Mohon tunggu...
Yusep Hendarsyah
Yusep Hendarsyah Mohon Tunggu... Kompasianer, Blogger, Bapak Dua Anak

Si Papi dari Duo KYH, sangat menyukai Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Program Ayah Mengajar, Solusi Bias Gender dalam Pendidikan Usia Dini?

21 November 2019   12:26 Diperbarui: 21 November 2019   14:24 147 5 2 Mohon Tunggu...
Program Ayah Mengajar, Solusi Bias Gender dalam Pendidikan Usia Dini?
Papa Kayama berfoto bersama anak anak TK Permata Hati Tangerang | dokpri

Hai para Papa muda!

Banyak dari Papa yang sibuk setiap hari baik itu di weekdays maupun weekends. Nah, seminggu yang lalu saya, (Papa Kayama) diundang oleh Kepala sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) nya untuk mengajar murid-murid di kelas TK rentang  usia 4 s.d  5 tahun.  

Awal dapat kabar ini saya merasakan kok berat ya menjalaninya. Karena bakalan kaku dan agak gimana gitu ngurusin anak-anak seusia itu. Pasti ada yang suka nangis, rewel dan sebagainya. Meski kedua anak saya dari bayi sampai sekolah sangat akrab dengan bapaknya. Tapi mengajar mereka apalagi dikasih tema (Tanaman Hias) yang tidak saya kuasai, serahkan sama  guru-gurunya deh, selesai itu!

Pandangan saya mungkin sama dengan pandangan papa lainnya yang menganggap pendidikan usia dini itu  sudah cukup dilaksanakan di sekolah , tidak perlu melibatkan orang tua untuk turut masuk ke dalam kelas mengajar sesuatu yang tidak dikuasainya. Apalagi para ayah yang bekerja menafkahi keluarganya harus mendapatkan ijin dulu dari kantor dan diantaranya akhirnya memilih cuti. 

Saya pun hanya mendapatkan ijin setengah hari untuk masuk kantor dari kegiatan ini  bersama lima Papa muda lainnya. Menyanyi, menggambar, bermain di lapangan dan lainnya, sungguh 5 lelaki dewasa yang saya temui calon guru dadakan ini merasakan hal yang sama. Bingung!

Bagi para papa yang ada di luar sana. Percayalah, ternyata nasib anak-anak kita sepenuhnya menjadi tanggung jawab  guru-gurunya di sekolah. Kalau di rumah biar saja kami yang uruskan. Sebentar, benarkah demikian?

Saya yang memang setiap hari mengantar anak-anak sekolah baik yang sulung ke Sekolah Dasar, maupun Kayama yang masuk di  sekolah PAUD/TK. Saya perhatikan, jarang sekali anak-anak yang diantar oleh bapak/ayah/papa dari anak-anak tersebut. Kalau pun ada sedikit dan bisa dihitung dengan jari. Bagi anak yang perempuan, tentulah ada kesesuaian antara  pendidikan di rumah maupun di sekolah. Apalagi mayoritas para pengajarnya  ibu-ibu semua (perempuan). Nah, ini yang menariknya.

Pokoknya Si Papa ngasih kebebasan deh buat anak anak mau duduk di mana bebas.Hehehehe | dokpri
Pokoknya Si Papa ngasih kebebasan deh buat anak anak mau duduk di mana bebas.Hehehehe | dokpri
Pernah gak sih papa berpikir kalau di PAUD/TK mayoritas yang menjadi guru bagi anak-anak adalah perempuan kaum hawa. 95 (Sembilan puluh lima) persen guru Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini (TK/PAUD) di Indonesia adalah perempuan. Kurangnya guru laki-laki membuat anak pria sebagai siswa TK/Paud kurang terlayani sesuai dengan kodratnya. Kondisi ini yang melatari munculnya gagasan  ayah masuk kelas secara bergilir untuk mengajar, bermain dan memberikan motivasi serta inspirasi bagi anak. 

Saat saya memperkenalkan diri sebagai ayah pengajar (guru dadakan) anak saya langsung berteriak "papi gendong!" Lalu saya gendong sebentar dan mendapat protes dari guru setempat karena nanti anak-anak lainnya siapa yang gendong ? Hehehehe

Hampir setengah jam, anak-anak berbaris rapi di depan kelas, menyanyi balon ku ada lima, naik-naik ke puncak gunung sampai membacakan asmaul husna. Terlihat riang gembira, senang dan penuh energy positif. Karena itulah mereka harus diperlakukan. Bukan untuk diekploitasi, diajarkan agar bisa membaca cepat, mampu berhitung 1-20 dengan benar, mampu berbahasa Indonesia yang benar apalagi bahasa inggris. Usia mereka adalah 90 persen bermain. Bermain edukasi.

Bermain ketangkasan Menyusun Balok

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x