Mohon tunggu...
Yoyo Setiawan
Yoyo Setiawan Mohon Tunggu... Guru - Melengkapi hidup dengan membaca dan menulis; membaca untuk menghayati betapa ruginya hidup tanpa ilmu, menulis untuk meninggalkan jejak bahwa kehidupan ini begitu berwarna.

Tenaga pendidik dunia difabel yang sunyi di pedalaman kabupaten Malang. Tempat bersahaja masih di tengah kemewahan wilayah lain. Tengok penulis kala sibuk dengan anak istimewa, selanjutnya kamu bisa menikmati pantai Ngliyep nan memesona! Temani penulis di IG: @yoyo_setiawan_79

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

"Lika-liku Keluarga Difabel"

8 Desember 2021   01:38 Diperbarui: 8 Desember 2021   01:47 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Cerpen Yoyo Goyol (@yoyo_setiawan_79)

Siapa orangnya yang menginginkan anak cacat? Paastinya tidak ada. Lalu bagaimana jika kita dikaruniai anak istimewa dari Tuhan? Pastinya banyak hikmah yang akan kita dapatkan dengan mendengar cerita dari orangtua dengan anak istimewa ini (baca: difabel). Ada pula yang mengganti istilah cacat dengn anak berkebutuhan khusus (ABK).

Istilah difabel sekarang mulai terkenal dan perlahan menggantikan istilah sebelumnya yang artinya cenderung kasar dan diskriminatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, difabel berarti penyandang cacat. Cacat di sini berarti kehilangan salah satu anggota tubuh atau berkurangnya fungsi pada alat gerak (tuna daksa).

Selanjutnya, ada anak dengan kekurangan kemampuan daya pikir/ tingkat kecerdasan rendah (tuna grahita). Atau juga kehilangan penglihatan (tuna netra).  Ada juga yang kehilangan fungsi pendengaran (tuna rungu). Yang terakhir anak dengan ADHD (Attention-Deficit Hiperactivity Disorder) yaitu anak yang kesulitan utuk fokus pada satu hal dalam satu waktu dan cenderung tidak bisa diam.

Mempunyai anak dengan kekurangan fungsi gerak anggota tubuh (tuna daksa) terasa sangat menyita waktu. Kondisi anak yang cenderung tidak bisa bergerak bebas pastinya menuntut sang orangtua lebih banyak waktu untuk mendampingi si anak. Tentunya ini sebuah tantangan tersendiri bagi orangtua untuk cerdas berbagi waktu agar semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik.

Sebut saja, Ibu Sutiani (40 tahun), dengan seorang anak berusia 14 tahun yang terlahir sebagai tuna daksa. Terlahir premature dengan pertumbuhan yang baik. Namun menginjak usia satu tahun, sang anak belum bisa berjalan. Ironisnya, ketika sedang proses terapi di klinik tumbuh kembang anak di sebuah rumah sakit kota Bekasi, anak terserang demam tinggi hingga kejang! Akibat kejang ini, anak tidak sadarkan diri hampir dua jam. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan Ibu Sutiani melihat anak semata wayangnya ini.

Ketika tersadar, Ibu Sutiani ini mendapati anak tidak lagi bisa bangun, anggota tubuh seperti tangan dan kaki kaku, tangan senantiasa mengepal dan kedua telapak kaki membengkok ke dalam. Sungguh, rasa sedih tak terperi. Bukan kesembuhan yang dia dapatkan, tetapi masalah baru yang muncul di depan mata: bagaimana dia akan memulihkan kondisi anak? Berapa waktu yang dia butuhkan untuk itu? Dan, bisakah dia sabar menerima cobaan/ ujian besar ini?

Sang suami yang hanya seorang pekerja pabrik dengan penghasilan rendah, tentu sangat terpukul mengetahui kondisi ini. Bukan masalah pengobatan selama di rumah sakit. Karena seluruh biaya ditanggung perusahaan tempat bekerja. Namun lebih kepada keseharian dan pengeluaran lain seperti kebutuhan untuk terapi-terapi selain di rumah sakit.

Apa yang dibutuhkan sang anak sekarang? Banyak terapi yang harus dijalani agar kesehatannya cepat pulih dan diharapkan kembali ke kondisi sediakala. Ada fisioterapi untuk melemaskan otot tangan, punggung dan kakinya. Ada juga terapi wicara untuk melancarkan bicaranya yang terlambat. Juga terapi di luar rumah sakit yang tentunya memakan waktu dan biaya yang tak sedikit. Namun itu semua bukan untuk dikeluhkan Ibu Sutiani, bahkan ini dijadikan pemicu untuk melatih kesabaran.

Setidaknya sifat suami yang sangat penyabar dan dekat dengan dunia anak sangat membantu istri. Ibu Sutiani merasa bersyukur kegiatan sehari-hari di rumah bisa dibantu suami sebelum berangkat kerja.

Bagaimana tidak, sang anak hingga usia 14 ini belum bisa melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Misal saat pagi hari, setelah bangun tidur, anak harus digendong atau setidaknya sekarang memindahkan ke kursi roda. Selanjutnya anak didudukkan di atas kasur di ruang tengah untuk persiapan mandi pagi.

Sang istri harus menyalakan kompor, itu bila masih ada persediaan gas. Saat tanggal tua dan tabung gas kosong, maka harus menyalakan tungku kayu. Ibu Sutiani menyiapkan air panas untuk mandi sang anak. Setelah air panas tersedia, suami akan memindahkan anak ke kamar mandi dengan memakai kursi roda. Memandikannya dengan suasana penuh canda tawa.

Dan, sementara suami memandikan anak, Ibu Sutiani ini harus cekatan menyiapkan menu sarapan pagi untuk semua anggota keluarga. Bersyukur anak dan suami bukan tipe penuntut apalagi soal makanan. Apa saja, ada tempe ya disantap tempe dengan lahap. Ada ayam goreng kesukaannya, apalagi, pasti nambah terus nasinya! Melihat ini, istri seperti mendapat pelipur lara, hilang semua rasa lelah.

Nah, setelah sang suami berangkar bekerja inilah, pekerjaan Ibu Sutiani yang sesungguhnya dimulai. Penuh kesabaran apabila menghadapi anak yang sedang rewel. Mungkin saat ibu yang lain sudah mencubit pantat anaknya, Ibu Sutiani hanya bisa mengelus dada, menyebut nama Allah minta diberi kesabaran ekstra! Tak tega hatinya memukul anak istimewa ini. Paling kalau kesabaran sudah di ubun-ubun, dia hanya melampiaskannya dengan ocehan, tak lebih dari itu.

Ibu Sutiani bisa tersenyum lega saat anak terlihat diam dan bisa duduk manis di depan mainannya. Itu sangat jarang terjadi dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Bisa dengan menuliskan puisi isi hatinya. Atau sekedar tidur ayam, sebentar tapi nyenyak!

Selanjutnya, Ibu Sutiani harus menyiapkan masakan untuk makan siang nantinya saat suami pulang. Jadi sebenarnya dari pagi hingga siang tidak ada waktu untuk istirahat. Ada saja yang harus dikerjakan. Namun itu semua dilakukan dengan ketulusan hati, sebab prinsipnya, kalaupun lari dari masalah, tidak akan selesai masalah tersebut.

Jam pulang kerja suami adalah saat yang ditunggu Ibu Sutiani. Karena  dengan adanya suami di rumah, ada yang menggantikan mendampingi anak. Tentu sang suami akan mengajak makan siang bersama anak, menyuapinya. Atau bila pekerjaan di dapur, --misalnya masih berantakan---maka sang suami akan membantu membereskan pekerjaan itu. Tanpa gengsi atau malu, suami akan membantu demi anak tetap didampingi.

Untuk keperluan lain selain yang telah disebutkan di atas, masih ada pekerjaan mendampingi anak yang harus dikerjakan berdua. Seperti saat sebelum berangkat terapi dan cuaca dalam keadaan hujan. Ditunda saja? Tidak akan! Anak akan mengamuk apabila ada perubahan mendadak tanpa alasan. Jadi suami-istri harus bahu-membahu memasangkan mantel hujan dan membereskan semua hal sebelum berangkat.

Mungkin bagi sebagian orang, ini hal yang sangat merepotkan. Bahkan ini cerita pertama yang ia dengar karena selama ini hanya merawat anak normal. Tapi bagi Ibu Sutiani, dia masih bersyukur masih ada orangtua dengan kondisi anak yang lebih parah kekurangannya. Tentu ini terlahir dari hati yang tulus untuk merawat anak apapun kondisinya. Ibu Sutiani hanya merawat dengan sepenuh hati, penuh kesabaran dan melibatkan Tuhan membantunya!

----&&&----

Hikmah cerita: Rawatlah anak sebagaimana Anda merawat intan berlian, penuh kesabaran dan hati-hati. Anak adalah titipan Tuhan yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Bila dirawat dengan sebaik-baiknya, Tuhan akan membalas dengan surga!

------------

Pagak-Malang, 07-12-2021

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun