Mohon tunggu...
Yusrizal Helmi
Yusrizal Helmi Mohon Tunggu... Things

Just coffee and stories

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Di Antara Kegilaan dan Kewarasan yang Begitu-begitu Saja

24 Februari 2020   18:11 Diperbarui: 24 Februari 2020   18:11 19 1 0 Mohon Tunggu...

Ada yang menarik dari kajian buku trilogi Yuval Noah Harari tentang sejarah manusia hingga manusia masa depan.

Disana dikaji tentang manusia (homo sapiens) adalah mahluk  paling dominan dalam masyarakat dunia yang disebabkan oleh fleksibilitasnya dalam sebuah kerumunan/ kumpulan besar.

Manusia memang tidak lebih besar dari gorila secara fisik, tapi bisa lebih dominan karena kemampuannya dalam   mengolah sistem transfer informasi untuk mengikat di antara satu dengan yang lainnya sehingga menjadi sebuah kerumunan besar.

Mengolah sistem transfer informasi yang dimaksud di sini adalah kemampuan untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, serta mendistribusikannya. Proses ini tidak bisa dilakukan masyarakat dunia selain manusia.

Manusia selalu berusaha untuk meningkatkan efisiensi dalam proses transfer sistem informasi ini. Jika jauh sebelumnya hanya melalui mulut ke mulut, surat menyurat, lalu kini menjadi sangat efektif menggunakan internet yang pada akhirnya menghapus sekat ruang dan waktu.

Kunci utamanya adalah efisiensi sistem transfer informasi antar "Sapiens".

Lalu informasi/ data apa yang pada akhirnya mampu mengikat manusia menjadi sebuah kerumunan besar?

Data/ informasi yang selalu mampu mengikat manusia untuk menjadi sebuah kerumunan besar adalah FIKSI.

Yuval Noah Harari menyebutkan ukuran sesuatu itu apakah sebuah fiksi atau malah sebuah realita adalah dari bentuk pengorbanannya.

Let's say klub bola Juventus tersandung kasus Calciopoli, Juventus tak pernah menangis. Tapi Gianluca Pessotto mencoba bunuh diri karena hal tersebut. Juventus--fiksi, Gianluca Pessoto adalah realita. Atau ketika kita berbicara tentang PSSI misalnya ketika dibekukan oleh FIFA atau AFC, maka PSSI tidak akan pernah menangis. Tapi para pemain profesional akan kelabakan karena sumber mata pencahariannya telah tertutup. PSSI= fiksi, sedangkan para pemain dan semua orang-orang di dalamnya adalah sebuah realita.

Kembali lagi, kerumunan Sapien diikat oleh cerita-cerita fiksi. Imajinasi-imajinasi para 'chief' yang di ceritakan secara terus menerus, turun temurun, sehingga menjadi dogma.

Sayangnya saya tidak ingin berlarut-larut untuk melanjutkan persoalan tersebut hingga menuju 'Manusia yang menyerupai Tuhan'.

Dari sini saya hanya ingin mengambil 2 hal.

1. Efektifitas sistem transfer informasi, dan
2. Fiksi; Future Hope.

Dalam era revolusi industri 4.0, kecerdasan manusia dalam kaitannya dengan kecerdasan buatan (AI) semakin dekat. Sistem transfer informasi di antara keduanya seperti seorang kakak dengan adik yang ingin terus belajar.

Basis dasar kecerdasan artifisial tentang teorema matematika dalam melahirkan  rumusan algoritma dalam mewujudkan wearable device jenius, tidak akan pernah bisa mengalami percepatan tanpa mimpi besar manusia melalui kegilaan imajinasi yang pada awalnya selalu dianggap sebuah mitos atau fiksi.

Taruhlah Larry Page yang bermimpi- berimajinasi untuk menghadirkan perpustakaan ke dalam kamarnya, merupakan fiksi yang menjadi cikal bakal lahirnya Google. Atau Mark Zuckerberg yang bermimpi untuk memiliki banyak teman tanpa harus capek keluar rumah, tanpa harus tekor nongkrong di warung kopi, dsb, maka muncullah Facebook.

AI (kecerdasan buatan) dengan bermacam rumusan algoritma selalu bisa untuk menandingi kecerdasan manusia. Bahkan di tahun 1997, Perangkat komputer IBM yang diberi nama Deep Blue sudah bisa mengalahkan pecatur dunia Garry Kasparov. Yang perlu digaris bawahi adalah sekedar menandingi, bukan melampaui atau melewati kecerdasan manusia.

Apa yang tidak akan atau yang memiliki probabilitas kecil untuk dimiliki oleh kecerdasan buatan? Jawabannya adalah imajinasi dan kegilaan.

Maka dari itu, benar adanya ketika kita kembali kepada catatan awal bahwa yang membuat manusia/ Sapiens mendominasi masyarakat dunia adalah kemampuannya untuk mengumpulkan, mengolah, dan lantas mendistribusikan kepada yang lain. Terlepas data yang dikumpulkan benar atau tidak, adalah persoalan lain. Tapi kemampuan untuk mengumpulkan, mengolahnya dengan kekuatan imajinasi dan kegilaan yang dimiliki, manusia bisa membuat sebuah kerumunan yang jauh lebih dominan daripada masyarakat dunia yang lainnya dengan kemampuan distribusi informasi yang terus berkembang.

Jadi...

Sebagai generasi yang mau tidak mau sedang berada dalam sebuah era yang kita sebut dengan revolusi industri 4.0, entah being or beyond, sesadar-sadarnya kekuatan imajinasi serta kegilaan yang konstruktif adalah senjata utama 'sapiens' dalam lintasan era kecerdasan artifisial.

Jika tiga pilar utama manusia saat ini adalah;

 1. Mencerdaskan tubuh biologisnya
 2. Mencerdaskan proses relasi dan transfer informasinya.
 3. Mencerdaskan alat-alat yang digunakannya.

Maka landasan proses berpikir dan berimajinasi kita ketika memilih untuk berada pada lajur pacu 4.0 entah dalam bidang sosial atau ekonomi adalah sekuat-kuatnya berimajinasi dalam tiga pilar tersebut.

Sudah saatnya sekolah atau lembaga pendidikan tidak lagi mengajak anak didiknya untuk menghafal, tapi lebih kepada bagaimana mereka terbiasa dalam proses berfikir serta sekuat-kuatnya berimajinasi  dalam satu tujuan akhir; solving the problem--'manfaati'

Bukan lagi belajar matematika, tapi belajar cara belajar matematika. Karena saya yakin, semua anak-anak jaman sekarang sangat mudah menjawab soal 20+20=? daripada soal;

"Darimana kita bisa mendapatkan jumlah 40 (?+?=40)."

Saya yakin jawabannya akan berbeda-beda, tapi hasilnya akan sama-sama 40. Kemampuan imajinasi berdasarkan data yang mereka kumpulkan yang akan menentukan kecepatan dan kemampuannya dalam menjawab.

Being or beyond 4.0, jika kita sederhanakan hanyalah persoalan

1. Sehebat apa kemampuanmu mengumpulkan data?
2. Segila dan sekuat apa imajinasimu dalam mengolah data yang telah didapatkan?
3. Serta seefektif apa proses distribusimu kepada manusia yang lainnya?

So, being or beyond tergantung pilihan masing-masing. Tapi memilih kalah sebelum berperang, bukan pilihan Homo Sapiens.

*Nb: menurut KBBI homo sapiens berarti manusia yang berpikir).

Malang, -

VIDEO PILIHAN