Mohon tunggu...
Yulfani Siregar
Yulfani Siregar Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Brawijaya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Mungkinkah Pinjaman Online Berbasis Syariah?

7 Desember 2021   12:40 Diperbarui: 9 Desember 2021   13:49 93 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Mungkinkah Pinjaman Online Berbasis Syariah?

Pada saat sekarang ini bisa dibilang pinjam-meminjam sudah menjadi bagian dari kebiasaan  masyarakat, baik yang melibatkan barang, uang, tanah, ataupun benda berharga lainnya. Sejak zaman Rasulullah SAW, kegiatan ini sudah dikenal dan sudah dipraktikkan, dan terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin majunya zaman. Kini sudah banyak hadir institusi keuangan yang khusus berkecimpung dalam usaha ini bahkan sekarang pinjam-meminjam sudah bisa dilakukan secara online. Contoh institusi keuangan yang bergerak di bidang simpan pinjam Misalnya, koperasi simpan-pinjam,usaha perbankan, dan lainnya. Islam pun sudah memberikan penjelasan terkait kegiatan pinjam-meminjam, dimana kegiatan ini bertujuan untuk membantu meringankan beban sesama umat manusia, dan  Rasulullah juga sudah memberikan petunjuk dan arahan mengenai hal ini. Namun pada kenyataannya yang terjadi sekarang ini ialah pelaksanaan kegiatan pinjam-meminjam mengalami perubahan yang signifikan yaitu praktiknya yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Sejarah Dan Dasar Hukum Pinjam-meminjam Dalam Islam

Dalam istilah Islam pinjam-meminjam dikenal dengan istilah Qardh dan Ariyah.  qardh, memiliki arti yang hampir mirip seperti jual beli. Secara harfiah, maknanya yakni pengalihan hak milik harta atas harta. Sedangkan 'ariyah artinya adalah memberikan suatu manfaat sesuatu barang  seseorang untuk orang lain secara percuma. Para ulama juga memperbolehkan transaksi tersebut. Dasarnya ada pada hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. “Bukan seorang Muslim (mereka) yang meminjamkan Muslim (lainnya) dua kali, kecuali yang satunya adalah (senilai) sedekah”. Demikian pernyataan Rasulullah.

Dasar lainya ada pada Al-quran terdapat dalam surah al-Haddid ayat 11. “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya. Dan, dia akan memperoleh pahala yang banyak”. Meminjam sesuatu juga memiliki landasan secara ijma.Para ulama memiliki pandangan, kesepakatan itu tidak lepas dari hakikat manusia yang tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain karena manusia adalah makhluk sosial. Sesuatu yang tidak dimiliki, padahal sangat dibutuhkan, bisa mereka didapatkan dengan cara meminjam.

Pinjam-meminjam memanglah diperbolehkan dalam islam tetapi, demi kepentingan tolong menolong sesama manusia terutama bagi yang sedang kesusahan. Di masa pandemi saat ini banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari sesama. Banyak sekali orang yang memberikan bantuan dan pinjaman bagi yang kesusahan. Namun, pinjam-meminjam di zaman sekarang sudah berbeda dengan pinjam-meminjam pada zaman Rasulullah. Pada zaman sekarang pinjam-meminjam sudah menyimpang dari ajaran Rasulullah, praktik pinjam-meminjam yang mencari keuntungan atau yang dimaksud dengan riba. Hal tersebut sangatlah dilarang oleh Rasulullah mengingat tujuan pinjam-meminjam ialah tolong menolong bukan mencari keuntungan.

Praktik Pinjam-meminjam pada zaman Rasulullah dilakukan untuk saling tolong-menolong antar saudara, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kerukunan. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada saat sekarang, yang mana lebih mementingkan keuntungan (profit) semata. Hal tersebut dibuktikan dengan penagihan yang dilakukan oleh oknum penyedia pinjaman online dimana mereka menagih tagihan dengan bunga yang besar (riba), bahasa yang sangat kasar dan membuat sakit hati yang dapat menyebabkan keresahan, kekacauan dan rusaknya persaudaraan antar umat.  

Pinjaman Online Menggunakan Prinsip Syariah VS Pinjaman Online Yang Tidak Menggunakan Prinsip Syariah

Sudah tidak bisa dihindari lagi Pinjaman Online di tengah era digital sudah menjadi tren di masyarakat terlebih lagi disaat pandemi Covid-19 sekarang, masyarakat membutuhkan hal-hal yang instan dalam memenuhi kebutuhannya. Bagaimana tidak, kemudahan yang diberikan dalam hal meminjam uang, hanya bermodalkan foto dengan KTP, hal ini membuat banyak orang tergiur untuk menggunakannya.Pinjaman Online yang memberikan kemudahan, terlebih disaat pandemi dipandang lebih efektif, cepat dan mudah daripada kedua belah pihak harus bertemu secara langsung di lokasi untuk melakukan transaksi pinjam-meminjam.

Namun dengan demikian, pinjaman online pada praktiknya menyisakan problem di masyarakat. Mulai dari adanya praktik ribawi seperti bunga pinjaman yang besar, ancaman fisik bagi peminjam yang tidak bisa bayar hutang, ancaman penyebaran data pribadi kepada publik dan lain sebagainya. Lalu bagaimana Islam melihat praktik pinjol ini , dan apa yang membedakan antara pinjol berprinsipkan syariah dengan pinjol yang tidak menggunakan prisip syariah?

Pinjaman online syar’i merupakan pinjaman keuangan yang berbasis syariat agama Islam. Tentu saja pinjaman online ini harus sesuai dengan prinsip hukum syar’i. Ada beberapa prinsip yang bisa diterapkan seperti : dalam pelaksanaannya menggunakan prinsip akad murabahah, prinsip akad mutahiyah bit tamlik dan prinsip akad mutanaqishah. dan apabila akad dilakukan lebih dari satu tahun maka pihak pemberi pinjaman dan peminjam wajib mengeluarkan zakat sesuai dengan ketentuan islam. Dari sini dapat  diartikan bahwa semuanya tergantung pada prinsip akad atau kesepakatan awal antara pinjol syariah dengan peminjamnya. Jika akad atau perjanjian yang dilakukan memenuhi syariat islam, maka pemberian pinjaman dapat dinyatakan halal hukumnya.  hal penting yang perlu diperhatikan dalam pinjaman online syariah adalah dilakukan dengan tujuan untuk saling tolong menolong antar umat beragama, membantu meringankan beban sesama, memperoleh pahala amal kebaikan dari Allah Swt, mempererat persaudaraan, dan juga menumbuhkan kerukunan.Dan dalam pelaksanaanya sama sekali tidak ada unsur riba , serta tidak melakukan pengancaman kepada peminjam yang belum bisa membayar hutang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan