Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Tenaga Kesehatan yang Terpapar, Dibungkam, dan Diserang

18 Juli 2020   22:49 Diperbarui: 21 Juli 2020   10:22 1864 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tenaga Kesehatan yang Terpapar, Dibungkam, dan Diserang
Relawan Indonesia Bersatu Lawan COVID-19 bersiap menggunakan APD saat menghadiri acara Siaga Pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Bersatu Lawan COVID-19 di Lapangan Wisma Atlet, Jakarta, Rabu (22/4/2020). (Sumber Gambar: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Laporan Lembaga Amnesty International dengan objek penelitian tenaga kesehatan berjudul: "Terpapar, Dibungkam, Diserang: Kegagalan Melindungi Pekerja Kesehatan dan Esensial selama Pandemi Covid-19", pada pekan lalu menjadi sebuah temuan yang menarik. Lebih dari 3.000 tenaga kesehatan di 79 negara, gugur dalam perang melawan wabah. 

Situasi tersebut, hampir berlaku sama, di berbagai belahan dunia. Para tenaga kesehatan dan juga pekerja esensial menghadapi potensi tertular secara langsung, namun minim proteksi. 

Termasuk soal minimnya alat pelindung diri sebagai bagian dari sarana keamanan bekerja. Beban stigma hingga kekerasan dihadapi mereka yang disebut-sebut menjadi barisan terdepan pemberi layanan kesehatan ini. 

Di tanah air setidaknya koran Tempo menempatkan seluruh nama-nama tenaga kesehatan, baik dokter maupun perawat yang tertular dan meninggal saat memberikan pelayanan bagi pasien Covid-19, menjadi cover muka (9/7).

Dalam rangkaian berita yang diturunkan jumlah kasus telah menjalar ke banyak daerah bahkan menyebabkan kewalahan. Dalam liputan tersebut tercatat 48 dokter dan 41 perawat meregang nyawa berkalang Covid-19.

Belum lama berselang rumah sakit rujukan di Papua, RS Provita Jayapura harus ditutup, lantaran 54 tenaga medisnya terpapar virus selama memberikan pelayanan bagi pasien Covid-19. Secara keseluruhan, maka ilustrasi tersebut, menggambarkan tingkat keseriusan dampak dari pandemi, tidak bisa dianggap remeh.

Pada tingkat nasional laju pertambahan kasus konsisten lebih dari 1.000 per-hari. Bahkan, jumlah kumulatifnya yang mencapai 84.882, telah melebihi China di angka 83.664 orang. 

Situasi ini jelas tidak menguntungkan bagi semua pihak. Di dalam kondisi yang sedemikian sepatutnya dibangun sikap untuk mampu berkolaborasi dan bekerjasama dalam relasi mutual trust.

Logika Bengkok Diksi RS Nakal 

Belum lurus. Konfirmasi di ruang rapat wakil rakyat bersama sejumlah kementerian itu, seolah menjadi penguat sinyalemen yang sudah santer beredar di publik tentang konspirasi bisnis Covid19. 

Para peminat teori konspirasi seolah mendapatkan angin segar untuk terus menghujat dan melakukan perundungan pada institusi dan tenaga medis. Sangat disesalkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x