Mohon tunggu...
ZIL
ZIL Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Politik

Caper ala Jokowi, 2 Eksploitasi untuk 2 Periode

3 September 2018   11:43 Diperbarui: 3 September 2018   12:09 363 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Caper ala Jokowi, 2 Eksploitasi untuk 2 Periode
Sumber photo by ASIAN Games 2018

Apapun maksud dan tujuannya ada dua hal yang sudah dieksploitasi oleh Jokowi dalam acara Closing Ceremony Asian Games 2018 Minggu, (2/9/18) malam tadi. Tak lebih hanyalah sekedar aksi caper di mata para pemimpin dunia dan rakyatnya sendiri.

Manusia Lombok

Ribuan manusia Lombok sedang menghadapi krisis berat pasca gempa 7 SR. Disini saya lebih suka menyebutnya 'manusia' dibandingkan warga atau korban bencana alam. Sebab saya takut Pak Jokowi lupa bahwa mereka itu manusia. Dan kembali saya ingatkan kepada Bapak Presiden serta seluruh rakyat Indonesia tak terkecuali saya sendiri yang sebenarnya juga hanya manusia biasa yang tak berdaya, bahwa sekali lagi mereka adalah Manusia. 

Memang harus saya tekankan untuk membuat kita berpikir bahwa manusia itu seperti apa dan apakah kita masih berperike-manusia-an? Sebab jika tidak saya takut beliau Presiden dan seluruh manusia Indonesia lainnya lupa bahwa mereka adalah manusia yang seharusnya tidak untuk diekslpoitasi. Tidak untuk dijadikan alat atau figuran demi kepentingan VT atau tayangan pemanis untuk pribadi atau kelompok tertentu.

Saya berharap agar panitia Asian Games 2018 atau siapapun tidak menjawab bahwa ini adalah demi kepentingan 'entertaining' (hiburan) dalam perhelatan yang dikemas oleh banyak media yang di dalamnya banyak kru dan kreatif.

Sedikit catatan dari yang anda lihat di layar besar Gelora Bung Karno atau layar kaca anda bahwa sebagian kecil warga yang dijadikan Jokowi sebagai 'figuran' (seperti stuntman di VT Opening Asian Games 2018) belum tentu semuanya adalah korban bencana alam Lombok.

Sekalipun itu benar tapi mereka adalah segelintir orang yang sudah 'disantuni', diatur dan diarahkan oleh Jokowi dan kreatif sedemikian rupa hingga kita lupa ribuan warga Lombok korban bencana alam lainnya yang masih gelisah dengan keberadaan pedagang 'eskerim' yang selalu membuat anak-anak mereka menangis di pengungsian karena meminta es krim tapi tidak ada uang untuk membelinya.

Bahwa kita tidak pernah tau 'the real fact' dari apa dan seperti apa sebenarnya kondisi para korban di pengungsian. Sebab jika tidak ada yang terjadi tidak mugkin ada seorang guru di Lombok yang juga merupakan pengungsi curhat dan menceritakan kisahnya kemarin bahwa kedatangan Jokowi dan Gubernurnya waktu itu semua masalah sudah tertanggulangi dan membuat mereka merasa aman.

Bahwa perlu kita ketahui menurut laporan ACT Indonesia bantuan masih sangat dibutuhkan ditengah-tengah gempa susulan yang masih sering terjadi. Pun demikian perlu saya ingatkan kembali bahwa pengutipan atau penggalangan dana masih terus dilakukan di seluruh daerah di Indoneaia, bahwa pengiriman dan pendistribusian logistik bantuan masih terus berlangsung dan berjalan ke titik-titik pengungsian dan bahwa tagar #PrayforLombok masih ramai dan sekali-sekali masih menjadi 'trending topic' di media sosial. Itu artinya musibah atau bencana ini masih belum selesai. Duka Lombok masih belum hilang.

Perekonomian masih lumpuh dan belum pulih total. Jeritan dan tangisan mereka masih memekikkan hati. Melihat kondisi mereka masih menyesakkan dada. Penderitaan mereka masih penderitaan kita, bukan 'kesempatan' buat kita. Bahwa pernyataan sebagai bencana nasional semakin pantas untuk diumumkan sebelum keadaan menjadi semakin buruk.

Perhelatan Besar

#ClosingCeremonyAsianGames2018 yang seharusnya tidak dijadikan ajang 'propaganda' yg berisi pesan "pilih saya kembali di Pilres 2019" walau di 'skenario' tidak ditulis demikian oleh 'Creative' namun secara visual menurut saya Jokowi justru berteriak-teriak menyampaikan pesan itu dihadapan puluhan juta penonton di seluruh Indonesia dan dunia. Dan semua itu menggunakan fasilitas dan anggaran negara.

Di belakang layar banyak anak media, pakar komunikasi dan pengamat politik pada cengar-cengir melihat tingkah Presiden termasuk saya. Terlebih saat komentator bule harus menerjemahkan pidato Presiden dalam siaran langsung Penutupan Asian Games 2018.

Banyak yang beranggapan bahwa bahwa Presiden hanya mencari perhatian di tengah perhelatan dunia yang sedang berlangsung. Sementara dalam video yang beredar ternyata memperlihatkan Presiden sedang asyik bergoyang seperti 'goyangan dayungnya' di perhelatan pembuka Asian Games 2018 (18/8/18).

Teringat jelas curhan hati Sang Guru, bahwa bukan itu yang mereka butuhkan. Bukan kedatangan Sang Presiden yang mereka inginkan tapi dukungan moril maupun non-moril bagi para korban bencana. Bukan 'goyangan maut' atau apalah yang ingin mereka saksikan tapi cukup agar anak-anak mereka 'bisa makan es krim'. Agar orang tua atau lansia tidak semakin penyakitan dan agar bayi-bayi pengungsi tidak tergganggu kesehatannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN