Mohon tunggu...
Yupiter Gulo
Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Belajar ilmu ekonomi, menekuni area manajemen. Fokus keuangan-investasi-pasar modal, HRM dan Strategic Management. Competence CRP, Finance Analis, WPPE, HRA berbasis Research. Menulis buku ajar, artikel dan jurnal. Mengajar dan belajar membuat pikiran dan hati selalu

|Belajar. Mengajar dan Menulis Mengantar Pikiran dan Hati Selalu Baru dan Muda|

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Kerugian Bisnis Online Akibat Pembatasan Media Sosial

26 Mei 2019   00:09 Diperbarui: 26 Mei 2019   09:15 0 10 3 Mohon Tunggu...
Kerugian Bisnis Online Akibat Pembatasan Media Sosial
https://regional.kompas.com/read/2019/05/25/11264241/dampak-pembatasan-media-sosial-penjualan-online-anjlok

Pengguna sosial media Indonesia akhirnya merasa lega, karena sore hari Sabtu ini pembatasan terhadap sosmed dicabut kembali oleh pemerintah yang diberlakukan sejak tiga hari yang lalu, walaupun informasi yang beredar sebelumnya akan diberlakukan 10 hari sejak 22 Mei 2019.

Nampak semua menjadi penuh keceriaan karena semuanya bisa terhubung kembali, dan komunikasi sosialpun kembali normal. Selama tiga hari, seakan suasana hati sepi adanya, dan hubungan dengan sesama kontak terputus habis. Walaupun banyak yang berusaha terus mencoba tetapi tetap saja tidak bisa diakses.

Sangat menarik, karena sama sekali masyarakat tidak menduga akan kebijakan ini. Dan juga tidak terbayangkan seperti apa bentuk pembatasan ini. Ampuhkah cara ini untuk mengerem berita hoaks dan berbagai usaha provokatif melalui sosial media tentang Pemilu 2019?

Berdasarkan hasil analisa yang di laporkan oleh VOA, Voice of America, menunjukkan data yang mencengangkan dengan kesimpulan bahwa aktivitas online terkait Pemilu di Indonesia turun hampir 95%.  

Media sosial yang aksesnya dibatasi adalah Facebook, Instagram, dan Whatsapp. Menurut analisa data VOA, aktivitas di Facebook terkait pemilu di Indonesia turun 94,9%, dan Instagram turun 91,9% dalam periode 21-24 Mei.

Bila melihat hasil analisa data VOA diatas maka kebijakan pemerintah untuk membatasi akses media sosial sangat efektif dan ampuh. Dan apabila ini diyakini sebagai salah satu sumber utama penyebab munculnya kerusuhan yang berakibat fatal, maka dampaknya menjadi sangat kondusif dari sisi keamanan.

Fenomena ini bisa dipahami dengan sejumlah data dalam dunia industri sosial media yang betul-betul telang menguasai pola komunikasi dan interaksi sosial masyarakat Indonesia saat ini.

Masih data yang dikutip oleh VOA dari Menteri Komunikasi dan Informasi RI, diperoleh data-data yang sangat aktual tentang masyarakat pengguna medsos hingga April 2019.

Menurut Menkominfo Rudiantara, pengguna ponsel di Indonesia ada lebih dari 200 juta orang, dan "hampir semua menggunakan Whatsapp." Pengguna Facebook di Indonesia ada 120 juta orang, dan Instagram 56 juta orang per April 2019.

Berdasarkan data-data ini, dipastikan bahwa masyarakat Indonesia sebagai salah pengguna medsos terbesar di dunia, berada dalam jaringan medsos yang sangat tinggi.

Bayangkan saja, dari sekitar 269 juta penduduknya, menjadi pengguna ponsel dan sekaligus Whatsapp. Sisa sejumlah 69 juta mungkin tidak signifikan sebagai pengguna medsos, dan juga tidak berarti dalam mengganggu jalannya proses Pemilu 2019.

Dengan demikian, bisa dipahami alasan pemerintah untuk melakukan pembatasan medsos selama tiga hari penuh. Sebuah strategi baru yang menarik untuk mengendalikan dinamika sosial kedepan.

Bagaimana dengan dampak bisnis yang dialami oleh para pengusaha di Indonesia, khususnya bisnis yang berbasis online dan aplikasi ?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3