Mohon tunggu...
Fz
Fz Mohon Tunggu... Buruh - Adventurer

The greatest pleasure in life is doing something that people say you can't do it, believe in yourself and Allah because we're who we chose to be.

Selanjutnya

Tutup

Trip

Manila Undercover

28 Januari 2019   20:58 Diperbarui: 28 Januari 2019   21:15 157
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Travel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Jcomp

The journey of Manila


Ragu sih sebenarnya mau ngasih judul "Manila undercover". Bagaimana tidak, mbolang di Manila hanya hitungan hari, sok yes banget mau nulis soal sisi abu-abu Manila. Memang terkesan sangat tidak bijaksana karena biasanya orang berani menulis "undercover" setelah melakukan serangkaian research yang cukup panjang. 

Sedangkan Saya, triger-nya sederhana "Manila bagus ya", pendapat beberapa teman ketika Saya posting sebuah foto di instagram. Orang sering kali lupa bahwa media sosial itu fully controlled by the owner. Eh, tapi nggak melulu tentang "undercover" ya cerita Saya soal Manila ini, tapi Saya lebih akan bercerita terkait hal - hal yang Saya rasa unik dan menarik untuk dibagikan.

Part 1

"Mahal kita"


Sebelum membaca terlalu jauh, penting rasanya Saya menyampaikan hal ini. Di sepertiga sore terakhir dibawah ferris wheel yang letaknya sekitar 800m dari Mall of Asia, Saya bertemu dan ngobrol dengan seorang mahasiswi Filipina terkait Manila.

 Pertanyaan Sy sederhana : "Apakah nggak masalah Saya nanya soal kehidupan, pemerintahan, bahkan pemimpin Filipina?"

Jawabannya : "Oh, nggak masalah kok, Filipina pemerintahannya terbuka, bahkan terhadap kritikan".

Syukurlah Saya bisa melanjutkan pertanyaan selanjutnya, apalagi Saya sedikit mengikuti bagaimana Duterte memimpin Filipina. Kenapa ini penting? Sebagai stranger, perlu untuk tahu do and don't di negeri orang.

Sebagai contoh, di Thailand menganut hukum Lese Majeste yaitu pasal yang melindungi anggota kerajaan dari hinaan/ancaman. Hukumannya nggak tanggung-tanggung, bisa jadi mendekam di penjara puluhan tahun. Jadi, Saya cukup memahami ketika Saya bertanya ke teman Saya terkait kondisi rajanya, jawabannya cuma "He will be fine". Setahun kemudian, kebetulan Saya pergi ke Thailand dan meet up dengannya, dia sangat exited karena Saya memakai pakaian serba hitam sebagai ungkapan bela sungkawa atas meninggalnya Raja Bhumibol Adulyadej.

Okkay, back to topic.
Bagaimana dengan Manila?
Pertama kali menginjakkan kaki di Manila yang dibahas adalah bahasa. Sebagai traveler yang masih memperhatikan budget, seringkali menyebut kata "mahal" disana - sini, ditambah lagi karena travelingnya berdua which means seringkali pake kata ganti "kita", dan tersebutlah "Mahal Kita", yang dalam bahasa Tagalog artinya "Aku Cinta Kamu". Aseli, zonk banget. Kebayangkan kalau kita ngomong kata-kata ini di sembarangan tempat? Unfortunetely, bolak - bolik ngomong "mahal kita" di dalem taksi selama perjalanan dari bandara menuju hotel. Lah, emang lagi itung menghitung rencana spending selama trip di Manila sih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun