Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Timnas U-23, Si "Pelanduk di antara Gajah"

13 April 2024   17:11 Diperbarui: 14 April 2024   16:33 626
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Justin Hubner (merah), pilar lini belakang Timnas U-23 (Kompas.com)

Piala AFC U23 atau Piala Asia U-23 2024 di Qatar menjadi turnamen sepak bola tingkat Asia kedua yang diikuti Timnas Indonesia. Sebelumnya, Tim Garuda sudah lebih dulu beraksi di Piala Asia senior pada awal tahun 2024.

Dalam turnamen yang kebetulan juga digelar di Qatar itu, Timnas Indonesia untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, lolos dari fase grup Piala Asia. Harapan serupa juga muncul di Piala Asia U-23, karena Shin Tae-yong kembali menjadi juru taktik tim.

Optimisme semacam ini sebenarnya sudah menjadi satu kebiasaan lama di sepak bola nasional. Keyakinan itu bahkan tetap sama, sekalipun posisi tim bak pelanduk diantara gajah.

Meski terdengar skeptis, analogi ini menjadi relevan dengan posisi Timnas U-23 di turnamen yang juga jadi kualifikasi   Olimpiade 2024 zona Asia, karena Rafael Struick dkk satu grup dengan tuan rumah Qatar, Australia dan Jordania.

Dengan kecenderungan wakil Timur Tengah seperti Qatar dan Jordania tampil lepas karena bermain di kawasan sendiri, seperti di Piala Asia senior, ditambah posisi Australia sebagai satu tim kuat di Asia, posisi Tim Garuda Muda memang agak riskan.

Apalagi, mereka datang ke Qatar sebagai tim debutan, dan hanya diperkuat sedikit pemain "abroad". Selebihnya berasal dari perpaduan pemain Liga 1 alumnus Timnas U-20, peraih medali emas SEA Games, dan anggota Timnas Indonesia senior, seperti Ernando Ari (Persebaya Surabaya) dan Rizky Ridho (Persija Jakarta), Hokky Caraka (PSS Sleman) Ramadhan Sananta (Persis Solo) dan Witan Sulaeman (Persija Jakarta).

Dari 23 nama final yang masuk daftar, hanya 5 yang bermain di luar negeri, yakni Marselino Ferdinan (KMSK Deinze, Belgia), Pratama Arhan (Suwon FC, Korea Selatan) plus trio blasteran Justin Hubner (Cerezo Osaka, Jepang), Rafael Struick (ADO Den Haag, Belanda) dan Ivar Jenner (Jong FC Utrecht).

Sebelumnya, ada juga nama Nathan Tjoe-A-On (SC Heerenveen) yang masuk daftar, tapi terpaksa harus dicoret, karena klub Eredivisie Belanda itu enggan melepas sang pemain ke Timnas U-23. Tim asuhan Shin Tae-yong juga hampir saja tak diperkuat Justin Hubner, andai Cerezo Osaka tak berubah pikiran di saat terakhir.

Meski kesempatan membuat kejutan masih ada, ekspektasi yang muncul seharusnya tak perlu terlalu tinggi. Bukan karena pesimis, tapi lebih karena materi tim yang ada tak sesuai rencana awal pelatih, kalau tak boleh dibilang seadanya.

Seperti diketahui, Shin Tae-yong dan tim pelatih Timnas U-23 agak kesulitan mencari pemain abroad yang klubnya bersedia melepas pemain, karena Piala Asia U-23 bukan turnamen dalam kalender resmi FIFA.

Alasan serupa juga sempat digunakan PSSI sebagai alasan, untuk meliburkan sejenak kompetisi Liga 1. Andai tak ada libur dadakan ini, klub-klub yang sedang berjuang menghindari degradasi atau mengejar gelar juara liga pasti enggan melepas pemain ke tim nasional.

Dengan situasi seperti itu, ditambah persiapan yang mepet dan kualitas aktual sebagian pemain yang masih belum diketahui di level Asia, rasanya agak berlebihan kalau Timnas U-23 dibebani target lolos ke Olimpiade Paris.

Kebetulan, dalam banyak turnamen sebelumnya (baik senior maupun junior) target rasa ekspektasi terlalu tinggi malah kontraproduktif, karena menjadi beban tekanan terlalu berat buat Timnas Indonesia.

Dengan materi pemain yang ada, akan lebih baik kalau turnamen Piala AFC U23 dijadikan ajang pembuktian. Apakah tim yang didominasi pemain Liga 1 cukup bisa bersaing di Asia atau masih sebatas level Asia Tenggara.

Dari sini, kita juga bisa melihat, apakah kualitas aktual pemain dari Liga 1 atau "lokal pride" memang ada peningkatan, atau "potensi" yang selama ini banyak dibahas hanya pepesan kosong, karena kualitas kompetisinya memang perlu diperbaiki secara keseluruhan.

Jadi, daripada dibuat patah hati, khususnya setelah melihat posisi "pelanduk diantara gajah" atau menghibur diri dengan narasi pertarungan"semut melawan gajah", akan lebih sehat kalau kita menjadikan Piala Asia U-23 sebagai ajang untuk melihat pertanyaan berikut:

"Mengapa PSSI getol mencari pemain diaspora, seperti halnya pelatih Shin Tae-yong mendorong pemain Timnas Indonesia untuk 'abroad', dan mengapa pihak yang punya sentimen 'lokal pride' begitu ngotot dengan pendapatnya?"

Selebihnya, kita tinggal berharap, Witan Sulaeman dkk minimal tak jadi bulan-bulanan di Qatar. Kalau ternyata bisa lolos dari fase grup, apalagi lolos ke Olimpiade 2024, itu adalah bonus jackpot. 

Tidak untuk dikejar, tapi masih bisa diupayakan dengan kerja ekstra keras dan tambahan bumbu keberuntungan.

Bisa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun