Jakarta Membutuhkan Gubernur yang Inovatif

28 Mei 2012 10:39:35 Dibaca :
Jakarta Membutuhkan Gubernur yang Inovatif
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan Sebagai Tokoh Perubahan 2011 Republika (puijabar.com)

Follow Me : @assyarkhan

Dalam menjalankan kepemimpinanya, seorang Gubernur seringkali menghadapi berbagai kendala, konflik atau kejenuhan yang harus segera dicarikan solusinya. Terkadang hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan dan bahkan bisa membuat seorang pemimpin merasa terombang-ambing. Suatu hal yang cukup menakutkan apabila membayangkan yang akan terjadi pada awak kapal kalau nakhodanya kehilangan arah dan tidak tahu kearah mana sang kapal akan melaju?

Jika situasi ini terjadi pada sebuah kepemimpinan setingkat Provinsi, maka cepat atau lambat kelangsungan reformasi birokrasi akan terancam. Umumnya hal tersebut terlihat ketika Gubernur tak lagi lantang menyuarakan visi dan misinya, tujuan kepemimpinanya semakik kabur dari hari keharinya dan Penulis yangkin laju pertumbuhan disegala bidang semakin lambat bahkan jalan ditempat.

13382008991341140226
Prestasi Jabar 2011 (Pemrovjabar.co.id)

Banyak cara untuk seorang Gubernur untuk terus mempertahankan VISI Mulianya dalam memimpin sebuah Provinsi, salah satunya adalah meningkatkan inovasi setiap hari. Dengan memiliki visi dan misi yang progresif, yang senantiasa menawarkan ide-ide segar yang mengusung perubahan dan pembaharuan, Gubernur akan lebih tahu apa yang harus dilakukan atau lebih siap memberikan solusi konstruktif terhadap permasalahan yang sedang dihadapi.

Beberapa cara agar Gubernur terbiasa dengan Inovasi tiada henti :

Gubernur Harus Memiliki Visi.

Ini adalah syarat mutlak bagi Gubernur manapun. Sebuah Inovasi lahir dari sebuah visi dan misi yang jelas, terukur dan memiliki tujuan/sasaran. Share visi Anda kepada seluruh jajaran pendukung baik Parpol, Tim Sukse dan tentunya kepada Jajaran Birokrasi setelah terpilih dengan gambling.Hal ini akan mengilhami mereka untuk mencari cara demi meraihnya dan menyiapkan solusi untuk menghadapi tantangannya. Visi menentukan arah tujuan seseorang memimpin. Dan bagi yang beriman kepada ALLAH Swt Visi Utama nya adalah Bertemu dengan ALLAH Swt di Syurga Firdaus. Artinya Ruh Kepemimpinannya dibangun atas dasar pertanggungjawabannya keapda ALLAH Swt, tidak main-main dan penuh kesungguhan.

Gubernur Harus Terbuka Terhadap Perubahan.

Perubahan adalah kebutuhan, bukan hambatan. Pemimpin inovatif tidak mudah puas dengan hasil yang didapat dan selalu terobsesi untuk berbuat lebih baik. Perlihatkan a better future painting, untuk menularkan optimisme dan keyakinan bahwa perubahan yang Anda inginkan akan berbuah sukses, layak dilakukan dan tidak akan sia-sia. Memang, membangun sebuah perubahan tidak gampang, Birokrasi yang terbiasa korup akan sulit menerima perubahan agar tidak korup lagi, tender proyek yang awalnya oleh pengusaha dengan cara tidak transparan kemudian diubah dengan transparan akan sulit diterima oleh jajaran birokrasi yang sudah terbiasa dengan suap dan tips. Penulis melihat ini yang berhasil dibangun oleh Ahmad Heryawan di Jawa Barat sehingga Republika mendaulatnya sebagai “Tokoh Perubahan 2011”, Dengan kepemimpinannya Ahmad Heryawan dapat mengatasi kebocoran-kebocoran dana yang selama ini sebelum Ahmad sering terjadi dan kemudian Pemerintah dapat berhemat dalam penggunaan biaya pembangunan. Penulis berinteraksi langsung dengan banyak birokrasi di Gedung Sate, terlihat sangat gelisah diawal kepemimpinan Ahmad Heryawan, kegelisahan mereka tak lebih dari ketakutan-ketakutan untuk tidak mendapatkan “kantong-Kantong” uang yang terbiasa mereka lakukan. Semua Gubernur baru harus memiliki visi dan misi reformasi birokrasi dan tentunya perubahan ini akan sulit diawal dan Insya ALLAH dengan konsistensi akan mampu merubahnya.

Gubernur Harus Tidak Kaku.

Maksudnya harus mampu sedikit berimprovisasi. Inovasi, terutama yang radikal berarti melakukan sesuatu yang berbeda dari yang pernah ada. Oleh karena itu, pikiran lateral yang menghasilkan cara-cara baru dalam menciptakan dan menjalankan inovasi sangat dibutuhkan.

Gubernur Harus Mampu Mencari Alternatif Solusi.

Himbaulah diri Anda dan jajaran birokrasi dibawah Anda untuk melakukan dua hal, pertama melakukan pekerjaannya dengan seefektif mungkin dan yang kedua dengan cara baru. Arahkan mereka untuk berpikir dan mempertanyakan kembali peranan dan cara kerja mereka sehingga pikiran mereka lebih terbuka dan mampu melihat hal lain yang tak terpikirkan sebelumnya.

Gubernur Harus Siap Bertanggungjawab Jika Gagal

Bahkan innovator terbesar pun pernah merasakan kegagalan. Tanamkan pada diri sendiri dan orang lain bahwa kegagalan merupakan jalan menuju sukses. Anda berani untuk Sukses bukan? Maka Anda juga harus berani gagal, walaupun Anda lahir bukan untuk sebuah kegagalan, Anda dilahirkan sebagai Pemenang. Dan Anda bisa buktikan itu pada Saya. Dan Gubernur yang hebat adalah Gubernur yang mampu mengakui kegagalanya bukan marah-marah saat ditanya soal kegagalannya seperti beberapa waktu terjadi pada Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Gubernur Harus Fokus.

Fokus maksudnya adalah ketika seorang sudah terpiliha sudah menjadi Gubernur maka dia harus melepaskan semua jabatan-jabatan yang “tidak penting” nya, misalnya di Partai, di Aktivitas Sosial dan sebagainya. Dia Fokus pada pekerjaan bagaimana membuat wilayah yang dipimpinnya mengalami perubahan yang luar biasa dari yang sebelumnya. Fokus dan penuh antusiasme untuk membangun, mereformasi yang negatif menjadi positif, terus bekerja, menanggalkan beban dan pesan-pesan politik yang tak perlu.

Wahai Rakyat Jakarta, Jika Anda menemukan hal ini ada pada 6 KANDIDAT Gubernur DKI Jakarta, Tentukan Pilihan ANDA. Jika Rita Sugiarto Menginginkan “Pacar” Dunia Akhirat, Maka selayaknyalah Jakarta membutuhkan Pemimpin Dunia Akhirat.

Bonus Video :

Sumber :

Ahmad Heryawan Memenuhi Harapan Masyarakat Menjadi Tujuan

Bandung, 28 Mei 2012

Follow Me : @assyarkhan

Adi Supriadi

/adisupriadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Writer, Trainer & Public Speaker. Working as HR Manager Di Perusahaan Penanaman Modal Asing Jepang.
"Dunia ini adalah tempat bekerja bukan tempat menerima pahala dan Akhirat itu tempat menerima pahala bukan tempat bekerja, maka bekerjalah ditempat yang tidak ada pahala untuk tempat yang tidak ada pekerjaan "(Assyarkhan)

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?