HIGHLIGHT

Soal Radikalisme, PDI Perjuangan Jagonya

17 Mei 2012 11:13:03 Dibaca :
Soal Radikalisme, PDI Perjuangan Jagonya
TB Hasanudin PDI P (rri.co.id)

Follow Me : @assyarkhan

Peringatan yang dinyatakan Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDIP, TB Hasanudin kamis (17/5/2012) tentang sikap pemerintah yang meremehkan perkembangan paham radikalisme menurut Penulis hanya sedang memperingati Partainya sendiri. Sebagaimana diberitakan sebelumnya TB Hasanudin merilis pernyataanya kepada Kompas “Semakin toleran aparat pemerintah, terutama polisi, pada radikalisme maka semakin luas 'kondisi juang' yang terbentuk. Bukan tidak mustahil akan muncul daerah-daerah radikal tertentu. Penahapan menuju ke sana sudah berhasil terjadi di beberapa daerah di Indonesia sekarang," ujar Hasanuddin. (Kompas.com)

Penulis melihat pernyataan ini seharusnya bukan ditujukan kepada Gerakan Islam karena Islam tidak mengenal Istilah Radikal dan Liberal kecuali orang-orang yang sengaja ingin mengadu domba Ummat Islam. Penulis melihatnya peringatan ini sebaiknya ditujukan untuk Partai yang saat ini TB Hasanudin berda yaitu PDI Perjuangan. PDI Perjuangan sangat dikenal memiliki kader radikal dan bahkan bersikap arogan terhadap pesaing-pesaing politiknya.

Penulis mengkhawatirkan terorisme itu justru muncul dari kader-kader politik seperti ini karena doktrin marhaenisme, sosialisme dan sebagainya, sama parahnya dengan faham-faham sekulerisme dan liberalism yang ada.

Bukan rahasia umum lagi jika sikap-sikap supporter PDIP terkadang lebih suka melakukan hal-hal yang tidak rasional seperti Cap Stempel Darah atau Cap Jempol Darah untuk “memaksakan” dukungannya. Sikap arogan seperti inilah yang menurut Penulis membuat banyak orang tidak simpatik. Lihat saja bagaimana gagalnya Agum Gumelar pada kancah Pilkada Jabar 2008, Saat itu diusung oleh PDIP.

Setelah Pilkada jabar berlangsung dan KPU menyatakan HADE Pemenangnya, Saya mencoba menanyakan kepada beberapa tokoh agama di daerah Saya mengapa Agum Gumelar kalah telak di daerah pemilihan daerah dimana Saya tinggal, beberapa tokoh menjawab “Masalahnya PDI-P Sich, kalo Agumnya tokoh Nasional yang bagus Sayangnya di usung PDIP” kata para tokoh tersebut. Kemudian Penulis bertanya kepada mereka “Memang Kenapa dengan PDIP” semuanya memberikan jawaban serupa “Partainya arogan dan suka memaksakan kehendak, dukungan kadernya lebih banyak tidak rasional” Itu yang Penulis dengar dari mereka.

Penulis melihat gejala inipun terjadi pada dukungan terhadap Joko Widodo (Jokowi) pada Pilkada DKI Jakarta 2012 sekarang, dimana Sosok Jokowinya sangat bagus tetapi oleh karena di usung PDIP maka opini yang terbangunpun akan sama bahwa gara-gara PDI-P justru Jokowi tidak terpilih. Hal ini Penulis temukan di salah satu bunyi Tweep yang mengomentari Pasangan Jokowi-Ahok berikut ini :

13372514661520693665

Artinya, Radikalisme yang justru berbahaya adalah radikalisme yang dibangun oleh PDI P. Radikalisme yang dibungkus dengan “Nasionalisme” ini sangant tidak pas dengan kondisi Indonesia yang berlandaskan Pancasila ini.

Golongan yang fanatik radikal yang dibungkus “Suku” dan “Nasionalisme” palsu ini sangat membahayakan keamanan Negara. Kalau PDI tidak melakukan pendidikan Politik dengan benar maka dimasa mendatang Negara Indonesia tidak lebih dari sekumpulan Preman.

Salah satu bukti radikalisme di PDIP yang hingga hari ini membudaya adalah “Cap Stempel Darah” dan “Cap jempol Darah”. Hal ini sudah banyak yang tahu, Penulis melihat membangun Politik yang rasional tidak bisa seperti ini karena ini adlah bentuk perilaku Irrasional dan terkesan memaksaan kehendak. Anda masih ingat bagaimana pencalonan Megawati menjadi Presiden semua kader membubuhkan DARAHnya untuk Megawati, kemudian saat megawati diminta untuk datang ke KPK untuk memberikan kesaksian kembali kader PDI Perjuangan dengan radikalnya membuat Gerakan Stempel Darah untuk Tolak KPK Panggil Megawati, Jadi ingat pernyataan Tukul “Opooo Ikiiii”.

Dan belum lama ini bahkan sampai minggu-minggu ini Penulis masih mendapatkan ancaman dari Pendukung PDIP dan Jokowi karena tulisan-tulisan yang memberikan kritik dan bagi yang melihatnya Positif akan menjadi Positif tetapi tidak dengan kelompok radikal PDI-P dimana Penulis diberikan ancaman “Pembunuhan” bahkan jika menyatakan Jokowi akan kalah dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 ini. Menurut SMS yang Saya terima Jokowi tidak boleh kalah dan siapapun yang menghalangi Jokowi untuk memimpin Jakarta maka akan merasakan akibatnya. Penulis kembali ingin bertanya “Opoo Ikiiii”

Jadi, Untuk TB Hasanudin Wakil Ketua Komisi I dari PDIP DPR RI perlu dingat adalah Radikalisme itu sesungguhnya ada di tubuh PDI P sendiri. Jangan tuding kesana kemari padahal di organisasi sendiri tumbuh pesat paham-paham yang membutakan mata hati tersebut.

Sumber :

PDI P : Jangan Remehkan Paham Radikalisme

Cap Jempol Darah Kultur Di PDI-P Cap Jempol Darah Untuk Dukung Megawati

Kader PDI P Banyumas Buat Aksi Cap Jempol Darah Tolak KPK Panggil Megawati

Kader PDI P Cap Jempol Darah Lawan Pemerintahan SBY Tolak Pendaftaran Agung, Kader PDI P Cap Jempol Darah Massa PDI P Sidoarjo Gelar Cap Jempol Darah Kader Gelar Aksi Cap Jempol Darah Bagi Megawati

Kader PDI P Jabar Cap Jempol Darah Dukung Megawati

Bandung, 17 Mei 2012

@assyarkhan

Adi Supriadi

/adisupriadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Writer, Trainer & Public Speaker. Working as HR Manager Di Perusahaan Penanaman Modal Asing Jepang.
"Dunia ini adalah tempat bekerja bukan tempat menerima pahala dan Akhirat itu tempat menerima pahala bukan tempat bekerja, maka bekerjalah ditempat yang tidak ada pahala untuk tempat yang tidak ada pekerjaan "(Assyarkhan)

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?