Zulfikar Zufikar
Zulfikar Zufikar

Pekanbaru ibu kota Provinsi Riau, merupakan kota yang strategies, kota ini merupakan kota yang terletak ditengah-tengah provinsi Sumatera, Pekanbaru menjadi kota yang perkembangan menjadi kota metropilitan menyusul kota-kota tetangga yakni Malaka, dan Kuala Lumpur

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Saling Gertak Perang Dagang

12 Juli 2018   08:23 Diperbarui: 12 Juli 2018   08:36 260 1 2

Semenjak Trump terpilih menjadi presiden AS, Trump mengetahui bahwa kondisi AS yang masih babak belur perlu dilakukan strategi khusus bagaimana memulihkan perekonomiannya bukan dengan cara biasa tetapi dengan cara cara yang tidak pernah dibayangkan oleh Bank sentral seluruh dunia seperti Quantitative easing yang dianggap sebagai sweatener saja.

Tetapi Trump melihat siapa pemegang USD terbesar sebagai cadangan devisanya, meskipun konyol paling tidak menyerang lebih awal lebih baik dan membuat ciut nyali pemegang USD mulai merubah taktik mereka. Cadangan devisa China pada Juni 2018 sebesar $ 3.12 Milyar, dan merupakan terbesar di dunia, strategi ini dilakukan untuk mengguncang arus modal keluar dari China. 

Namun China bukanlah imbang yang lemah  kebijakan one belt road china berhasil menggalang kekuatan kepada Asia tenggara, dengan meminjamkan hutang dalam pembangunan infrastruktur di Asia tenggara, mulai dari modal, bahan baku bahkan sampai dengan tenaga kerjanya.

Melihat strategi skenario tersebut Trump ternyata memiliki data bahwa Cina sejak tahun 2014,  pemerintahnya membolehkan swasta mencari dana ke luar. Banyak perusahaan yang mengeluarkan surat obligasi di tahun 2014 - 2017  yang jatuh temponya 3 tahun. Oleh sebab itu Cina harus berhati-hati antara tahun 2018 -- 2020, walaupun masih dalam kategori aman. 

Sektor swasta mereka punya beban untuk membayar dan melakukan roll-over  hutang-hutang mereka. Menurut Bloomberg, untuk 2 kwartal terakhir 2018, hutang yang jatuh tempo sekitar $37.9 milyar, tahun 2019 $88.0 milyar dan 2 kwartal tahun 2019 sebanyak $ 31.3 milyar. Memang jumlah ini tidak besar dibandingkan dengan cadangan devisa Cina yang besarnya sekitar $ 3.1 trilliun. 

Hanya 3% nya saja. Dan menurut data World Bank, short-term debtnya hanya 25% dari cadangan devisanya dan cadangan devisanya cukup untuk 13 bulan. Ini cukup aman walaupun harus berhati-hati. Selain itu Trump Juga memiliki data perekonomian China yang harus di serang dan diuji kevaliditasnya diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Ada sekitar 36 trilliun yuan (US$5,68 trilliun) hutang yang membelit perekonomian Cina. Hutang pemerintah daerah 16 trilliun (US$2,5 trilliun) dan Badan Usaha Milik Negara memiliki 19,5 trilliun yuan (US$3 trilliun). Dengan bunga 5% - 6% per tahun (1,8 -- 2,2 trilliun Yuan atau $ 280 - $ 340 milyar), keadaan adem-ayem tidak bisa lama dipertahankan.
  1. Inflasi versi resmi hanya 6,2%, sedangkan versi Lang adalah 16 %
  1. Terjadi kelebihan kapasitas. Dengan tingkat konsumsi hanya 30% dari GDP, dan tingginya kegiatan untuk eksport maka perlambatan ekonomi dunia akan membuat kelebihan kapasitas semakin parah. Perlambatan eksport sudah terasa dengan turunnya indeks purchasing manager bulan Oktober 2011 ke level 48, (di bawah 50 artinya kontraksi).
  1. Pertumbuhan GDP 9% adalah bohong, menurut data Lang GDP yang sebenarnya sudah kontraksi 10%. Menurut Lang pertumbuhan versi resmi yang tinggi itu datangnya dari konstruksi infrastruktur dan sektor properti yang porsinya mencapai 70% dari GDP di tahun 2010 dan sudah menggembung besar sekali.
  1. Pajak langsung dan tidak langsung yang dibebankan kepada sektor bisnis mencapai 70% dari pendapatan. Sedangkan pajak perorangan mencapai 81,6%.

Di samping itu Cina belum menjadi ekonomi yang berbasis konsumsi, melainkan masih berbasis ekspor. Pada saat US dilanda krisis, dampaknya adalah ekspor ke US turun dan selanjutnya akan memukul ekonomi Cina. Dengan adanya faktor-faktor tersebut, yuan punya peluang untuk merosot pada saat krisis. Campur tangan pemerintahnya akan membuat yuan makin terpuruk.

Bagaimana dengan Negeri Paman Sam sendiri

Bank Sentral AS The Fed ternyata juga mencoba meramu taktiknya dengan menaikkan suku bunganya dengan cara membuncitkan/menguruskan assetnya . Pada saat ia menggembungkan assetnya (baca: membeli bond dengan uang yang dicetaknya) tanpa menurunkan suku bunganya, artinya the Fed melakukan quantitative easing (QE). Kalau sebaliknya artinya quantitative tightening (QT). 

Sejarah menunjukkan bahwa jika the Fed merubah permainan jurusnya, akan merubah arah ekonomi dunia dan pasar. Dampaknya adalah dunia, karena secara defakto US dollar adalah mata uang dunia

Ada fenomena yang menarik adalah setiap kali the Fed melakukan pengetatan moneter, dengan menaikkan suku bunga effektifnya atau lainnya, akan berakhir dengan suatu krisis dipasar saham dan/atau pasar uang serta ekonomi, baik di US atau di tempat lain. Jika Kedua gajah yang bertempur pasti akan berdampak kepada pelanduk termasuk juga terhadap perekomian tanah air.

Disclaimer : merupakan pendapat dan analisa pribadi.