Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of "gerairasa.com" Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Muda highlight

Jelang Penutupan, IIBF 2017 di "Luar" Ekspektasi?

10 September 2017   16:59 Diperbarui: 10 September 2017   17:36 717 5 2
Jelang Penutupan, IIBF 2017 di "Luar" Ekspektasi?
suasana di pintu masuk iibf 2017 (dokumentasi pribadi)

Kemarin sore, setelah pulang dari acara Nangkring Kompasiana, saya menyempatkan diri mengunjungi Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 di Balai Sidang Jakarta. Sebetulnya saya sudah menantikan acara tersebut beberapa bulan sebelumnya. Makanya, saya "menaruh" ekspetasi besar pada event tersebut.

Saya berharap bahwa event tersebut akan sedahsyat Big Bad Wolf 2017 yang juga sempat saya kunjungi pada bulan April lalu di ICE BSD. Di pikiran saya sudah terbayang hal-hal "indah" bahwa di situ saya akan menjumpai "lautan" buku yang dipajang di stand-stand penerbit dengan harga yang sangat miring.

Maklum saja, sebagai seorang pecinta buku, pemandangan itu bahkan mungkin lebih menarik daripada lukisan Monalisa-nya da Vinci atau Sun Flower-nya van Gogh. Makanya, harapan itu terus "menggembung" layaknya balon.

Apalagi, di pintu masuk, saya melihat banyak orang berduyun-duyun memasuki lokasi. Wah! Saya tambah semangat. Saya merasa sudah siap memborong lusinan judul buku pada event itu. Tidak sia-sia saya menyiapkan bag dari rumah untuk menyimpan buku manakala buku yang dibeli tidak muat dimasukkan di tas yang saya bawa!

suasana di lobby (dokumentasi pribadi)
suasana di lobby (dokumentasi pribadi)

Namun demikian, setelah beberapa kali mengunjungi stand penerbit, saya "agak" kecewa karena buku yang dipajang di situ cukup mahal. Bahkan, harganya pun tak jauh beda dengan harga di toko buku langganan. Kalau begitu, apa bedanya kalau kita beli di toko buku lain? Saya sempat termenung sejenak sambil duduk melepas penat di kursi yang tersedia di dekat panggung.

Apakah buku-buku yang dibanderol "murah" sudah habis "disikat" pembeli lain? Bisa jadi. Soalnya, saya datang ke situ pada tanggal 9 September. Maklum saja, event itu sendiri sudah dibuka sejak tanggal 6 dan akan ditutup pada tanggal 10 september. Wah! Kalau begitu, saya sudah disalip orang nih. Hahahahahahaha.

Apalagi, pada hari pembukaan, telah hadir sejumlah tokoh besar di negeri ini, seperti Ibu Sri Mulyani, Ibu Susi Pudjiastuti, serta salah seorang penyair favorit saya, Sapardi Djoko Damono. Sayang ya Pak Sapardi, kita belum sempet bertemu. Padahal, hati ini ingin bapak menandatangi buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni, yang tak lekang digerus zaman itu. Mungkin kali lain kita bisa bersua sambil minum kopi. Hehehehehehehehe.

Biarpun ada embel-embel "international boof fair"-nya, pada event itu, saya malah hanya mencermati sejumlah penerbit dari beberapa negara, seperti China, Jerman, dan Arab Saudi. Di antara stand negara-negara tersebut, stand dari Arab Saudi-lah yang menyedot perhatian. Di situ, saya menyaksikan puluhan orang antre berbaris untuk mendapat tanda tangan penulis asal Arab Saudi yang kurang begitu saya kenal namanya.

keramaian di stand arab saudi (dokumentasi pribadi)
keramaian di stand arab saudi (dokumentasi pribadi)

Barangkali, di situ juga, orang bisa menukarkan kupon dooprise. Doorprise yang ditawarkan memang menggoda minat. Maklum saja, kalau dapat hadiahnya, kita bisa berangkat haji. Wow!

Namun demikian, kondisi sebaliknya justru tampak di stand-stand lainnya. Di stand penerbit asal China misalnya saya melihat jarang orang yang datang berkunjung. Makanya, di situ, orang hanya sekadar lewat tanpa tertarik oleh produk kebudayaan yang ditawarkan.

stand dari negara lain yang tampak sepi (dokumentasi pribadi)
stand dari negara lain yang tampak sepi (dokumentasi pribadi)

Namun demikian, suasana sepi itu "tergusur" oleh hentakan musik rock dari Marjinal Band. Di situ, grup band yang digawangi oleh empat orang tersebut membawakan lagu antikorupsi yang "asyik" di telinga. Buktinya, saya yang ogah mendengar musik cadas karena sering bikin sakit telinga saja sampai mengetak-entakan kaki.

penampilan marjinal band (dokumentasi pribadi)
penampilan marjinal band (dokumentasi pribadi)

Grup band itu sengaja tampil menghibur pengunjung sekaligus mengampanyekan antikorupsi. Maklum saja, grup band itu didukung oleh KPK yang juga hadir mewarnai pagelaran buku tersebut.

Konsep acara pada IIBF 2017 memang berbeda dari sebelumnya. Panitia tampaknya sengaja mengemas ulang konsep Book Fair. Bisa saja panitia beranggapan bahwa untuk membangun budaya literasi, kita tak mesti membaca buku. Lewat diskusi dan talkshow yang diselenggarakan, kita juga dapat menumbuhkan kesadaran dalam berliterasi.

Namun demikian, saya merasa ada yang perlu dibenahi. Misalnya saja, pengaturan stand-stand layak diperhatikan. Kalau bisa, kurangi pemakaian sekat. Soalnya, begitu pengunjung membeludak jumlahnya, hanya tersedia sedikit ruang gerak di stand tersebut. Makanya, saya agak kurang nyaman memilih buku karena harus berdesakan dengan pengunjung lain akibat ruangan dipenuhi sekat.

Soal harga? Tentu saja lebih murah, kalau bisa. Biar buku semakin terjangkau oleh masyarakat. Biar kita semua senang membaca buku.

Salam.

Adica Wirawan, founder of Gerairasa.com