Mohon tunggu...
Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Mohon Tunggu... Dreams and Hope

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Ternyata MRT: M-enjadi R-uang T-unggu

13 Juli 2019   16:34 Diperbarui: 14 Juli 2019   15:08 0 2 3 Mohon Tunggu...
Ternyata MRT: M-enjadi R-uang T-unggu
Sumber: https://megapolitan.kompas.com 

Menteri Sekretaris Kabinet dalam twitt hari Sabtu pagi secara tidak terang-terangan menyatakan bahwa akan terjadi pertemuan antara pak Jokowi dan pak Bowo. Selengkapnya saya kutip dari kompas.com tulisan pak Pramono Anung (Menseskab) sebagai berikut, "Semoga hari ini menjadi hari yang dikenang buat proses demokrasi yang semakin dewasa. Mudah-mudahan pertemuan yang terjadi membuat bangsa ini semakin kuat, maju, adil dan makmur". Unggahan tersebut diikuti dengan tanda pagar #pertemuan #indonesia dan #AlFatihah.

Dan memang akhirnya terjadi. Pertemuan antara Ir. Joko Widodo dengan Letjen (purn.) Prabowo Subianto kali ini merupakan pertemuan pertama setelah kontestasi Pemilu terpelik sepanjang sejarah republik ini ada, yang digelar pada tahun 2019 ini. Presiden terpilih Ir Joko Widodo bertemu dengan calon presiden Letjen (purnawirawan) Prabowo Subianto berlangsung pada hari Sabtu Wage , 13 Juli 2019 (10 Dzulqaidah). Uniknya pertemuan berlangsung di MRT atau mass rapid transit -yang dibahasaindonesiakan menjadi Moda Raya Terpadu. Dari mulai stasiun MRT Lebak bulus sampai dengan stasiun Senayan, dan diakhiri makan makan di sate senayan di Fx Sudirman. Mengapa stasiun MRT yang dipilih?

Kalau mengutip wawancara Metro Tv dengan saudara Taufik Basari (Nasdem) yang menyatakan bahwa pertemuan antara dua kandidat tersebut berlangsung di stasiun dan memakai gerbong MRT, itu merupakan tanda yang menggambarkan bahwa pak JW dan pak PS sudah satu gerbong. Boleh juga analoginya, artinya yang belum move on silakan di luar gerbong. Gerbong maju bergerak ke depan... kerja, kerja, kerja.

Intinya pertemuan itu diharapkan mengakhiri polarisasi legendaris antara kubu cebong (pendukung Jokowi) dengan kampret (pendukung Prabowo). Kedua tokoh dengan jelas telah mengajak para pendukungnya untuk mengakhiri konflik antarpendukung ini. Inilah salah satu upaya kedua tokoh untuk mengubur dalam-dalam konflik antara cebong versus kampret. Dalam hal ini arti MRT bisa dipanjangkan singkatannya menjadi M-engubur R-ivalitas T-jebongkampret. (M-aaf R-ada T-erpaksakan  singkatannya).

"Kita juga berharap agar para pendukung juga melakukan hal yang sama karena kita adalah saudara sebangsa dan se-Tanah Air. Tidak ada lagi yang namanya 01, tidak ada lagi yang namanya 02," kata Jokowi.

Lebih tegas lagi, Jokowi menekankan, "Tidak ada lagi yang namanya cebong, tidak ada lagi yang namanya kampret, yang ada adalah Garuda, Garuda Pancasila". Batin saya, kita harapkan demikian, Pak. Garuda bukan "Indonesia raya", karena kalau Indonesia raya akan menunjuk satu partai saja yaitu Gerindra --secara pak PS pemiliknya. Padahal kemarin kemarin pak jokowi mengatakan yang ada adalah "03" yaitu Persatuan Indonesia. Mengapa garuda? Bisa jadi garuda ini adalah plesetan yang sudah terkenal dari perusahaan penerbangan Garuda (dulu Garuda Indonesia Airways/ GIA), yang katanya G-o A-nd R-est U-ntil D-eparture A-rrival. Dari stasiun lebakbulus sebagai departure, sampai stasiun senayan sebagai arrival. Mengapa Lebak Bulus? Bisa jadi karena komen pak PS bahwa rambut putih pak Jokowi makin banyak. Sebenarnya pak Jokowi bisa menjawab:  Ini kan baru Lebak Bulusnya, pak Prabowo.... Bapak belum melihat Kampung Rambutan-nya ... 

Then next why, why, mengapa FX di Sudirman? Maybe mengingatkan panglima jenderal Soedirman yang merupakan idola pak Prabowo. Lalu FX-nya? Silakan dilanjut sendiri.

Lalu untuk melupakan rivalitas cebong dan kampret agar benar-benar lupa. Maka harus ditegaskan bahwa MRT sebagai tempat pertemuan merupakan akronim M-ati R-anganggo T-ilas. Dalam bahasa Jawa maksudnya mati tanpa bekas, yang berarti kebencian itu harus benar-benar lenyap. Selengkapnya dalam bahasa jawa ada pepatah "Darbe Kawruh Ora Ditangkarake, Bareng Mati Tanpa Tilas" yang artinya : Memiliki pengertian benar jika tidak dikembangkan, saat mati tidak berbekas. 

Sekali lagi kompetisi kemarin diharapkan sudah "mati" alias kita lupakan saja. Katanya, "Sudah ya. Ga ada lagi cebong kampret. Kita Merah Putih". Sehingga MRT bisa berarti: Me-Rahpu-Tih.

Barangkali seperti lagu "Pemuda" ciptaan Candra Darusman, yang sempat dinyanyikan Anggun Cipta Sasmi waktu pembukaan Asian Games 2018 lalu. Pada bagian reff.-nya "Bersatulah semua .... seperti dahulu ... lihatlah kemuka ... keinginan luhur kan terjangkau semua". Maka  MRT bisa jadi maknanya adalah M-enjadi R-indu T-empodulu. Tempotempo rindu, tempotempo bersatu ....

Pada saat sesi tanya jawab, ada wartawan yang mengkonfirmasi soal rekonsiliasi. Ini berarti MRT adalah M-au R-ekonsilitasi T-idak (?). Atau bisa juga MRT menyindir kejadian majalah Tempo yang digugat seorang purnawirawan karena mengulas Tim Mawar. Ini analisis yang nyinyir, anggap saja guyonan. Bahwa MRT adalah "MawaR Team" yang saat ini merepotkan Tempo karena dewan pers menganggap liputan Tempo tentang kaitan antara kerusuhan pasca pilpres  (saat menunggu pengumuman KPU) dengan tim Mawar adalah kurang mendalam liputannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2