Mohon tunggu...
Dr. Yupiter Gulo
Dr. Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, peneliti, instruktur dan penulis

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Terungkap Alasan Prof. Arief Budiman Memilih Tinggal di Salatiga

5 Mei 2021   23:16 Diperbarui: 6 Mei 2021   10:09 1210
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.youtube.com/watch?v=s5kKpP3lsLQ

Profesor Arief Budiman sudah meninggal setahun yang silam, tepatnya 23 April 2020, tetapi memori tentang beliau masih terus hidup dan malah semakin digali, terutama tidak saja oleh para mantan murid-murid dan teman sejawatnya, tetapi juga komunitas keilmuan di bidang seni, biduaya, sosial bahkan juga ekonomi dan politik. 

Sejumlah webinar terus bergulir untuk mengenang, merefleksikan dan mendokumentasikan perjalanan eksistensi seorang Arief Budiman yang dianggap sebagai legasi penting bagi komunitas keilmuan Seni Budaya dan Sosial. 

Sebuah tanya yang menarik, mengapa Arief Budiman memilih Salatiga sebagai tempat tinggal sejak pulang dari Amerika Serikat setelah menyelesaikan PhD programnya di Harvard University, dan tidak kembali ke kampus almamaternya di Universitas Indonesia Jakarta pada tahun 1980?

Pertanyaan ini terungkap dan dijawab dengan gamblang dalam acara Webinar Nasional bertajuk "Arief Budiman Dalam Kenangan" pada Rabu sore 5 Mei 2021 yang digelar  oleh Fakultas Interdisiplin dan FISKOM Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. 

Sebuah acara refleksi yang menghadirkan 4 orang Profesor sebagai nara sumber, yaitu Prof. Melani Budianta dari Universitas Indonesia, Prof. Ariel Heryanto dari Monash University Australia, Prof. Vedi Hadiz dari University of Melbourne, dan Prof. Nico Schulte Nordholt dari University of Twente Netherlands, serta Doktor Kamala Chandrakirana. Dan dipandu langsung oleh Dekan Fakultas Interdisiplin UKSW, Dr. Titi S. Prabawa.

280 orang peserta Webinar | Dok Pribadi
280 orang peserta Webinar | Dok Pribadi
Terasa singkat acara yang berlangsung selama 3 jam non stop dan sangat luar biasa ini karena semua materi nara sumber seakan menyatu dalam sebuah dokumen sejarah tentang perjalanan hidup seorang tokoh Arief Budiman, yang lebih dikenal dengan "musuh" rezim Orde Baru, era Soehato. Dan bagi saya sebagai mantan murid  Arief Budiman mereview habis benang merah eksistensi pemikiran dan perjuangan Arief Budiman hingga akhir hayatnya. 

Ada alasan utama mengapa Arief tidak tinggal di Jakarta dan melanjutkan perjuangan dan karir akademik, seni dan budayanya. Dan  malah pergi ke desa kecil di kaki gunung Merbabu yaitu di kampus UKSW Salatiga Jawa Tengah. 

Pertama, kota Jakarta tidak sesuai lagi dengan apa yang dibayangkan dan diinginkan oleh Arief Budiman. 

Ketika menginjak kota Jakarta sekembali dari AS, dia kaget luar biasa dan merasa asing sama sekali dengan kemajuan yang dicapai selama ini. 

Dia merasa ada yang hilang dari Jakarta ini. Dan dia merasa perlu mencari apa yang hilang itu. Dan karenanya dia memutuskan untuk tidak tinggal di kota kelahirannya Jakarta.

Prof. Melani Budianta | Dok Pribadi
Prof. Melani Budianta | Dok Pribadi
Kesimpulan pertama ini, tercemin dari narasi yang dibungkus dengan sangat rapi, padat, mengalir sederhana tetapi tuntas dan komplit dalam video Prof. Melani Budianta yang melihat dalam garis sejarah perjuangan seorang Arief Budiman sejak masih mahasiswa di UI sebagai seniornya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun