Fandi Sido
Fandi Sido swasta/hobi

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta, dan kawin. | @FandiSido

Selanjutnya

Tutup

Media headline highlight

Media: Mengenali “Jebakan Klik”

27 April 2014   21:20 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:08 1370 0 0
Media: Mengenali “Jebakan Klik”
Ilustrasi (hub.uberflip.com)

[caption id="" align="aligncenter" width="580" caption="Ilustrasi (hub.uberflip.com)"][/caption]

Di dunia jurnalistik Amerika dan Eropa, istilah clickbait (umpan klik yang kemudian dimaknai sebagai ‘jebakan klik’) sudah mencuat dua tahun terakhir. Terutama sejak media online The Guardian memuat artikelnya “In Defence of Clickbait”, bertebaran banyak kritik tertulis atas upaya beberapa media internasional “menjebak” pembaca mereka untuk membuka tautan berita, dengan semata-mata mengandalkan judul sensasional.

Di era berita digital, istilah “jebakan klik” diartikan sebagai judul-judul artikel berita atau opini yang umumnya tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan di bagian isi tulisan. Dengan sepenuhnya bergantung pada rasa penasaran orang yang membaca judul artikel tertentu, media tidak jarang sengaja menaruh “kata-kata sakti” tertentu di bagian judul, meski terkesan berlebihan dan dianggap kebohongan, bahkan penipuan konten.

Sejak teknologi hyper-text markup language (HTML) mengakomodasi kepentingan optimasi mesin mencari --yang jadi tumpuan bisnis media online, cara-cara untuk berlaku kotor dengan irelevansi judul artikel jadi semakin mudah dan viral. Terlebih saat media membuka peluang publik nonjurnalis memuat konten mereka sendiri. Lalu, apa dan bagaimana sebenarnya jebakan klik ini bekerja?”

Meskipun termin clickbait baru merebak di dunia jurnalistik Amerika sekira lima tahun terakhir, namun praktik penggiringan atensi pembaca seperti ini sebenarnya bermula jauh sebelum itu.

Pada 1888, di koran Amerika New York World muncul “Yellow Kid Cartoon” yang memarodikan seorang anak laki-laki berpakaian jubah kuning, yang di badannya tertulis serangkaian kata saat mengunjungi teman perempuannya. “Perkataan” di baju si anak kuning perlahan-lahan mulai berubah-ubah seiring anak perempuan itu mendekati pintu untuk menyambutnya, mulai dari mula-mula ingin memberi kejutan, bersemangat, kemudian saat di depannya sudah berdiri Liz --anak perempuan itu--, ekspresi si anak kuning berubah sama sekali kemudian pergi.

Menarik perhatian pembaca, seri kartun “Yellow Kid”  kemudian dilanjutkan pemilik New York World Joseph Pulitzer, yang waktu itu berusaha mati-matian mengatasi persaingannya dengan New York Journal. Momen inilah yang dalam sejarah media berita modern disebut-sebut sebagai cikal bakal istilah Yellow Journalism atau yang di Indonesia dikenal dengan istilah koran kuning (sumber).

Praktik “koran kuning” yang berlanjut ternyata membawa reaksi berantai di era media digital. Jika di masa pra-internet koran-koran kuning menjelajah lewat gerai-gerai tepi jalan, kereta api dan pemasaran mulut-ke-mulut, di era Google praktiknya semakin menjadi, membanjiri kanal-kanal internet dengan konten yang secara teknis membutuhkan hanya dua hal dari pembaca: akses koneksi, dan rasa penasaran (curiousity).

Yang terjadi kemudian, pasar bergerak ke arah kecenderungan perilaku mental pembaca media modern ini. Ketika Anda membuka laman berita atau blog dan melihat judul yang membuat Anda penasaran, maka di situlah persuasi klik mulai bekerja. Ketika judul post terbaca mencengangkan atau sulit dipercaya, mungkin memang kontennya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Jurnalis dan editor Annalee Newitz menulis:

Clickbaitis thelowest form of social mediajournalism, full of sensationalized headlines, grumpy cats, and awful personal confessions.” (A History of Clickbait, i09.com)

Maka dinilai sebagai “bentuk paling rendah dari jurnalisme media sosial” (merujuk pada era berita internet sejak 1995), kritik terhadap jebakan klik bertumpu pada inkonsistensi media dan atau penulis berita dalam menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang sejatinya jujur, apa adanya, dan bebas dari tendensi.

Secara umum judul-judul artikel yang terindikasi jebakan klik bisa diketahui setelah membaca kontennya.

Biasanya, konten-konten yang disajikan tidak sesuai fakta, dan atau tidak mencakup data yang cukup, apalagi berisi pandangan pribadi yang sangat subjektif, sangat mudah dikatakan sebagai artikel pribadi dan tidak mengandung pertanggung jawaban jurnalistik atau media sosial. Meski dalam praktiknya konten-konten seperti ini pun punya pembaca tersegmen sendiri, tidak jarang artikel-artikel seperti ini diumpamakan infotainment, berita yang bukan berita, atau “informasi yang tidak menjelaskan”. Lebih kerjam lagi, kelompok tulisan semacam ini kemudian dianggap melahirkan istilah “artikel sampah”.

Meski demikian, ketika berbicara jurnalisme online yang sangat bertumpu pada kekuatan judul, perbedaan “tulus dan dusta” sebenarnya cukup kasat mata. Secara teknis, ada beberapa ciri yang bisa dikenali ketika judul tulisan Anda, atau media yang Anda baca, bisa jadi merupakan jebakan klik:

  • Menggunakan judul mencengangkan/sensasional. Cara ini biasa ditempuh dengan memelintir judul sedemikian rupa semata-mata agar terkesan heboh, padahal kontennya biasa saja.
  • Judul yang tidak sesuai isi (misleading). ·Ketika ada berita berjudul “Ini dia Cawapres Pilihan Jokowi” padahal dalam faktanya partai PDI-P saja belum berbicara apa-apa, maka judul artikel tersebut dikategorikan misleading, atau kasarnya menyesatkan pembaca. Sama halnya dengan tulisan “Begini Cara Memuaskan Wanita” yang memanfaatkan dorongan orientasi seksual pembaca, meski isinya hanya membahas tas, bioskop, dan gadget.
  • Menggunakan kata-kata bombastis. Penggunaan kata-kata atau frasa tertentu seperti ‘Wow!’, ‘Heboh!’, atau ‘Jangan Baca Ini!’ termasuk kategori jebakan klik. Tidak jarang berita-berita “wow” tersebut sebenarnya berisi informasi yang biasa saja, tidak berdasar fakta, bahkan pandangan pribadi. Belakangan, media sosial bahkan menggunakan “Breaking News” dan “Stop Press” untuk isi tulisan yang sebenarnya tidak benar-benar penting.
  • Kurang Data. Sebaiknya jika memungkinkan mencari banyak alternatif berita atau artikel, selalu andalkan tulisan-tulisan yang memuat data, grafik dengan sumber jelas lebih baik. Di luar kolom berita, ada perbedaan jelas antara artikel Opini dengan Suara. Artikel opini selalu melandaskan argumentasi dengan fakta dan data, sementara Suara ya… ibarat suara pembaca, akrab dengan kata-kata “menurut saya” atau “seharusnya”, tidak jarang dibubuhi banyak tanda seru (!).
  • Mengundang minat segmen pembaca tertentu. Pernah membaca judul-judul artikel dengan bubuhan tanda-tanda ini: (18+), (Khusus Dewasa), atau (Yang Merokok Jangan Baca!)? Pada kenyataannya, artikel-artikel publik semacam ini tidak bisa mengatur siapa yang membaca dan apa yang dibacanya.
  • Judul dilebih-lebihkan. Cara ini termasuk yang paling sering digunakan; biasanya akrab dengan kata-kata seperti ‘tercantik’, ‘terkaya’, ‘paling’, semua kata superlatif. Di dalam isi artikelnya, “orang itu” tidak benar-benar paling cantik/kaya.
  • Tanda kutip. Pasti sering Anda menemukan judul berita dengan kata-kata bertanda kutip (“..”). Menelikung prasangka pembaca dengan berita yang tidak sebenarnya. Mungkin dimaksudkan untuk memunculkan arti kiasan pada judul, tapi cara ini tidak selalu  berhasil. Segmen pembaca yang terbagi-bagi dari cerdas, kurang cerdas, hingga pembaca pemula memungkinkan terjadinya jebakan berita.
  • Elipsis. Penggunaan tanda baca elipsis (…) biasanya muncul di berita-berita koran Indonesia yang akrab dengan kata ini: asal. “SBY Setuju jadi Cawapres, asal…”. Meski jenis judul berita ini tidak selalu bertujuan menjebak pembaca, tetap ada kesan editor memanfaatkan rasa penasaran pembaca, bahkan ketika “jawaban” yang dimaksud di isi berita hanya berupa candaan.

Jadi pada intinya, jebakan klik di tulisan-tulisan online memang bertumpu pada bentuk judul, pemilihan kata dan tanda baca, serta kualitas penulisan isi yang berbobot ataukah tidak.

Ada banyak pula artikel-artikel yang menggunakan satu-dua ciri di atas, tapi tidak menjebak pembacanya. Ketika isi konten berita/artikel membenarkan judul, maka sebombastis apapun judul tersebut, struktur jurnalistiknya terbentuk.

Cobalah baca judul-judul berita yang tautannya tercantum berikut. Berita ini diambil dari beberapa media online Indonesia, nasional dan lokal, diakses 27 April 2014, dari pukul 07.00 sampai 13.16 WIB. Apakah mereka menjebak, atau jujur?

  • Brad Pitt Dikelilingi “Wanita Telanjang” . Rubrik Showbiz, Viva.co.id -- Yang Anda bayangkan mungkin suami Angelina Jolie ini benar-benar sedang menghadiri pesta tari telanjang, atau Anda berpikir ia berhadapan dengan bayi perempuan tidak pakai celana. Tapi silakan baca beritanya yang seputar pameran seni fotografi di Los Angeles.
  • Honda City sumbang 40% dari Total Penjualan Honda”. Rubrik Otomotif, Tempo.co -- Dalam isi beritanya, yang dimaksud dengan ‘total penjualan Honda’ bukanlah total penjualan seantero produk Honda, tapi hanya produk mobil. Padahal munculnya kata ‘total’ di sana mengesankan sebaliknya.
  • Subsidi BBM Tekor, Mobil Murah Dievaluasi”. Rubrik Otomotif, Tempo.co -- Dalam hal ini editor Tempo luput menyantumkan ‘bikin’ (Tekor). Pembaca kalangan menengah bisa mengartikan bahwa subsidi BBM dikurangi, alih-alih pengertian sebenarnya bahwa pemerintah merugi akibat kebijakannya sendiri.
  • Virgin Air, Maskapai Punya Orang Terkaya Inggris. Rubrik Finance, Detik.com -- Saat Anda membaca judul ini, mungkin Anda akan berpikir bahwa pria pirang memegang model pesawat Boeing di foto headline tersebut adalah taipan dengan uang terbanyak nomor satu di Negeri Ratu Elizabeth. Di isi beritanya, Sir Richard Branson ditulis sebagai orang terkaya ke-8 dengan nilai kekayaan sebesar “hanya” 5 juta dolar Amerika.
  • Di Dunia Kerja, 30% Lulusan SMK Terserap. Rubrik berita Semarang, Suaramerdeka.com -- Ketika membaca kata ‘Dunia’, mungkin Anda berpikir bahwa angka 30% itu sangat besar, bahkan mungkin terlalu besar. “Sungguh tingkat serapan yang tinggi!” Tapi percayalah, statistik itu hanya mencakup (bahkan bukan wilayah Jawa Tengah) sekolah-sekolah di kota Semarang. Berapa jumlahnya itu?
  • Selingkuh Bikin Bahagia. Rubrik Wanita, Suaramerdeka.com -- Nah ini dia jenis artikel yang menarik hits tinggi, bikin banyak pria dewasa tersenyum bangga, sekaligus para wanita makin curiga. Bisakah Anda beritahu apakah informasi di judul tersebut fakta, ataukah hanya satu dari banyak butir hasil survey yang bisa diperdebatkan?
  • Pesawat Virgin Australia “Dibajak”. Topik Pilihan Kompas.com - Lahir dari grup media terbesar, ternyata Kompasdotcom masih senang menggunakan cara-cara "menggelitik". Sudah ketahuan bahwa berita pembajakan dengan tersangka gangguan penerbangan Matt Cristopher Lockley terbukti “hanya” mabuk dalam penerbangan dan dibebaskan dari tuduhan terorisme. Bahkan di berita lain Kompas.com menulis “Unsur Pembajakan Pesawat Virgin Australia Tidak Terpenuhi”, menyangkal breaking news-nya sendiri.

Ada beberapa teknik “jebakan klik” lain yang dipakai media, meski beberapa di antaranya mungkin tidak termasuk, seperti penggunaan tanda tanya (?) di akhir judul untuk berita-berita yang belum terkonfirmasi. Atau kata-kata “diduga”, “dinilai”, dan “dianggap” yang pada faktanya hanya merujuk pendapat orang atas sebuah isu atau fakta yang sebenarnya. Upaya penggiringan opini pembaca bisa mulai diungkit dari sisi ini.

Kalau kata kolumnis Mediaite Luke O’Neil “tidak ada hal memalukan atau tidak etis jika berupaya sekeras mungkin menarik atensi pembaca ke artikel Anda. Hanya saja pikiran ini tidak menutup kemungkinan Anda menggunakan cara “paling licik” dari esensi penjebakan itu sendiri.”

Sementara itu, mantan wartawan senior Harian Kompas almarhum Rosihan Anwar pernah berujar soal Quality Newspaper dan Popular Newspaper. “Anda bisa jadi popular, tapi belum tentu berkualitas,” kata Rosihan mengumpamakan koran-koran kualitas sebagai konsumsi masyarakat kelas tengah di perkotaan, dan koran kuning yang sangat digemari orang-orang berpendidikan rendah di desa.

*