Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Kisah Benua Bola

12 Maret 2018   09:45 Diperbarui: 12 Maret 2018   10:11 1018 1 0
Kisah Benua Bola
Amerika Selatan (FIFA.com)

Diantara benua-benua di dunia, Amerika Selatan adalah benua yang punya hubungan cukup unik dengan sepak bola. Maka, mereka layak disebut sebagai "Benua Bola". Memang, dalam hal "sport science", dan infrastruktur, Amerika Selatan masih kalah modern dengan benua Eropa. Dari sisi daya tarik pemasaran, wilayah ini juga kalah menarik dengan benua Asia dan Afrika.

Tapi, kecintaan, dan gairah di benua satu ini pada sepak bola sungguh luar biasa. Karena, sepak bola mampu merambah berbagai aspek kehidupan di masyarakat, mulai dari budaya, sosial, hingga politik. Boleh dibilang, di Amerika Selatan, sepak bola lebih dari sekadar olahraga biasa.

Dari sisi budaya, sepak bola adalah satu budaya modern populer di Amerika Selatan. Karena, sepak bola adalah olahraga lintas kelas sosial yang membiarkan seseorang, dari kelas sosial manapun, bebas menonjolkan bakatnya, tanpa melupakan kerja sama tim, dan tetap menghargai proses. Ini cukup berbeda dengan di benua Asia, yang lebih menonjol dalam olahraga individual (misal tenis meja atau bulu tangkis), atau Afrika yang cukup menguasai olahraga keras (misal rugby atau lari maraton).

Dalam hal "sport science", dan infrastruktur, Amerika Selatan memang tak semodern Eropa. Tapi, kekurangan ini tertutupi dengan kreativitas sepak bola khas Amerika Selatan; sepak bola jalanan. Selain diasah lewat sesi latihan rutin, kemampuan olah bola pemain asal Amerika Selatan, juga diasah lewat sepak bola jalanan. Bisa dibilang, mereka membentuk kemampuan bermain lewat latihan porsi ganda, dengan dua gaya berbeda: gaya sistematis (di sesi latihan), dan gaya bebas (di jalanan).

Meski tampak berat, ternyata latihan porsi ganda ini juga memberi manfaat ganda bagi para pemain. Pertama, berkat latihan rutin di sesi latihan, para pemain dapat belajar banyak, soal taktik, teknik, dan aturan yang umum berlaku di lapangan. Kedua, berkat 'latihan ekstra' di jalanan, mereka mendapat banyak ilmu, seputar trik-trik olah bola di lapangan sempit, sekaligus mengasah kecerdasan spasial.

Ronaldinho dan Lionel Messi (detik.com)
Ronaldinho dan Lionel Messi (detik.com)
Tak heran, dari masa ke masa, selalu saja muncul pemain dengan kemampuan olah bola aduhai asal Amerika Selatan, mulai dari generasi Pele, Ronaldo dan Ronaldinho (Brasil), Diego Maradona, dan Lionel Messi (Argentina), Diego Forlan dan Luis Suarez (Uruguay), James Rodriguez (Kolombia), dan Alexis Sanchez (Chile), hingga Neymar (Brasil), dan Paulo Dybala (Argentina) di era terkini.

Jose Luis Chilavert (kanan) dan Rene Higuita (Youtube.com)
Jose Luis Chilavert (kanan) dan Rene Higuita (Youtube.com)
Tak hanya di lini serang, dari lini belakang (bek dan kiper) pun kerap muncul pemain berkualitas, misalnya Rene Higuita (Kolombia), Julio Cesar (Brasil), Jose Luis Chilavert (Paraguay), dan Claudio Bravo (Chile), di pos kiper. Di lini belakang, ada Cafu dan Roberto Carlos (Brasil), Walter Samuel dan Javier Zanetti (Argentina), Carlos Gamarra (Paraguay), Diego Godin dan Diego Lugano (Uruguay), dan Antonio Valencia (Ekuador). Mereka adalah pemain berkualitas di posisinya. Terbukti, mereka cukup diandalkan di klub dan timnas pada eranya masing-masing.

Uniknya, sepak bola di Amerika Selatan juga berkaitan cukup erat, dengan aspek lain di kehidupan bermasyarakat, yakni sosial dan politik. Dari sisi sosial, sepak bola adalah 'agama kedua' sekaligus 'jalan pintas terbaik' untuk keluar dari jerat kemiskinan. Tak heran, jika ada pesepakbola yang mampu meraih prestasi tinggi (baca: juara Piala Dunia) bersama timnas negaranya, dengan cara mengesankan, mereka akan dijadikan "role model", dan dikultuskan sebagai 'manusia setengah dewa', yang begitu dipuja. Pada kasus ini, sosok Pele dan Maradona adalah contohnya.

Pele (kanan) dan Maradona (Ilustrasi goal.com)
Pele (kanan) dan Maradona (Ilustrasi goal.com)
Tapi, meski menawarkan kemewahan dan ketenaran luar biasa, sepak bola juga menawarkan godaan cukup berat. Godaan itu berupa gaya hidup mewah, yang jika tak hati-hati, akan menjerumuskan si pemain ke dunia hitam (misal kecanduan narkoba atau konsumsi zat doping). Akibatnya, karir si pemain menjadi rusak. Contoh kasus yang cukup terkenal adalah kasus Diego Maradona.

Di akhir karir bermainnya, El Diego kerap tersangkut kasus doping, dan kecanduan narkoba. Akibatnya, ia kerap terkena sanksi larangan bermain cukup lama. Masalah ini baru beres, setelah dirinya menjalani masa rehabilitasi cukup lama di Kuba, beberapa tahun setelah dirinya pensiun sebagai pemain.

Dari segi politik, sepak bola di Amerika Selatan juga menjadi salah satu alat dalam menjalankan "public relation strategy", yang bisa diterapkan, baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, keterkaitan seorang politisi (dan kontribusinya) pada sepak bola (terutama klub berbasis suporter besar), dapat menjadi nilai tambah tersendiri, yang dapat membuatnya dikenal luas. Modal ini, dapat membantunya meraih kekuasaan.

Sebastian Pinera (kiri) dan Mauricio Macri (duna.cl)
Sebastian Pinera (kiri) dan Mauricio Macri (duna.cl)
Contoh figur pada kasus ini adalah, Sebastian Pinera (Presiden terpilih Chile, mulai menjabat akhir Maret 2018), dan Mauricio Macri (Presiden Argentina). Mereka dikenal sebagai pebisnis sukses di negara masing-masing, yang juga aktif di dunia persepakbolaan. Pinera adalah salah satu pemegang saham di klub Colo-Colo, tim raksasa liga Chile. Sementara itu, Macri sempat menjadi presiden Boca Juniors, raksasa liga Argentina, pada tahun 1995-2005.

Uniknya, di Amerika Selatan, sepak bola juga dapat dijadikan kendaraan politik pemerintahan di suatu negara, untuk membangun citra positif di mata dunia. Contoh kasus politisasi sepak bola yang terkenal, terjadi pada Piala 1978 di Argentina. Politisasi sepak bola pada Piala Dunia 1978, dilakukan pemerintah Junta Militer Argentina, yang dipimpin oleh Jenderal Jorge Rafael Videla.

Kala itu, Piala Dunia 1978 dijadikan pemerintahan Junta Militer Argentina sebagai ajang pencitraan, untuk mengalihkan sorotan negatif dunia atas pemerintahan otoriter, dan pelanggaran HAM yang diduga telah mereka lakukan.

Maskot dan Logo Piala Dunia 1978 (merdeka.com)
Maskot dan Logo Piala Dunia 1978 (merdeka.com)
Akibatnya, muncul kampanye boikot "Bloed en Paal" (Darah di Gawang) yang diakukan sejumlah bintang  sepakbola pada  masa itu, seperti Johan Cruyff (Belanda), dan Paolo Rossi (Italia). Meski diwarnai boikot, sejarah mencatat, Argentina sukses menjuarai Piala Dunia 1978, dengan Mario Kempes sebagai bintang utamanya.

Hubungan unik Amerika Selatan dan sepak bola, membuat keduanya mempunyai kaitan begitu erat, dan berbanding lurus dengan prestasi yang didapat, yakni 9 gelar Piala Dunia (Brasil 5 kali juara dunia, Argentina dan Uruguay masing-masing 2 kali juara dunia). Bahkan, hubungan itu tak hanya sebatas di lapangan hijau, sebuah penghayatan yang mengagumkan.

Inilah yang membuat sepak bola Amerika Selatan lebih unggul, dibanding benua Asia dan Afrika, sesama wilayah "Dunia Ketiga". Soal animo suporter, sepak bola benua Asia memang tak kalah hidup dengan Amerika Selatan. Tapi, kualitas pemainnya masih belum sebanding. Sementara itu, meski seimbang dalam hal animo suporter, fisik dan teknik, kualitas sepak bola benua Afrika masih kalah dalam hal taktik dibanding Amerika Selatan.

Menariknya, perbedaan kualitas persepakbolaan antarbenua ini, seolah membuktikan kebenaran dari salah satu quote terkenal Buddha Gautama: "yang mengetahui kalah oleh yang menyukai, tapi, yang menyukai kalah oleh yang menghayati".

Memang, sepak bola itu sungguh unik.