Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Ramadhan, Bulan Perjuangan Umat Lintas Agama di Indonesia

18 Mei 2018   01:48 Diperbarui: 18 Mei 2018   03:10 526 0 0
Ramadhan, Bulan Perjuangan Umat Lintas Agama di Indonesia
Sumber gambar: Gageto.com

Per Kamis, (17/5), bulan Ramadhan tahun 2018 Masehi atau 1439 Hijriyah dimulai. Bagi saudara-saudara yang beragama Islam, ini adalah bulan suci, dimana mereka harus menjalani ibadah puasa, kecuali jika sedang berhalangan, misalnya sedang sakit berat atau sedang datang bulan.

Melihat situasinya, boleh dibilang, bulan ini adalah bulan penuh perjuangan bagi umat Muslim. Karena, di bulan Ramadhan ini, mereka harus berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu selama sebulan penuh, sebelum akhirnya meraih kemenangan (secara spiritual) di hari Idul Fitri. Pertanyaannya, benarkah bulan Ramadhan di Indonesia hanya menjadi arena perjuangan umat Muslim semata?

Sebetulnya, bulan Ramadhan juga menjadi arena perjuangan mereka yang nonmuslim, yang secara jumlah tergolong minoritas di negeri ini. Meski bukan perjuangan karena panggilan beribadah, perjuangan batin masyarakat nonmuslim di Indonesia selama bulan Ramadhan juga tak kalah berat. Karena, mereka, (termasuk saya sendiri), dituntut mampu menahan diri, dari hal-hal yang sebelumnya biasa dilakukan di bulan lain.

Usaha menahan diri pertama, adalah menahan diri, untuk sebisa mungkin tak makan atau minum di luar rumah. Usaha menahan diri kedua, adalah menahan diri, untuk tak mengatakan atau melakukan hal-hal buruk, seperti bergosip, atau sejenisnya, saat berinteraksi dengan saudara-saudara yang beragama Islam. Semua demi menghormati mereka yang sedang berpuasa.

Tapi, selain menahan diri demi menghormati yang sedang berpuasa, bulan Ramadhan juga menjadi arena perjuangan menahan nafsu bagi kaum nonmuslim di negeri ini, demi kebaikan diri sendiri. Seperti diketahui, bulan Ramadhan biasa menyajikan dua kemewahan, yakni melimpahnya pilihan menu kuliner saat jam buka puasa, dan melimpahnya promo diskon menarik di berbagai jenis produk. Jelas, menahan diri sangat diharuskan di sini. Jika tidak, isi kantong akan lebih cepat terkuras habis.

Selain soal menahan nafsu belanja, bulan Ramadhan adalah masa mengendalikan emosi yang cukup menantang. Karena, di bulan ini, bunyi ledakan mercon atau petasan, yang biasa disulut anak-anak di jam-jam menjelang buka puasa, akan mulai sering terdengar secara mendadak. Frekuensinya akan semakin sering, saat hari lebaran makin dekat, dan akan mencapai puncaknya di malam takbir.

Selebihnya, bulan Ramadhan selalu menjadi satu momen bagi kaum minoritas (secara agama yang dianut) di negeri ini, untuk sekali lagi belajar bertoleransi dan menyesuaikan diri dengan keadaan, tanpa lupa menahan diri. Dalam perjalanannya, bulan Ramadhan di Indonesia bertransformasi sebagai salah satu alat pemersatu bangsa.

Karena, bulan Ramadhan nyatanya mampu membuat seluruh umat beragama di negeri ini bisa berjuang bersama selama sebulan penuh, sebagai sebuah bangsa, dengan godaannya masing-masing, demi mencapai kemenangan di hari Idul Fitri. Justru disinilah, hakikat kebhinekaan dapat terwujud nyata. Hal ini adalah hal yang seharusnya dapat terwujud tiap waktu di negeri ini, bukan hanya saat Ramadhan tiba.

Terlepas dari segala dinamika yang menyertainya, semoga bulan Ramadhan kali ini mampu menjadi oase, ditengah panasnya suhu politik, dan keamanan (akibat aksi terorisme akhir-akhir ini) di negeri ini.

Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi Anda yang menjalankannya.