Mohon tunggu...
Zulfaisal Putera
Zulfaisal Putera Mohon Tunggu... Administrasi - Budayawan, Kolumnis, dan ASN

Berbagi dengan Hati

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Handak Bahira Hanyar Mancari Luang

31 Juli 2021   09:51 Diperbarui: 31 Juli 2021   10:43 354
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya yakin bahasa daerah lain punya peribahasa seperti dalam bahasa Banjar pada judul di atas : Handak bahira hanyar mancari luang. Makna peribahasa tersebut kurang lebihnya 'ketika sudah menemukan masalah baru mencari solusi'. Mungkin mirip saja maknanya jika ada bahasa daerah lain punya peribahasa seperti demikian.

Masyarakat Banjar memang kaya dengan peribahasa. Salah satunya bersifat menyindir seperti peribahasa di atas. Tentu peribahasa itu dibuat oleh orang orang dahulu setelah melihat contoh kasus kebanyakan bahwa pada umumnya orang baru sibuk mencari solusi ketika permasalahan yang dihadapi sudah memuncak.

Handak bahira hanyar mancari luang atau hendak buang air besar baru mencari lubang atau jamban, bukanlah semata simbol persoalan buang air besar dan jamban sebagai tempat, tetapi lebih luas dari itu. Bahwa kebanyakan kita tidak banyak yang menyiapkan solusi atau cara memecahkan masalah jauh sebelum masalah muncul. Justru sibuk ketika telur sudah di ujung tanduk.

Dalam beberapa kesempatan, terutama hari hari akhir pekan, saya berusaha berjemur di halaman rumah, pada pukul 09.00-an. Saya pede saja berjemur tanpa baju. Bukan sekadar agar sinar matahari langsung menyentuh tubuh dan vitamin D dalam tubuh terpenuhi, melainkan karena beberapa bagian halaman ditutupi tanaman yang sekaligus menjadi pelindung kalau saya tanpa baju. Ini saya lakukan bisa sampai 60 menit. Ya, tentu sambil main hape atau baca koran.

Saat saya sedang berjemur terkadang ditegur oleh tetangga yang lewat. Salah satu kalimat yang keluar adalah "eh bajamur. Kena covidkah, pian?". Pertanyaan itu juga saya peroleh melalui inbox Fb dan chat WA yang mengira saya kena covid (lagi) hingga berjemur seperti foto yang saya pajang di dinding Fb. Pertanyaan itu wajar muncul karena ada anggapan bila ada kegiatan berjemur dilakukan seseorang di saat seperti masa pandemi sekarang ini dianggap sedang terpapar Covid-19.

Saya memang pernah terpapar Covid-19 tahun  lalu. Tepatnya, minggu ketiga sampai keempat bulan Agustus 2020. Saya meyakini terpapar setelah hilang penciuman dan kemudian memutuskan untuk swab PCR di Puskesmas Sungai Jingah, dekat rumah. Istri saya yang tidak ada gejala apa-apa karena satu rumah, juga swab PCR dan dinyatakan positif. Salah satu anjuran dokter dan info dari media bahwa pengidap covid harus berjemur setiap pagi. Tentu itu saya lakukan karena memang bagian dari terapi pengobatan.

Namun, kebiasaan berjemur itu bukan saya lakukan saat terpapar saja, tetapi jauh sebelumnya, bahkan sejak remaja. Saat tinggal di Kelayan, almarhum ayah  suka mengajak saya bapanas - istilah bahasa Banjar dari berjemur, di halaman. Kebetulan halaman rumah saat itu penuh dengan susunan kayu tersebab ayah saya pedagang kayu dan punya wantilan atau tempat penggergajian dan penjualan kayu. Jadi kegiatan berjemur dilakukan sambil duduk duduk di tumpukan papan.

Saya masih ingat papadah atau nasihat ayah tentang pentingnya berjemur. Dia mencontohkan bagaimana para turis asing, terutama dari negara Eropah dan Amerika yang datang ke Indonesia, khususnya Bali, pada umumnya, mencari sinar matahari. Dan itu diperoleh mereka dengan berjemur dan membiarkan tubuhnya terbakar sinar ultraviolet dari matahari di pantai. Sementara di negara mereka sulit mencari sinar matahari demikian. Itulah mengapa mereka lebih sehat dan panjang umur. Begitulah kata ayah saya. Dan saya mengamini saja.

Saya pun akhirnya suka melakukan itu sampai usia sekarang. Tidak mesti berjemur statis, tetapi sambil jalan pagi sejauh langkah mampu hingga berkeringat karena tubuh terbakar matahari. Kebetulan saya tidak mempunya kulit putih, tetapi juga takhitam hitam banget. Jadi enjoy saya saya kalau berjemur. Takada beban. Kecuali niat mudah mudahan kebutuhan vitamin D saya terpenuhi.

Namun demikian, tetap saja saya terpapar covid tahun lalu. Ini bukan semata persoalan vitamin D, tetapi karena imun tubuh sedang lemah dan memperoleh paparan virus dari orang lain. Dan pengalaman 2 minggu isolasi mandiri ditambah 1 minggu sesudahnya, memberikan pelajaran penting bagi saya penting imun tubuh diperkuat. Selain dengan vitamin, juga dengan hati gembira dan berpikir positif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun