Mohon tunggu...
Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Mohon Tunggu... Dosen - Dreams dan Dare (to) Die

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Raket Pilihan

Berharap CADW di SEA Games

3 Mei 2022   09:07 Diperbarui: 3 Mei 2022   09:23 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mengandung unsur nama Jawa (dari kata "Dwi Wardoyo") Chico aslinya adalah orang Papua. Lahir di Jayapura, kemudian main di PB Pemda atau klub Cendrawasih. Lalu pindah ke Jakarta dan semakin berkembang permainannya di ibukota ini. Chico masuk PB Exist di Jakarta pada tahun 2013 dan bernaung di klub tersebut selama 2 (dua) tahun.

Chico memiliki keunggulan yang jarang dimiliki pemain tunggal Indonesia, yaitu tubuhnya bongsor. Tinggi badannya melewati 180 centimetres (cm), lebih tinggi daripada Jojo yang barangkali 179 senti. 

Beberapa pemain tunggal masa lalu kita yang tinggi badannya melampaui 180 cm biasanya memiliki periode puncak (peak performance) atau masa bermainnya lama. Misalnya Rudy Hartono, Eddy Kurniawan, dan Fung Permadi. Mereka masih bisa berprestasi meski usia lebih dari 30 tahun.

Ada satu ketidakberuntungan era Chico ini. Dia muncul saat tunggal Indonesia berada pada masa panen emasnya. Ada Ginting, Jojo, Shesar Hiren Rustavito. 

Dulu ditambah keberadaan Ihsan Maulana Mustofa dan 'si kidal" Firman Abdul Kholik. Sehingga pelatnas cenderung mengirim para pemain-pemain tersebut ke ajang multi level (baik series mapupun super series) dibanding generasi Chico ini. Rekan-rekan Chico yang seangkatan misalnya Ihsan Leonardo Imanuel Rumbay, Yonathan Ramlie, dan Christian Adinata.

Fenomena kesenjangan generasi atau generation gap ini pernah beberapa kali dialami Indonesia. Seingat saya Icuk Sugiarto dulu yang pernah mengatakan bahwa gap -terutama di tunggal putra- adalah selama 10 tahun. Sewaktu Rudy Hartono turun, bisa disambung oleh Liem Swie King, kemudian Icuk. 

Regenerasi berjalan lancar. Namun ketika Icuk turun, generasi berikutnya belum muncul. Maka PBSI mem-push pemain yunior usia 20 tahunan agar jam terbang tinggi. 

Mereka adalah Alan Budikusuma, Ardy Bernardus Wiranata, dan Hermawan Susanto. Setelah juara Thomas Cup tahun 1984, baru tahun 1994 Indonesia bisa juara lagi. Artinya menunggu 10 tahun. Kemudian saat Icuk juara dunia, itu terjadi tahun 1983. Baru bisa diulang oleh "sama sama wong Solo" yaitu Joko Suprianto pada tahun 1993, dengan mengalahkan kompatriotnya -Hermawan Susanto.

Sesudah itu muncul Joko Suprianto dan Heryanto Arbi. Mereka berdua turun tahta, muncul Hendrawan, dan selanjutnya Taufik Hidayat. Berbarengan dengan Taufik ada Sony Dwi Kuncoro, dan Simon Santoso. Kemudian ada Tommy bin Icuk Sugiarto. Namun di tengah angin-anginnannya prestasi Tommy (dan saat itu ada Hayom Rumbaka), belum muncul generasi pengganti yang bisa diandalkan.

Sehingga PBSI era Gita Wiryawan (dengan pelatih kepalanya Rexy Mainaky) memberi perhatian ekstra kepada Ginting, Jojo, dan Ihsan Maulana Mustofa serta Firman Abdul Kholik. Dari keempatnya hanya Ginting dan Jojo yang bertahan. Kemudian masuk lagi Sheshar Hiren Rhustavito yang dulunya sempat terlempar dari pelatnas.

Chico ini sebenarnya seusia dengan Lee Jii Zia dari Malaysia. Mereka lahir pada tahun yang sama. Namun Lee Jii Zia sudah masuk 10 besar dunia, sedangkan Chico masih peringkat 50-an. Bisa jadi karena Lee JZ lebih banyak dimainkan di pertandingan internasional (Malaysia juga mengalami gap generation pasca mundurnya Lee Chong Wei) maka Lee Jii Zia lebih terasah kemampuannya. Lee juga merupakan peraih juara All England tahun lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Raket Selengkapnya
Lihat Raket Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun