Mohon tunggu...
Yuva Lianda
Yuva Lianda Mohon Tunggu...

| MAHASISWA | STATISTIK | FOTOGRAFI | MUSIK |\r\n| about.me/yuvalianda | @yuva_lianda | http://www.facebook.com/yuva.lianda

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Berdemo Dengan Menulis

22 Desember 2012   01:35 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:13 158 0 0 Mohon Tunggu...

Orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan pendapatnya. Ada yang berbicara baik-baik agar bisa menemukan titik solusi, ada juga yang melakukan aksi demo di jalan dan berteriak menuntut ini itu. Ini adalah hal yang baik mengingat mahasiswa sebagai agent of change harus kritis dan peduli terhadap penyelenggaraan negara. Hal ini juga menyiratkan betapa pedulinya mahasiswa dengan bangsa ini.

Namun dalam prosesnya terkadang tidak selalu berjalan lancar dan seperti apa yang diharapkan. Ada yang bisa berdemo dengan baik dan lancar, namun tak jarang berakhir dengan kerusuhan. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat video demo mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Jakarta yang saat itu berhasil untuk bertatap muka langsung dengan aparatur pemerintahan. Jujur video tersebut sangat menggelitik sekali. Mahasiswa yang di jalanan sering berteriak antikorupsi, turunkan harga dan sebagainya sama sekali tidak berkutik ketika dihadapkan langsung secara empat mata. Dia berkata “mana janji anda?” kepada pemerintah yang baru saja dua bulan memimpin Jakarta. Terang saja sang bapak langsung marah dan berkata “kami baru dua bulan dilantik dan anda sudah bilang mana janji anda?”. Bagi yang sudah melihat videonya pasti akan senyum-senyum sendiri. Ampun deh, skripsinya apa kabar ya? Terlepas dari itu semua, tentu kita sangat menghargai niat dari mahasiswa tersebut untuk mengawal pemerintahan.

Sebagai orang yang berkuliah di Perguruan Tinggi Kedinasan, tentu berdemo adalah hal yang terlarang bagi kami. Wajar saja, disekolahkan pemerintah, dibiayai pemerintah dan bekerja di pemerintahan masa’ mau demo sama pemerintah? Tapi tentu saya juga tidak akan menutup mata dengan segala carut marut pemerintahan negeri ini. Walaupun dilarang untuk turun ke jalan dan berteriak-teriak seperti teman di perguruan tinggi lain, maka cara yang paling tepat untuk kami berdemo adalah menulis.

Di sebuah mata kuliah, saya sempat bertanya kepada dosen yang juga berstatus sebagai PNS. “Bagaimana caranya kita melakukan kritik kepada pemerintah Bu? Kita sendiri tahu bahwa itu tidak mungkin dilakukan disini.” “Menulislah, kirim ke media agar masyarakat tahu” jawab sang dosen. Sampai sekarang kata-kata ini masih teringat oleh saya. Jika saya berpikir ulang, memang benar juga. Menulis merupakan cara terbaik untuk kami dalam menyampaikan pendapat.

Terkadang saya iri dengan teman-teman mahasiswa lain yang dengan mudahnya turun ke jalan. Mereka dengan mudahnya sampai di Senayan dan melakukan orasi. Ya, itulah mahasiswa. Semangat, membara dan luar biasa. Namun sebagai mahasiswa kedinasan bukan berarti saya harus diam dan setuju dengan segala kebijakan pemerintahan bukan? Sejatinya, kita semua memiliki visi yang sama, menjadikan rakyat yang lebih baik dan sejahtera. Hanya saja cara masing-masing orang berbeda.

Ya, mungkin cara terbaik untuk berdemo bagi saya adalah dengan menulis. Mudah, murah dan tepat sasaran. Dengan menulis,kita lebih leluasa dalam mengutarakan pendapat. Mungkin jika si mahasiswa di atas menulis untuk pemerintah, saya rasa akan terlihat lebih cerdas dan lebih bermartabat. Jika ia menggunakan tulisan, pastilah tidak akan berujung dengan atmosfir panas.

Jadi, walaupun kita tidak bisa turun ke jalan, kita masih bisa turun di dunia media dan mengungkapkan pendapat kita. Tentunya dalam menyampaikan kritik, ada aturan tersendiri yang harus dipatuhi. Bagi saya, menulis tanpa data sama saja dengan dusta. Karena itu sebelum menulis, kita harus yakin bahwa permasalahan yang kita angkat benar terjadi di masyarakat dan ada sumbernya. Boleh subjektif asalkan sopan. Semua berhak melakukan kritik melalui tulisan asal sesuai dengan norma dan etika.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x