Mohon tunggu...
Zaki Mubarak
Zaki Mubarak Mohon Tunggu... Dosen -

Saya adalah Pemerhati Pendidikan tinggal di Tasikmalaya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kontestasi Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum, Siapa yang Menang?

18 Mei 2017   09:53 Diperbarui: 18 Mei 2017   19:03 756
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kontestasi Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum, Siapa yang Menang?
Oleh: Zaki Mubarak

Ide tulisan ini berawal ketika saya “dipaksa” harus menjadi dewan hakim Musyabaqoh Qiroatul Kutub (MQK) ke IV Kota Tasikmalaya. Saya sebut dipaksa, karena saya merasa tidak pantas selevel dengan para ulama yang sudah established di bidang membaca kitab kuning. Namun, saya mau karena saya paham bahwa untuk urusan debat Bahasa Asing, orang pesantren bukanlah ahlinya.

Di luar peran saya sebagai dewan hakim, MQK ini memiliki pandangan positif sekaligus negatif bagi saya sebagai pemerhati. Jujur, saya adalah orang pesantren yang sangat takdim kepada kyai dan kitab kuning, sekaligus sudah bertahun-tahun menggeluti musyabaqoh per-Islaman mulai MQK kabupaten, Kota, Provinsi sampai MTQ kab/kota dan provinsi. Di samping itu pun, saya sering menjadi juri dan pembina dunia Debatting di berbagai ajang kompetisi pendidikan umum. Namun untuk urusan hati nurani, saya harus kritis dan berpikir ulang.

Kompetisi. Inilah kata kunci dari tulisan ini. Kompetisi atau istilah lain, walaupun kurang sepadan, kontestasi memiliki nilai yang sangat baik bagi kualitas sebuah produk. Keilmuan, keterampilan dan sikap sebagai produk pendidikan perlu dievaluasi, apakah tujuan di hulu telah tercapai di hilir, mana saja yang harus diperbaiki dalam prosesnya. Jadi untuk urusan kompetisi, saya sangat setuju. Itu baik sekali dan sesuai dengan teori pendidikan.

Namun, dalam urusan kategorisasi dan perlakuan kompetisi antara pendidikan agama dan umum, saya melihat ada yang kurang pas. Nah, saya akan mencoba membandingkannya serta memutuskan baik buruknya. Walaupun itu tidak mutlak dan debatable. Bagi yang tidak setuju mari kita berdiskusi dengan tulisan, bukan debat kusir. Karena diskusi tulisan memiliki kekuatan hukum yang akademis.

(1) kompetisi dalam dimensi sakralitas. Qur’an sebagai wahyu yang sakral dengan derivasinya seperti kitab kuning yang memiliki otoritas tinggi di pesantren (lihat tulisan terdahulu tentang Sorogan dan Bando(u)ngan) memiliki posisi yang tinggi dalam agama. Mereka adalah sumber dari segala sumber. Mereka ilmu yang “qot’i”, statis, tetap dan tidak debatable. Materi didalamnya penuh dengan dogma yang sudah taken for granted, terima apa adanya.

Buku ilmu pengetahuan yang biasa disebut buku putih (sebagi pembeda dengan kitab kuning) merupakan panduan ilmu pengetahuan yang bersifat “U”. Satu saat ia dianggap benar, disisi lain bisa juga dianggap salah. Masih ingat bagaimana kaum bumi datar yang terinspirasi oleh Bible memancung galileo karena keyakinan bumi bulatnya?. Sekarang hampir semua orang mengatakan bahwa bumi itu bulat. Bahkan sekarang komunitas the earth plat mengusung kembali bahwa bumi itu datar, mana yang benar?. Ilmu itu melingkar, tak pernah benar mutlak. Itu sama halnya dengan gravitasinya Newtonian, relativitasnya Einstein dan black hole-nya Stephen Hawkin.

Dari sisi sakralitas, kedua ilmu ini (baca: agama dan umum) memiliki posisi yang berbeda; dogmatis-statis dan terbuka-dinamis. Ketika sumber ilmu ini diturunkan menjadi sebuah alat kompetisi, tentunya memiliki ketimpangan filosofis. Bila kompetisi ini adalah hanya untuk menunjukan kecakapan tantang penguasaan sesuatu, maka itu tidak masalah. Tetapi, ketika materi ini akan menjadi sebuah alat perdebatan dan pergunjingan (lihat kasus penyelewengan kewenangan hakim), maka ini akan mendegradasikan sakralitas ilmu agama yang dogmatis tadi. Ini sedikit berbahaya.

(2) kompetisi dalam dimensi fungsi. Kompetisi memiliki beberapa fungsi; sebagai genjotan motivasi, sebagai penunjukan prestasi, dan sebagai pengakuan eksistensi. Bila kompetisi berfungsi untuk genjotan, prompter, motivasi tentu saja saya setuju. Apalagi, dengan dinamika abad 21 yang membutuhkan kreatifitas dan inovasi. Motivasi adalah salah satu instrumen penting dalam abad 21. Saya setuju kompetisi ini memiliki fungsi besar dalam memotivasi, siapapun itu.

Untuk pendidikan umum, sepertinya fungsi kompetisi tidak memiliki konotasi negatif, namun untuk pendidikan agama perlu dianalisis lebih lanjut. (a) bila fungsi kompetisi itu sebagai prestasi, maka apakah penguasaan ilmu agama itu untuk ditunjukan kepada khlayak ramai?. Yang saya ketahui, walau pengetahuan agama saya tidak sehebat para kyai atau santri senior, bahwa prestasi agama harus lebih menonjolkan aspek sikap, bukan keterampilan. Sehingga di pesantren yang menerima anak didik usia muda, maka kajian kitab kuningnya tidak jauh dari pengenalan bahasa Arab, fikih dasar, dan Qur’an-Hadits. Mereka belajar bagaimana membaca bahasa Arab, menunjukan penguasaan hukum islam dan hapalan Qurdis.

Bila sudah dewasa, para santri diajak untuk mengkaji ilmu lebih tinggi, seperti ushul fikih, balaghoh, sejarah kebudayaan islam, dan lain sebagainya. Yang paling puncak adalah ilmu tasawuf (dan ilmu hikmah). Jadi saya simpulkan prestasi pesantren itu ujungnya adalah menjadi manusia yang bijaksana seperti yang ilmu tasawuf ajarkan. Nah, ketika bicara bijaksana, para ahli sulit untuk merumuskan indikator kebijaksanaan seseorang. Jadi prestasi dalam bidang agama (yang diwakili oleh dunia pesantren) agak sulit di kompetisikan, atau bahkan tidak mungkin. Bila itu hanya prestasi penguasaan ilmu (pengetahuan dan keterampilan) yang dikompetisikan, saya kira itu tidak salah. MTQ dan MQK kan sebenarnya melakukan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun