Yuyun Tri Mulyani
Yuyun Tri Mulyani

I attend in Jember University

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Tahu Tek Kantin FMIPA UNEJ

1 April 2014   02:36 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:14 281 0 0
Tahu Tek Kantin FMIPA UNEJ
1396268093622110832

Tahu tek, siapa yang tidak tau makanan khas Surabaya yang kini menjadi populer di berbagai daerah karena rasanya yang enak dan mengenyangkan. Dinamakan tahu tek karena gunting yang digunakan untuk memotong bahan makanan dibunyikan terus walaupun bahan makanan telah habis dipotong, sehingga berbunyi tek..tek..tek. Tahu tek ini terdiri atas tahu goreng setengah matang, lontong, telur dan taoge, lalu disiram dengan bumbu kacang, lalu ditaburkan kerupuk udang.

Banyak pula orang yang mulai membuka usaha dengan menu yang satu ini. Termasuk salah satu penjual makanan di kantin FMIPA UNEJ yang mempunyai menu andalan tahu tek. Ibu Neha dan Bapak Abdul Wahab adalah orang yang mulai membuka usaha tahu tek pada tahun 2000. Dulunya Bu Neha adalah seorang pekerja tahu tek milik Bu Saiful. Namun karena Ibu Saiful pergi ke Malaysia dan bekerja disana, Ibu Neha berinisiatif untuk membuka usaha sendiri dengan meneruskan berjualan tahu tek di FMIPA UNEJ.

Dulu warungnya berupa warung tenda yang harus dibongkar pasang setiap harinya di lapangan MIPA (lapangan parkir). Tempat makan pembeli berupa lesehan, dengan gelaran karpet dan meja kecil. Pada waktu itu uang sewa tempatnya sebesar Rp 1500,- per hari. Ibu Neha berjualan tahu tek di lapangan parkir FMIPA selama kurang lebih 2 tahun. Setelah kantin FMIPA dibangun, Ibu Neha berjualan tahu tek di kantin FMIPA dengan uang sewa tempat Rp 4000,- per hari. Uang itu disetorkan kepada Ibu Halimah selaku pengelola.

Pada awal usaha, asset yang dimiliki berupa gerobak yang dulu dibeli seharga Rp 500.000,-. Namun itu masih mentah, perlu penambahan etalase, pengecatan dan lain-lain sehingga biaya total yang dihabiskan untuk gerobak siap pakai adalah Rp 950.000,-. Selain itu Ibu Neha juga membeli peralatan berupa gelas sebanyak 8 lusin dengan harga Rp 14.000,- per lusinnya, cowek Rp 25.000,- dan uleg Rp 5.000,-. Untuk peralatan lain seperti piring, sendok, garpu, penggorengan dan peralatan lain Bu Neha tidak membeli karena sudah punya, sehingga menggunakan peralatan yang ada di rumah Bu Neha.

Dalam sehari Bu Neha membutuhkan bahan-bahan seperti membutuhkan 3 kg beras, 1 kg telur, 2 kg tahu, 1,5 sampai 2 kg kacang tanah, minyak goreng 2 liter, kerupuk 1 kg. Bahan lain yang dihitung mingguan adalah petis 1/2  kg dan bumbu-bumbu lain sekitar Rp 50.000,-. Untuk memasak menghabiskan 4 tabung gas 3 kg per minggu. Omset yang diperoleh dalam sehari sekitar Rp 200.000 hingga Rp 400.000,-.

Ibu Neha mengelola usaha tahu tek ini bersama suaminya Pak Dul Wahab. Mereka tinggal di sebuah rumah di Jl Jawa 7 no 99. Mereka hanya berdua setelah anaknya meninggal 3 tahun silam. Ibu Neha mulai mempersiapkan dagangannya pukul 5 sore yaitu membuat lontong. Proses pemasakan membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Sementara Pak Dul Wahab menggoreng kacang tanah dan menghaluskannya. Kemudian Bu Neha menggoreng kerupuk, menyiapkan bumbu, dan selesai pada pukul 12 malam. Ibu Neha hanya memiliki sedikit waktu untuk beristiahat karena pukul 3.30 pagi Bu Neha harus ke kantin untuk mengepel dan bersih-bersih. Sehingga dapat membuka warung jualannya tepat waktu yaitu pukul 07.30 pagi hingga 4 sore. Begitu seterrusnya dari hari Senin hingga Jumat karena Sabtu dan Minggu libur.

Dalam sehari Ibu Neha memperoleh keuntungan rata-rata Rp 25.000,-. Keuntungan rata-rata ini diperoleh jika tahu tek yang terjual standart. Jika di bawah Rp 200.000,- Ibu Neha belum mendapatkan keuntungan. Jika penghasilan yang didapat dibawah Rp 100.000,- maka Ibu Neha mengalami kerugian karena bahan makanan yang tidak tahan lama misalnya lontong harus terbuang. Selama berjualan Ibu Neha tidak pernah melakukan pembukuan. Sehingga perhitungan laba rugi tidak dihitung secara detail.

Jika dianalisa usaha tahu tek ini memiliki kekuatan (strength) yaitu memenuhi kebutuhan mahasiswa yang tidak sempat sarapan/makan siang, tempatnya strategis, pesaing sedikit. Kelemahan (weakness) yaitu minimnya keuntungan yang di peroleh, makanan tidak tahan lama, hari berjualan pada hari-hari aktif saja. Kesempatan (opportunity) yaitu tidak ada yang menjual tahu tek lain di kantin, menambahkan menu lain, mengembangkan inovasi menu tahu tek. Ancaman (threat) saingan dengan penjual makanan lain dan rasa bosan dari mahasiswa karena hanya menyediakan satu menu.

Reported by :

Yahya Efendi

Retno Aprilina

Yuyun Tri Mulyani

Merinda Lestari

Assa'diyah Kholifah