Mohon tunggu...
Dr. Yupiter Gulo
Dr. Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, peneliti, instruktur dan penulis

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Paskah 201 : Memaknai Fenomena Bunuh Diri dan Paskah Membebaskan

2 April 2021   01:03 Diperbarui: 4 April 2021   09:37 264
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://andreasnataatmadja.com/

Publik pun maklum sejelask-jelasnya bahwa keyakinan yang benar dan lurus tidak pernah mendogmakan bunuh diri untuk mencapai tujuan yang mulia sebagai makhluk sosial yang mulia karena ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dogma sempit yang menyesatkan, akan dialami oleh seseorang, pun banyak orang, karena beragam faktor yang tidak berdiri sendiri tetapi saling kait mengkait. Apalagi dalam era globalisasi, keterbukaan informasi, ditimpali oleh era digitalisasi yang serba mudah dan murah akses pada sumber informasi super global. Pada sisi lai, kemampuan dan literasi social skill setiap orang sangat berbeda bahkan disparitasnya amat sunggu dalam dan jauh.

Paskah yang Membebaskan

Kalau dihubungkan antara fenomena bunuh diri, utamanya kejadian bom bunuh diri di gerbang gereja Katedral Makassar Minggu 28 Maret 2021 pada pukul 10.30 WITA, dan  3 hari kemudian di Rabu 31 Maret 2021 seorang wanita muda berumur 26 tahun tewas di tempat karena di tembak oleh polisi ketika menerobos masuk halaman Mabes Polri Jakarta dan melepaskan 6 kali tembakan, dengan masa Paskah yang mulai dirayakan Kamis putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi serta puncaknya hari Minggu Paskah, harusnya ada korelasi. 

Bagi umat Kristiani, masa raya paskah yang dahului dengan mingu-minggu sesangsara pra paskah selama 40 hari, menceritakan bagaimana Yesus Kristus mengalami penderitaan dan sengsara bahkan pencobaan maut yang datang dari si setan dan iblis saat berada di padang pasir. Tidak hanya itu, puncak kesengsaraan Yesus ketika dia dikhianti oleh murid-muridnya hinga disiksa, dan disaslib dan mati diatas bukit tengkorak, Golgota.

Secara spiritual, sesungguhnya puncak penderitaan dari Yesus, bukan ketika dia disalib, tetapi ketika dia merasa ditinggal oleh Bapa-Nya sendiri. Seperti disaksikan ketika Yesus berdoa semalaman di taman getsemani. Cawan harus diminum, dan harus melalui kematian itu sendiri hingga dikuburkan layaknya manusia yang mati secara sah dan utuh.

Tetapi, pada akhirnya, Paskah sesungguhnya bukan kisah kematian itu sendiri, tetapi cerita dan kisah tentang kebangkitan orang mati, yaitu pada hari ketiga setelah dikubur, Yesus Bangkit dan Hidup kembali. Kebangkitan Yesus menjadi kemenangan atas maut dan dosa yang telah membunuh danmemutuskan hubungan manusia dengan Sang Allah sendiri. Kebangkita Yesus menjadi bukti janji Allah sendiri, bahwa ada kebangkitan dari kematian dari setiap orang percaya kepadaNya. Sebab sesungguhnya Paskah itu membebaskan manusia dari belenggu dosa dan menyelamatkan jiwa manusia dari ikatan dosa, hukuman dan kuasa dunia yang fana.

Jadi, bunuh diri tidak perlu terjadi ketika setiap orang meyakini bahwa Paskah itu membebaskan dari tekanan apapun dalam hidup didunia ini. Bukan saja hanya urusan materi dan kebandaan dunia, tetapi juga hal spritual yang seharunya ada di dalam genggaman dan kendali Allah sendiri.

Bagi sahabat kompasianer yang merayakan, Selamat Paskah 2021, Tuhan datang untuk membebaskan bukan untuk membelenggu!

Yupiter Gulo, Jumat Agung, 2 April 2021,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun