Mohon tunggu...
Zaki Nabiha
Zaki Nabiha Mohon Tunggu... Administrasi - Suka membaca

Karena suka membaca, kadang-kadang lupa menulis

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Menang Tanpa Perang, Maumu Apa?

25 Mei 2020   12:21 Diperbarui: 25 Mei 2020   12:20 319
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Apakah berdamai itu sebentuk subordinasi satu pihak terhadap pihak lain?. Yang kemudian menjelma menjadi hegemoni. Atau mungkin juga dimaknai sebagai terobosan, sebuah upaya mengais potensi kemungkinan untuk melanjutkan keberlangsungan. 

Karena, ibarat kata, orang Betawi punya istilah, seumpama terus-terusan mengambil sikap berseberangan, melawan adalah jalan bebas hambatan menuju kuburan atau yang agak lebih mendingan, mendatangkan  kerugian dalam nilai yang sangat besar.

Berdamai biasanya muara dari sebuah konfrontasi, sengkarut konflik. Proposal dibuat oleh pihak yang tersudut. Tapi pada konteks yang lain, pihak  superior kerap juga menydorkan peta damai. Alasannya tentu bukan karena kewalahan. Tapi karena tujuan yang diincar sudah tercapai. Dua hal itu selalu begitu seterusnya.

Karenanya, penulis dan sejarahwan Italia abad ke-16, Luigi da Porto menyampaikan apa yang disebut sebagai siklus perdamaian dan konflik, "perdamaian mendatangkan kemakmuran, kemakmuran mendatangkan kebanggaan, kebanggaan mendatangkan amarah, amarah mendatangkan perang, perang mendatangkan kemiskinan, kemiskinan mendatangkan kemanusiaan, kemanusiaan mendatangkan perdamaian". 

Oh iya, Luigi da Porta ini juga yang membuat William Shakespeare terkenal. Kisah Romeo dan Juliet yang masyhur itu ternyata sebelumnya pernah ditulisnya yang kemudian dialihbahasakan oleh penulis berkebangsaan Prancis hingga sampai di tangan suami Anne Hathaway, membuatnya jadi salah satu selebritis Inggris.

Maka, ungkapan damai itu indah tentu memang benar adanya. Karena dalam situasi damai segala hal bisa dilakukan. Berbeda halnya dalam keadaan konflik atau perang. Warga sipil gelap mata dan tak bisa berpikir panjang. Untu hal ini, Sitor Situmorang dalam salah satu puisinya, Lembah Nil, ia mengingatkan,

Hitam warna asap perang, putih warna tulang manusia!
Jika alam, sejarah, filsafat dan agama dilalui,
Gurun pasir dan taman firdaus tiada beda.

Atau dalam puisinya yang lain, Tanah tumpah darah

Membangun dalam damai
Dengarlah seruan berabadabad
Seperti panggilan burung yang
Membangun sarangnya
Merdeka, bebas dan sejahtera
Impian dari rakyat

Tapi untungnya, bukan orang Indonesia kalau tidak ada untung dalam setiap peristiwa. Ada hikmah, nilai positif dari sebuah konflik. 

Oleh para pakar, seperti yang ditulis oleh Adon Nasrullah Jamaludin, peneliti dari UIN Sunan Gunung Djati, Bandung dalam bukunya Agama dan Konflik Sosial: Studi Kerukunan Umat Beragama, Radikalisme, dan Konflik Antarumat Beragama, bahwa konflik dibutuhkan karena berguna untuk membuat kita menyadari adanya masalah, mendorong ke arah perubahan yang diperlukan, memperbaiki solusi, menumbuhkan semangat, mempercepat perkembangan pribadi, dan mendorong kedewasaan psikologis. Sehingga kita pun mengenal apa yang dinamakan manajemen konflik.

Jadi, apa sebetulnya pemicu konflik itu?. Tentu banyak variable yang menyulut terjadinya konflik, salah satunya adalah adanya perbedaan nilai. Masih ingat apa yang dilakukan oleh Ferdian Paleka dan dua orang temannya?.

Iya, Ferdian memberikan bantuan sembako kepada salah satu transpuan  yang ternyata isinya berupa batu bata dan sampah. Aktivitas itu ia rekam dan diunggah di kanal youtube miliknya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun