Mohon tunggu...
Yudi Irawan
Yudi Irawan Mohon Tunggu... Bukan Seorang Penulis

Seseorang yang baru saja belajar menulis di usia senja :-)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

[Cerita KRL] Musikmu Bukan Musikku

26 November 2018   21:03 Diperbarui: 26 November 2018   22:03 259 0 0 Mohon Tunggu...

Embun pagi masih sempat saya rasakan pagi ini. Bulirnya juga menghiasi jok motor saya. Rasanya sayang untuk saya hilangkan. Tapi tetap harus dilakukan, karena saya harus mengantar bidadari kecil untuk mengejar mimpi dan cita-citanya di sekolah. Sebuah lap kering akhirnya sukses memudarkan kecantikan kristal bening cair itu. Ah sudahlah, besok juga akan datang lagi...

Semua sudah siap. Tinggal memacu roda dua tua itu saja menyusuri aspal yang juga masih basah. 10 menit berlalu untuk sampai di sebuah sekolah dengan nuansa warna hijau. Selesai mengantar sang bidadari kecil, motor tua itupun mengikuti keinginan saya untuk lanjut menuju stasiun. Hanya butuh waktu 20 menit saja untuk saya dapat memarkir motor ditempat parkir langganan.

Sejurus kemudian, saya sudah tiba ditempat biasanya. Sebuah jalur dan peron yang nantinya akan disinggahi oleh 12 rangkaian kereta. Dan juga seperti biasanya, beberapa kerumunan atau kelompok kecil sudah berkumpul rapi untuk nanti sama-sama berjuang memasuki pintu kereta demi sebuah kursi empuk pengantar tidur pagi.

Juga seperti biasanya, saya memilih untuk menghindari perjuangan pagi itu. Saya biarkan diri saya masuk kereta setelah tidak ada lagi pergulatan rutin yang sudah terjadi. Entah kenapa kali ini saya memilih untuk berdiri di gerbong yang dekat dengan tempat duduk prioritas. Ini merupakan gerbong sambungan. Tempat yang juga menjadi tempat favorit bagi sebagian orang, khususnya yang sudah saling mengenal satu sama lain. Tapi walaupun saya tidak mengenal mereka, saya tetap cuek. Bagi saya yang penting bisa berdiri ditempat yang jauh dari desak-desakan penumpang.

Kereta belum berjalan. Seorang anak muda masuk dan berdiri tidak jauh dari saya. Terlihat sedikit repot karena ada dua tas yang dia bawa. Satu diletakkan diatas (tempat khusus untuk meletakkan tas atau barang), satu lagi masih dia pegang. Dibukanya tas itu. Sepertinya dia mencari sesuatu. Oh rupanya earphone. Setelah itu dia letakkan lagi tas yang satunya keatas. Sepertinya sekarang dia sudah siap untuk menikmati perjalanannya.

Kereta berjalan perlahan. Penumpang belum terlalu penuh. Anak muda tadi rupanya masih sibuk dengan gadgetnya. Saya tidak tahu apa yang sedang dia cari. Bukan urusan saya juga. Tapi yang bikin kaget ternyata dia mendengar musik lewat earphonenya. 

Namun suara yang dihasilkan dari musik yang sedang dia nikmati itu dengan sangat jelas kami dengar. Hampir semua orang yang ada disitu langsung memperhatikan anak muda tadi. Fikiran mereka sepertinya sama dengan saya: kenapa suaranya bisa sampe keluar keras gitu ya? Lha itu kan earphone, yang harusnya dia dengar sendiri saja. Apa ada masalah dengan pendengarannya?

Dan sepertinya hanya dia yang menikmati musiknya. Sementara yang lain sudah mulai merasa terganggu. Ya pasti terganggu, lha wong yang duduk dekat situ rata-rata orang sudah tua, wanita dan ibu hamil. Mereka orang-orang yang butuh istirahat. Kalaupun mereka senang musik, rasanya genre musik yang bisa masuk ketelinga mereka adalah yang easy listening. Ini menurut saya lho ya, belum tentu benar... Saya sendiri akhirnya memilih untuk memasang earphone juga agar tidak ikut mendengar musik yang sedang membahana itu. Jujur saya gak ngerti jenis musiknya :-D

Dua stasiun, tiga stasiun, sampai empat stasiun berikutnya masih belum ada yang betul-betul merasa terganggu. Atau mungkin mereka pasrah saja? Saya juga tidak tahu. Tapi saya yakin setidaknya mereka jadi tidak bisa istirahat dengan "kebisingan" itu. 

Sampai pada akhirnya di stasiun kelima setelah pemberangkatan. Seorang ibu yang entah darimana datangnya (karena dia tidak duduk atau berdiri disekitar situ) tiba-tiba muncul dan menepuk pundak anak muda tadi.

Sekilas saya dengar bahwa dengan musik yang cukup keras yang keluar dari earphonenya, banyak orang terganggu. Anak muda itu diam saja, tidak bereaksi, namun mendengarkan sang ibu tadi. Kemudian dia minta maaf karena sudah mengganggu banyak orang. Baru disinilah muncul sentilan-sentilan dari penumpang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x