Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Terwujudnya Skenario "Pertarungan Segiempat" Grup Neraka Liga Champions

7 November 2018   05:51 Diperbarui: 7 November 2018   09:36 750 5 0
Terwujudnya Skenario "Pertarungan Segiempat" Grup Neraka Liga Champions
Foto: AFP/Getty Images

Sejak usainya undian fase grup Liga Champions musim ini, banyak yang menyebut Grup C sebagai salah satu "grup neraka". Sebutan ini muncul karena grup tersebut dihuni tim-tim kuat: Napoli, PSG, dan Liverpool. Selain itu ada juga Red Star Belgrade (Serbia), yang pernah menjuarai Liga Champions pada musim 1990/1991.

Secara umum, keempat tim ini memang punya kelebihan masing-masing. Napoli kini diasuh oleh Carlo Ancelotti, pelatih berpengalaman asal Italia yang pernah menjuarai Liga Champions bersama Real Madrid dan AC Milan. PSG punya trio lini depan mematikan yakni Kylian Mbappe-Neymar-Edinson Cavani. Liverpool adalah tim finalis Liga Champions musim lalu. Sementara itu, Red Star Belgrade tak banyak diketahui kekuatannya bahkan tidak diperhitungkan sama sekali.

Awalnya banyak orang mengira,grup ini "hanya" akan menampilkan pertarungan segitiga,antara Liverpool, Napoli dan PSG. Tapi, memasuki matchday keempat, pemandangan yang tersaji adalah potensi pertarungan segiempat, antara Liverpool, Napoli, PSG, dan Red Star Belgrade.

Potensi pertarungan segiempat ini muncul setelah Liverpool takluk 0-2 di Stadion Rajko Mitic, markas Red Star Belgrade, Rabu, (7/11, dinihari WIB) berkat sepasang gol yang dicetak Milan Pavlov. 

Meski mendominasi jalannya pertandingan, performa buruk Liverpool, terutama di babak pertama, membuat Red Star sukses membuka peluang lolos ke babak selanjutnya.

Standard.co.uk
Standard.co.uk
Sementara itu, beberapa jam berselang setelah pertandingan Liverpool dengan Red Star Belgrade, tim asuhan Don Carlo, SC Napoli bermain imbang 1-1 saat menjamu PSG di Stadion San Paolo. Hasil ini didapat setelah gol Juan Bernat dari PSG berhasil dibalas Napoli lewat tendangan penalti Lorenzo Insigne. Alhasil, peluang keempat tim untuk lolos cukup terbuka. Karena kini Napoli dan Liverpool sama-sama memiliki poin 6, disusul PSG (5), dan Red Star (4).

Situasi makin rumit, karena keempat tim ini sama-sama jago kandang. Liverpool selalu menang di Anfield, sementara PSG, Napoli dan Red Star sama-sama mampu mencatat satu kemenangan dan sekali imbang di laga kandang mereka. Agaknya, keempat tim ini sama-sama menjadikan laga kandang sebagai kesempatan untuk meraih poin sebanyak mungkin dan menyemai asa untuk lolos dari fase grup.

Sayangnya performa tandang keempat tim ini sama-sama buruk karena mereka sama-sama belum pernah meraih poin penuh di kandang lawan. Liverpool dan Red Star selalu kalah di laga tandang. Sementara itu PSG baru mampu mencuri satu poin di kandang lawan, yakni saat bersua Napoli. Di antara keempatnya, hanya Napoli yang punya catatan performa tandang cukup baik. Karena, Lorenzo Insigne dkk mampu mencatat dua hasil imbang.

Praktis, kemungkinan lolos keempat tim akan ditentukan di dua laga berikutnya. Hanya saja Liverpool berpotensi akan menghadapi tantangan terberat. Karena pada pertandingan selanjutnya, mereka akan bertandang ke markas PSG akhir bulan November ini, sebelum menjamu Napoli di matchday terakhir bulan depan.

Sementara itu langkah Napoli agak relatif ringan, karena di matchday berikutnya mereka akan menjamu Red Star Belgrade. Jika mampu meraih kemenangan, maka bukan tidak mungkin langkah mereka untuk lolos akan lebih mudah terutama jika PSG bermain imbang dengan Liverpool. Karena, Napoli unggul head-to-head dengan PSG dan Liverpool.

Tantangan berat juga akan dihadapi PSG. Mereka akan menghadapi Liverpool sebelum bertandang ke markas Red Star. Secara psikologis, Neymar dkk punya beban mental paling berat, jika sampai tersingkir di fase grup, musim ini akan menjadi kegagalan berikutnya buat mereka. 

Maklum, dari musim ke musim, PSG selalu membidik target berprestasi tinggi di Eropa. Jadi, sehebat apapun performa mereka di Ligue 1 Prancis, itu akan sia-sia jika mereka selalu gagal di tingkat Eropa.

Tim manakah yang akan lolos dari lubang jarum?