Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Arena Digital, Gagalnya Disintermediasi Agenda Publik

10 November 2020   15:46 Diperbarui: 11 November 2020   14:07 66 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Arena Digital, Gagalnya Disintermediasi Agenda Publik
ilustrasi saling sering di media sosial. (sumber: KOMPAS/TOTO S)

Kemenangan Joe Biden mengutip hasil akhir pemilihan umum di Amerika (279 : 214), tampaknya sulit ditampik oleh Trump. Meski begitu, proses terkait penentuan akhir masih terus difinalisasi. 

Selain itu, kubu petahana juga tengah melakukan konsolidasi terkait upaya melakukan gugatan hukum terkait hasil pemilihan. Situasi ini seolah Dejavu, fase yang dilalui seolah tipikal meski tidak sama persis.

Kajian yang menarik dalam konteks ilmu komunikasi adalah mengenai ruang digital, sebagai bentuk dari wujud ruang publik baru yang tercipta karena kemajuan teknologi. 

Di tengah situasi pandemi, dimana interaksi fisik justru dibatasi, maka ruang publik di dunia digital malah sebaliknya semakin mengembang. Lapangan jagad maya menjadi arena yang memfasilitasi percakapan sekaligus pertandingan.

Kontestasi politik terjadi di ruang-ruang tanpa batas yang tidak terlihat. Media sosial menjadi model baru dalam menciptakan kesepahaman, persetujuan hingga dukungan ataupun penolakan. 

Popularitas yang memuncak pada elektabilitas, dimunculkan melalui media sosial mengkonstruksi tokoh dalam proses pemilihan, untuk menjadi lebih dikenal, dekat dan akrab -familiar dengan target pemilihnya.

Jika mengutip Ismail Fahmi, 2020, Analisis Media Sosial: Trump vs Biden, diketahui bahwa dominasi di arena digital pada periode kampanye Pemilu di Amerika justru memperlihatkan kondisi berbeda. 

Arus utama percakapan ditekan oleh narasi kelompok Pro Trump secara hegemonik. Hal itu terlihat dari jumlah percakapan yang dapat dihimpun droneemprit pada platform Twitter terkait Trump sebesar 5,60 juta tweet, sedangkan Biden mengoleksi 2,67 juta perbincangan di media sosial.

Lebih jauh lagi, hasil peta jaringan percakapan di media sosial tersebut menempatkan kelompok Pro Trump membicarakan secara dominan keunggulan sosok kandidatnya, dan secara bersamaan juga mengambil panggung atas percakapan mengenai Biden dengan sentimen negatif. 

Kluster akun yang terhubung memperlihatkan Trump menjadi aktor sentral dari pembicaraan dirinya di media sosial dengan sokongan kelompok amplifikasi di belakangnya, termasuk tim pemenangan kampanye.

Temuan DroneEmprit memperlihatkan situasi peperangan ruang kampanye digital kedua kubu mempergunakan cybertroops -pasukan siber.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x