekh H. Abdurahman Siddik sampai ke Pulau Bangka?
Syekh H. Abdurrahman Siddik dilahirkan di Dalam Pagar, Martapura, pada tahun 1857 anak dari Syekh Muhammad Afif (Datu Landak), cucu dari Syekh H. Muhammad Arsyad Al- Banjary (Datu Kelampayan), sebelum melanjutkan belajar ke Mekkah, Syekh H. Abdurrahman Siddik lebih dulu belajar dengan pamannya, Pangeran KH. Muhammad As’ad, di Padang, Sumatera Barat.

Sepulangnya Syekh H. Abdurrahman Siddik dari belajar dan menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah pada tahun 1897 tibanya si Martapura Banjar, orang tuanya Datu Landak dan pamannya Gusti Kacil tidak ada Banjar, mendengar berita dari keluarga yang mana orang tuanya dan pamannya Gusti Kacil berada di Pulau Bangka, menyusul lah Syekh H. Abdurrahman Siddik ke Bangka pada tahun 1899, sebelum ke Pulau Bangka Syekh H. Abdurrahman Siddik singgah dulu di Batavia, sesampainya Syekh H. Abdurrahman Siddik di Pulau Bangka, orang tuanya Datu Landak sudah pulang ke Banjar ( selisih jalan), tinggal lah Syekh H. Abdurrahman Siddik bersama Gusti Kacil di desa Puding Besar, Bangka, di Pulau Bangka, Syekh H. Abdurrahman Siddik menjalankan misinya sebagai ulama berdakwa tentang agama islam dari desa ke desa lainnya di Pulau Bangka.


Setelah mendapatkan istri beberapa orang dan beberapa anak Syekh H. Abdurrahman Siddik menjalanka misi berdakwah tentang agama islam ke Riau, tepatnya di kota Sapat, Tembilahan, pada tahun 1912, di kota Sapat selain berdakwah Syekh. H. Abdurrahman Siddik juga membuka kebun kelapa di Parit Hidayat, lebih kurang 3Km dari kota Sapat, sekarang Parit Hidayat sudah menjadi desa Hidayat, Syekh H. Abdurrahman Siddik wafat di desa Hidayat pada tahun 1939, dalam usia 82 tahun.




Apa saja yang ditinggalkan Syekh. H. Abdurrahman Siddik di masa hidupnya?



1. Mimbar Masjid di desa Kembuja Bangka samapi saat ini masih terawat baik, didatangkan oleh Syekh H. Abdurrahman Siddik langsung dari Banjar.

2. Kitab-kitab yang langsung ditulis oleh Syekh H. Abdurrahman Siddik sebanyak lebih kurang 18 kitab, salah satunya kitab Amal Marifat.


3. Syekh H. Abdurrahman Siddik pernah menjadi Mufti Kerajaan Indragiri pada tahun 1919, selama 20 tahun sekarang Kerajaan Indragiri menjadi Kabupaten Rengat Riau.




4. Makam Syekh H. Abdurrahman Siddik di desa Hidayat Sapat, Kabupaten Tembilahan Riau, banyak diziarahi oleh penduduk Provinsi Riau, dari luar Riau, Malaysia, maupun Singapura.



5. Untuk mengenang jasanya sebagai ulama besar di Pulau Bangka, di desa Petaling Bangka, berdiri STAIN Syekh H. Abdurrahman Siddik yang sangat megah, saya sendiri pernah berkunjung kesana.

Mengapa Keturunan Gusti Kacil; Banyak Berdomisili Di Provinsi Riau Khususnya Di Kabupaten Tembilahan ?


Kota Sapat terletak di Kuala Indragiri sebelum masuk ke Kota Tembilahan, Kota Sapat terlebih dahulu dilalui, Pada tahun 1914 Kompani Belanda memasuki Kota Tembilahan berhadapan dulu dengan pejuang-pejuang masyarakat Sapat, dalam pejuang ini ikut serta Syekh H. Abdurrahman Siddik mempertahankan Kota Sapat di garis depan, pada waktu itu ada seorang keluarga pulang ke Bangka, dititiplah pesan supaya Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil datang segera ke Kota Sapat untuk membantu Syekh H. Abdurrahman Siddik dalam menghadapi Kompani Belanda (penjajah), di Kota Sapat, ini wajar saling bantu-membantu antar keluarga, selain dari itu Syekh H. Abdurrahman Siddik berpesan pada Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil dikota Sapat tanahnya subur untuk ditanam kelapa, pada tahun1915 datanglah Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil dikota Sapat untuk membantu Syekh H. Abdurrahman Siddik menghadapi peperangan dengan pasukan Kompani Belanda.


Pada tahun 1918 Gusti H. Abdul Samad menyempatkan diri pulang ke Bangka, tidak lama di Bangka Gusti H. Abdul Samad kembali lagi ke Sapat membawa adik-adiknya Gusti H. Abdul Hamid, Gusti Hj. Jamaliah, Gusti Hj Amnah, dan beberapa orang keluarga lainnya, dengan adanya adik-adiknya yang sudah ada dikota Sapat, Gusti H. Abdul Samad sudah resmi menjadi penduduk asli Sapat, tidak lama berselang banyak keluarga yang menyusul dari Bangka datang ke Sapat, semua ini dikarenakan mendengar kabar yang mana dikota Sapat tanahnya subur untuk ditanam kelapa. Untuk mengembangkan kebun kelapa dikota Sapat, Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil membuka lagi lahan hutan untuk ditanam kelapa, tepatnya lebih kurang 20Km dari Kota Sapat, hutan menjadi desa, desa itu diberi nama desa Enok, sekarang menjadi Kecamatan Enok.


SELESAI