Mohon tunggu...
Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Mohon Tunggu... Dosen - Dreams dan Dare (to) Die

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Cantik Itu Lukaku, Sebuah Refleksi Kemenangan Belgia

3 Juli 2018   06:34 Diperbarui: 3 Juli 2018   08:34 975
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bola. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Menangislah suporter Jepang ketika menit 90+4 gawang kiper Kawashima jebol. Dan memang kameramen World Cup 2018 sempat mengambil gambar tangisan dari salah seorang penonton Jepang di bangku stadion Rostov Arena, Russia. Finally, Jepang kalah 2-3 kontra Belgia. Padahal tim besutan coach Akira Nishino ini sudah unggul 2-0 terlebih dahulu. 

Jepang tidak bisa menyamai prestasi Korea Utara di Piala Dunia 1966 dan Korea Selatan di Piala Dunia 2002 saat Korea-korea itu bisa lolos fase kedua, secara mereka mewakili Asia. Bagi Belgia, prestasi fabulous comeback ini menyamai Jerman Barat di piala dunia 1970 ketika sempat ketinggalan 0-2 tapi akhirnya menang 3-2 melawan Inggris. 

Banyak analisis menyangkut kemenangan dramatis tim "golden generation" tersebut. Namun tulisan ini mencoba untuk lebih memandang kemenangan Belgia -dan apesnya Jepang- dalam konteks keindonesiaan kekinian. Semoga bisa menjadi bahan bacaan ringan di hari  Selasa Wage 03 Juli 2018 (19 Syawal  1439 H) yang pas dengan ultah anak keduaku yang ke-10 tahun. Ketepatan anakku suka juga beli kacang garuda, yang malemnya aku ikut memakannya karena Makin Nikmat Nonton Piala Dunia ditemani Kacang Garuda. https://www.garudafood.com/

Kembali ke partai Belgia melawan Jepang. Mungkin banyak warga Indonesia yang geram dengan pelatih Roberto Martinez di awal-awal sebelum piala dunia 2018 ini berlangsung. Ketika itu pada saat jumpa pers, Martinez mengatakan tidak akan memanggil Radja Nainggolan. 

Salah satu alasannya adalah Radja meminta porsi (dan posisi) yang sama dominannya seperti di klub. Logis sih, karena bisa jadi Martinez mengutamakan tim dan barangkali sistem defends/ offends yang dia terapkan. Intinya, Martinez tidak memilih Radja untuk masuk skuadnya.

Namun satu hal Martinez tampaknya tidak menghiraukan adanya marwah dari para "Anggi, Ito, Akkang, Lae, Eda, Amang Tua, Inang Tua, Mama Tua, Mak Tua, Amanguda, Inanguda , Inangbaju, Namboru, Amang Boru, Tulang, Nantulang, Opung Doli, Opung Boru, Pahompu, Parumaen, Simatua" dan para pendukung PSMS Medan. Para marga Nainggolan yang punya prinsip "boleh kalah mengoleksi medali PON tapi emas sepakbola harus ke Sumut". 

Sayang Martinez mengabaikan hal itu. Akan menjadi semakin populer tim Belgia ini bila memasang marga Nainggolan, mewakili keturunan dari suatu negara berpenduduk terbesar nomor 5 (lima) sedunia. Bayangkan kaos bertuliskan Nainggolan akan jadi jersey paling laku di Kualanamu, dana Toba, atau angkot Medan Lubukpakam sana.

Namun konteks keindonesiaan menyeruak kembali. Langkah Martinez selalu memasang Romelo Lukaku, mungkin mungkin saja sebagai penghibur. Bertolak dari sebuah novel Indonesia salah satu yang terlaris yang berjudul "Cantik itu Luka" tulisan Eka Kurniawan alumni Filsafat UGM. Cantik itu Luka..... ku. Barangkali demikian. Lukaku perlu ditauladani tidak hanya pemain sepakbola, tak hanya atlet bahkan, tapi juga generasi muda. 

Lukaku simbol manusia yang tak pantang menyerah, dan tidak egois. Gol terakhir dari Nacher Chadli (beberapa detik sebelum pertandingan berakhir), sebenarnya bisa saja dilesakkan oleh Lukaku. Tapi mungkin Lukaku melihat Chadli lebih bebas --dibanding dirinya yang selalu dikawal oleh 1 (satu) pemain Jepang.

Romelo Lukaku mengajarkan banyak hal. Ia lebih dari mempertontonkan keterampilan, kesadaran posisional itu yang lebih penting. Pergerakan tanpa bola, itu, itu! Maaf pinjem gaya-gaya Mario Teguh atau malah Cak Lontong dengan "itu". Romelu Lukaku menciptakan gol untuk timnya tanpa menyentuh bola. 

Semua setuju kalau Lukaku adalah salah satu striker terbaik di dunia karena ia memiliki kekuatan, kecepatan, dan kemampuan menyelesaikan gol yang komplit plit yang dikemas seorang pemain. Pemain Belgia paling cerdas di lapangan. Komitmennya untuk mempelajari permainan dan menguasai poin-poin penting dari jatidiri seorang striker merupakan komitmen yang paling eksis dalam drama Belgia-Jepang itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun