Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Eksperimen Taktik ala Jorge Sampaoli

14 Juni 2017   00:23 Diperbarui: 14 Juni 2017   00:36 315 0 0

Mencetak tujuh gol tanpa kebobolan, dan selalu menang dalam dua laga. Itulah rapor performa timnas Argentina dibawah arahan Jorge Sampaoli. Meski dua laga ini hanya uji coba, performa Tim Tango cukup menjanjikan. Karena, mereka berhasil mengalahkan Brasil 1-0, pada Jumat (9/6) lalu di Ausrralia, dan menghajar tuan rumah Singapura 6-0, pada Selasa (13/6).

Dari segi taktik, dua laga ini menjadi ajang eksperimen bagi Sampaoli. Dalam dua laga ini, Sampaoli memakai dua formasi berbeda; 3-4-3 (Vs Brasil), dan 2-3-4-1 (Vs Singapura). Di dua laga ini juga, Sampaoli memakai dua pendekatan berbeda; memainkan Messi (Vs Brasil), dan mengistirahatkan Messi (Vs Singapura). Meski begitu, taktik dasar Sampaoli tetap sama; "pressing football" dengan permainan tempo tinggi, yang sudah menjadi ciri khasnya.

Dalam laga uji coba melawan Brasil dan Singapura, terlihat jelas bahwa Sampaoli mencoba membiasakan La Albiceleste bermain dengan 2 jenis strategi; rencana A (dengan Messi, Vs Brasil), dan rencana B (tanpa Messi, Vs Singapura). Dua pendekatan ini digunakan Sampaoli, untuk mengurangi ketergantungan parah Tim Tango akan Messi, yang selama ini menjadi masalah. Dari sini, terlihat jelas, bagaimana fleksibilitas rencana taktik Sampaoli di timnas Argentina.

Dalam laga melawan Singapura, keputusan Sampaoli untuk mengistirahatkan Messi, memang mengecewakan penggemar di Singapura. Dari sisi "showbiz", ini juga adalah keputusan buruk. Tapi, secara taktis, ini adalah keputusan tepat. Karena, ini hanya laga uji coba, tekanannya tak seberat laga kompetitif. Lagipula kekuatan tim lawan yang dihadapi, jelas berada di bawah Argentina. Menurunkan Messi di laga ini, sama saja seperti menugaskan agen rahasia 007, hanya untuk berbelanja sayur di pasar.

Meski fleksibel, taktik yang dijalankan Sampaoli ini juga memiliki sisi kaku. Dalam dua laga uji coba ini, Sampaoli rutin memainkan Paulo Dybala, Angel Di Maria, dan Lucas Biglia. Dybala ditempatkan sebagai bagian lini serang tim. Sedangkan, Biglia diberi peran mirip Sergio Busquets di Barcelona, yakni sebagai gelandang perebut bola, dengan posisi tepat di depan bek. Sedangkan, Di Maria berperan sebagai pemain sayap. Ketiga hal ini, menjadi salah satu kerangka utama strategi Sampaoli, selain fleksibilitas taktik.

Pada kasus Dybala, Sampaoli agaknya mulai mencoba mempersiapkan bintang Juventus ini, sebagai pengganti peran Messi di masa depan. Dengan usia Messi yang akan memasuki kepala 3, pada akhir bulan Juni 2017 ini, Sampaoli tampaknya menyadari betul; Messi tak akan selamanya membela Argentina, masa edarnya di timnas akan berakhir cepat atau lambat. Jika regenerasi ini tak dipersiapkan sejak awal, maka akan berbahaya bagi Tim Tango. Tapi, untuk saat ini, Dybala masih akan berperan, sebagai 'motor serangan tambahan' bagi Argentina, khususnya, jika Messi berhalangan tampil atau dimatikan pemain lawan.

Awalan mulus Sampaoli bersama Argentina, yang diwarnai sejumlah eksperimen taktik, dapat menjadi modal bagus, khususnya dalam menghadapi laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2018, pada akhir bulan Agustus mendatang. Apalagi, Argentina masih harus bertandang menghadapi Uruguay dan Ekuador, dua lawan tangguh yang jago kandang, demi bisa lolos ke Rusia tahun depan. Akankah eksperimen taktik Sampaoli sukses?