HIGHLIGHT

Diran Si Penggembala Kerbau

05 Oktober 2013 18:04:24 Dibaca :

Cernak Agus Pribadi

Baru saja aku membalikkan badan, tiga sosok tubuh orang dewasa menghadangku.

“Diran...Diran...Diran...!”

Hari ini hari pertama aku kembali bersekolah di kelas lima SD. Teman-teman mengelu-elukanku layaknya seorang pahlawan.

Sejak aku memutuskan tidak bersekolah. Aku banyak menghabiskan waktu untuk menggembalakan kerbau milik kakek. Beberapa hari aku tidak bersekolah, aku mendengar kabar dua buah komputer di gedung sekolah di mana aku pernah belajar di sana raib dirampok. Beberapa hari kemudian satu unit komputer di kantor kepala desa juga raib dirampok.

Aku sangat geram mendengar kabar itu. Meski aku tak lagi belajar di sana, aku masih mempunyai rasa memiliki sekolahku. Aku masih menganggap bu Serli dan guru lainnya sebagai ibu dan bapak guruku. Aku masih menganggap teman-teman sekolahku sebagai sahabat-sahabatku semua. Terlebih setelah aku menolong bu Serli dari orang jahat, mereka sering singgah ke rumahku. Berdirinya sebuah jembatan yang idenya dari kakek juga membuatku banyak teman anak-anak di kampung. Mereka senang bermain-main denganku. Hal itu membuatku ingin menyelidiki sebenarnya siapa yang telah merampok komputer di sekolah dan kantor kepala desa.

***

Sore hari sembari menggembalakan kerbau di tepi sawah, aku duduk-duduk sambil meniup seruling. Aku suka menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan guruku sewaktu sekolah dulu. Saat menyanyikan lagu ketiga, aku dikejutkan dengan gelagat mencurigakan tiga orang yang mengendap menuju ke balik bukit di ujung desa.

Aku mengikuti mereka bertiga dari kejauhan. Mereka menuju ke sebuah gubuk yang berdiri sendiri di balik bukit. Aku mengamati dari jauh. Aku berniat akan kembali lagi nanti malam. Aku ingin menyelidiki siapa sebenarnya orang asing itu. Orang yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

***

Malam hari. Kakek dan nenek sudah menuju ke alam mimpi. Melalui pintu belakang, aku mengendap menuju gubuk di balik bukit. Aku membawa senter milik kakek yang biasa digunakan untuk pergi ke sawah di malam hari.

Melalui tegalan sawah aku mengendap menuju balik bukit. Di tengah sawah, aku berpapasan dengan ketiga orang asing itu. Aku dihardik oleh salah seorang dari mereka yang berkepala pelontos dan bertubuh tinggi kekar. Sementara dua orang lainnya bertubuh kurus hitam.

“Hei anak ingusan! Sedang apa kamu malam-malam begini di tengah sawah!”

“Aku sedang mencari katak hijau. Aku disuruh kakek menangkapnya sebanyak lima ekor.”

“Hati-hati kamu. Nanti dipatuk ular berbisa!” seru orang yang bertubuh kurus hitam dan berambut keriting.

“Iya, terimakasih.” Aku berpura-pura menyelidik di tepi tegalan sawah seperti orang yang sedang menguntit katak hijau. Kebetulan ada katak hijau di depanku, tanpa pikir panjang aku menubruknya. Ketiga orang itu berlalu dari hadapanku.

Aku bergegas menuju ke gubuk di balik bukit. Aku merasa senang karena aku bisa masuk ke gubuk yang telah ditinggal oleh penghuninya itu.

Sesampai di depan sebuah gubuk, aku langsung masuk ke dalamnya. Aku terbelalak. Tiga buah komputer berada di dalamnya. Aku melihatnya setelah menyingkap daun-daun pisang yang digunakan untuk menutupinya.

Ini pasti komputer milik sekolah dan kantor kepala desa. Aku harus melaporkannya kepada hansip di kampungku. Batinku.

Baru saja aku membalikkan badan, tiga sosok tubuh orang dewasa menghadangku.

“Hei anak ingusan! Katanya mau mencari kodok hijau, ternyata mau jadi sok pahlawan ya!” bentak orang yang berkepala pelontos. Ia mengayunkan tinjunya ke arah perutku. Spontan aku membungkukkan tubuhku. Pukulannya mengenai batok kepalaku.

Plakkk!!! Seperti suara batu yang dipukul. Si kepala plontos meraung kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Gilian si rambut keriting yang maju aku menyambutnya dengan menyeruduknya.

Bukkk!!!

Perutnya aku sodok dengan batok kepalaku. Ia terpental, kemudian meraung sambil memegangi perutnya.

Giliran orang yang berambut panjang maju. Kepalanya diikat dengan kain hitam layaknya seorang jagoan silat. Gerakan tubuh kurusnya seperti sedang memainkan salah satu jurus silat asli Indonesia. Tangannya menyerang kepalaku. Aku membiarkannya mengetuk batuk kepalaku.

Plakkk!!!

Tangannya seperti memukul tempurung kelapa yang sangat keras. Sepertinya jari-jari tangannya sangat kuat sehingga ia tidak mengibas-ngibaskan tangannya. Aku ambil ancang-ancang seperti seekor kerbau yang akan menyerang lawannya. Aku membidik perut tipisnya.

Dukkk!!!

Si rambut panjang terpental. Ia pun meraung sambil memegangi perutnya. Si kepala plontos aku seruduk sebelum ia menyerangku. Ia pun jatuh terduduk sambil memegangi perutnya. Raungannya memecah kesunyian malam.

“Tangkap...tangkap...tangkap!” Orang-orang berdatangan mengetahui keributan yang sedang terjadi. Di sana juga ada kakek. Barangkali kakek yang telah mengajak orang-orang kampung untuk mengikutiku.

Ketiga orang asing itu pun ditangkap warga, kemudian digelandang ke balai desa. Sebagian orang kampung membawa tiga buah komputer yang ada di dalam gubuk. Sesampai di balai desa aku dielu-elukan layaknya seorang pahlawan. Namun sebenarnya aku tak ingin dianggap sebagai pahlawan, aku hanya ingin mengetahui siapa sebenarnya yang telah mencuri komputer-komputer itu.

Setelah kejadian itu, bu Serli membujukku untuk kembali bersekolah. Aku pun mengangguk tanda setuju.[]

Banyumas, 5 Oktober 2013

Agus Pribadi

/aguspribadi1978

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Mencoba menghayati kehidupan dan menuliskannya dalam cerita-cerita sederhana. Kunjungi juga tulisan saya di http://aguspribadi1978.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?