HIGHLIGHT

Mudik

02 Agustus 2013 15:33:00 Dibaca :

Cerpen Agus Pribadi



"Assalamu'alaikum. Aku pulang, Bu." Ibuku diam saja. Perempuan yang telah melahirkanku 25 tahun yang lalu itu tetap sibuk dengan mengiris ketupat janur dan mengguyurnya dengan kuah opor ayam yang menguarkan bau sedap.

"Ibu marah denganku? Apa karena hampir setahun di kota aku tak berkirim kabar?" Ibu tetap diam. Memunggungiku, tak mau mendengar ucapanku.

"Aku sibuk, Bu. Aku harus mencapai target penjualan yang ditentukan perusahaan. Hidup di kota besar tidak mudah, Bu. Harus menaklukkan jalanan yang macet dan penuh debu. Harus memenangkan persaingan hidup." Aku membela diri di hadapan ibu.

Air mataku membanjir seiring bunyi takbir, tahlil, dan tahmid yang mulai terdengar dari masjid ujung kampung. Ibu tak menganggapku lagi. Anak lelaki bungsunya yang dulu selalu dimanjanya.

Aku terduduk di ambang pintu belakang. Ibu hanya melewatiku menuju ke sumur mengambil air wudhu. Ibu kembali melewatiku menuju ke ruang pesolatan. Aku merasa seperti daun kering yang dijatuhkan oleh dahan kokoh yang tak lagi membutuhkanku. Suasana itu membawa lamunanku pada perjalanan mudikku tahun ini.

"Gus, kamu pulangnya naik bis saja. Jangan naik sepeda motor. Naik bis lebih aman, Gus."

"Ibu minta dibelikan apa?"

"Apa saja boleh, Gus. Yang penting kamu selamat sampai di rumah dan bisa berkumpul dengan keluarga di hari lebaran nanti."

Sebenarnya aku ingin mudik dengan sepeda motor baruku. Sepeda motor yang kubeli dengan jerih payahku sendiri. Aku ingin menunjukkan pada seorang gadis di kampungku yang telah memutuskan hubungan cintanya denganku, bahwa aku kini telah sukses dan mandiri. Aku bukan lagi lelaki cemen yang dikatakannya dulu. Meski aku yakin dia tetap akan berpaling dariku. Karena aku pernah mendengar kabar dia akan menikah dengan lelaki lain yang kaya raya di akhir bulan syawal.

Akhirnya aku menuruti ucapan ibu lewat telfon itu. Aku pulang naik bis. Mudik lebaran yang sudah sangat kunanti. Aku sudah kangen dengan suasana kampung. Suasana santai tanpa dibebani target penjualan dan penjualan. Tanpa ada tekanan dari atasan.

Bekerja di bidang marketing memang selalu dikejar target penjualan. Meski tak dipungkiri penghasilanku lumayan bisa untuk merehab rumah ibuku. Bisa juga untuk membeli perabot rumah tangga yang sepanjang umur ibuku sampai melewati usia 60 tahun belum pernah dimilikinya. Seperti kulkas, kursi sudut, dan barang-barang lainnya. Aku ingin memberi kejutan pada ibu.

Bis yang aku tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi saat jalan tidak terlalu macet seperti beberapa saat sebelumnya. Pada sebuah tikungan, bis menghindari sebuah mobil yang berpapasan. Mengakibatkan bis terlalu menepi dan menabrak pembatas jalan dengan sebuah jurang. Suara jerit dan tangis anak-anak, perempuan dan lelaki mengiringi terjun bebas bis ke jurang. Entah berapa lama semua menjadi gelap. Saat membuka mata aku melihat lautan darah dalam bis. Aku bangkit melewati tubuh-tubuh bergelimpang tak berdaya. Entah bagaimana caranya aku bisa naik ke atas padahal jurang itu sangat dalam. Aku naik bis lain yang menuju ke kampungku.

Aku bangkit dari duduk. Menuju ruang tengah. Ada foto almarhum ayah di dinding. Ada kursi renta di depan sebuah televisi 14 inchi yang gambarnya sudah kabur. Televisi kesayangan ayah dulu. Ayah akan betah berlama-lama di depan layar televisi, terlebih saat ada pertandingan sepak bola dunia.

Aku menuju kamarku. Ada tempat tidur dengan kasur dan seprei yang sama seperti dulu saat aku masih kuliah. Ada meja belajar yang sudah mulai lapuk. Meja belajar yang dulu menemani malam-malamku merajut cita-cita menjadi seorang sarjana.

Aku menuju ruang tamu. Ruang sederhana dengan kursi-kursi dan meja sederhana. Aku menuju ke halaman depan rumah. Melihat pohon rambutan yang dihuni banyak ulat-ulat. Pohon rambutan peninggalan almarhum ayah. Pohon rambutan yang dulu setiap lebaran berbuah dan menjadi hidangan favorit. Namun kini pohon renta itu tak berbuah lagi.

Ketika kembali ke dapur, aku melihat ibu yang sedang makan opor ayam bareng kakak perempuanku. Aku mendengar percakapan mereka.

"Enak sekali opornya, Bu."

"Jangan memuji seperti itu."

"Benar kok, Bu. Enak sekali. Andai ada Bagus, pasti aku akan berebut dengannya menghabiskan opor ini."

"Mungkin bis yang ditumpangi Bagus macet. Pemudik kan banyak sekali. Mereka berebut untuk sampai ke rumah masing-masing."

"Iya Bu. Bagus pulangnya telat juga tak apa-apa yang penting sampai di rumah dengan selamat."

"Iya, harapan kita tentu demikian. Bisa berkumpul bersama. Kita sudah kehilangan ayahmu. Sejak itu, makna pertemuan dengan keluarga menjadi sangat dalam bagiku. Mungkin itu juga yang menjadi alasan banyak orang merelakan berdesak-desakan untuk mudik ke kampung halaman."

Aku ingin mendekap ibu meski tak menganggapku lagi. Dengan mendekapnya, aku yakin hati ibu akan luluh.

Saat ibu bangkit dari kursinya, aku menghampirinya. Tanganku aku rentangkan dan bersiap mendekap ibu. Aku hampir terjatuh. Tubuh ibu tak mampu aku dekap. Aku hanya mendekap angin.

Aku berusaha lagi mendekap ibu. Tetap saja hanya angin yang kudekap.

"Jadi, aku sudah mati?" Aku sesenggukan.(*)

Banyumas, 2 Agustus 2013

Agus Pribadi

/aguspribadi1978

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Mencoba menghayati kehidupan dan menuliskannya dalam cerita-cerita sederhana. Kunjungi juga tulisan saya di http://aguspribadi1978.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?