Mohon tunggu...
Yosafati Gulö
Yosafati Gulö Mohon Tunggu... Wiraswasta

Warga negara Indonesia yang cinta kedamaian.

Selanjutnya

Tutup

Hukum

"People Power" Jokowi Dipakai Amien Rais Mengelabui Polisi

25 Mei 2019   10:30 Diperbarui: 25 Mei 2019   11:23 0 21 14 Mohon Tunggu...
"People Power" Jokowi Dipakai Amien Rais Mengelabui Polisi
Amien Rais - Sumber gambar: .kontan.co.id

Amien Rais (AR), ternyata mau memenuhi panggilan kedua Polisi, setelah ingkar pada panggilan pertama, 20 Mei  dengan alasan ada urusan lain. Jumat, 24 Mei 2019 ia diperiksa sebagai saksi pada kasus dugaan Makar Eggi Sudjana.

Kompas.com memberitakan, Ketua Dewan Kehormatan PAN, yang juga anggota Dewan Pembina BPN Pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019, AR diperksa sekitar 10 jam oleh penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Dalam pemeriksaan itu, AR dicecar 37 pertanyaan terkait terkait kasus makar atas seruan people power yang dilontarkan tersangka Eggi Sudjana.

Dengan kelicahannya mengolah kata, AR menyampaikan kepada penyidik bahwa people power yang digagasnya tidak ada kaitannya dengan upaya menjatuhkan pemerintah atau kepala negara. Bagi dia, hal tersebut merupakan hal biasa saja.

"People power itu enteng-entengan. Jadi, bukan seperti people power yang mau mengganti rezim atau menjatuhkan presiden. Sama sekali bukan," kata Amien kepada awak media di Polda Metro Jaya sebagaimana diwartakan Kompas.com.

Menurutnya gerakan people power itu konstitusional. Telah diatur dalam UU. Oleh sebab itu, selama tidak merugikan negara dan menimbulkan kehancuran tidak masalah.

Untuk menyakinkan penyidik, dia menunjukkan buku berjudul "Jokowi People Power" terbitan Gramedia, karya Bimo Nugroho dan M. Yamin Panca Setia.

Apakah penyidik percaya dan bisa ia kelabui? Mari kita cermati kemungkinan itu dengan hati-hati.

Dua hal yang bertentangan

Dengan hanya membaca judulnya, bisa saja orang bilang buku itu mendukung gagasan AR dan kawan-kawannya tentang gerakan people power. Mendukung penjelasan AR bahwa gerakan yang digagasnya sama dengan isi buku itu. Benarkah demikian?

Namun, dengan mengamati gambar cover sepintas ditambah sikap mau jujur, tanpa membaca pun siapa saja pasti paham bahwa isi buku tersebut jauh berbeda, bakan bertentangan dengan apa yang digagas AR. Apalagi yang sudah membacanya sampai selesai. Ia bisa tertawa terpingkal-pingkal sampai terkencing-kencing karena merasakan kelucuan argumen yang dibangun AR. 

Pertama, kalau benar gerakan yang digagas AR sesuai dengan konstitusi, mengapa buru-buru mengganti istilahnya menjadi "Gerakan Kedaulatan Rakyat" sesaat setelah Eggi Sudajan ditangkap, dan ditetapkan menjadi tersangka makar? Bukankah tindakan itu menunjukan bahwa AR sendiri ketakutan? Kalau merasa benar, semestinya tidak takut. Istilah people power tak perlu diganti, bukan?

Tentu saja muncul kecurigaan bahwa AR mangkir pada penggilan tanggal 20 Mei, bukan karena ada urusan lain. Mungkin saja waktu itu ia mencari buku karya Bimo dan M. Yasin itu di berbagai toko buku di Jakata sebagai tameng ketika berhadapan dengan petugas penyidik. Tentu saja ia berharap petugas penyidik belum membaca buku itu sehingga bisa ia kelabui.

Kedua, catatan Goenawan Muhamad terhadap tulisan Bimo dan M. Yamin tersebut sama sekali tidak seperti yang dibayangkan AR. Catatan Goenawan,  yang saya temukan di laman Tokopedia yang mengikankan buku itu, menggambarkan betapa kuatnya pengaruh rakyat ketika diberi keputusan oleh konstitusi untuk memilih secara langsung pemimpinnya.

Sangat berbeda dengan transfer kekuasaan dalam demokrasi representatif yang cenderung lebih memusatkan kepentingan elite atau kelompok tertentu sebagai akibat pelemahan rakyat yang menginginkan demokrasi sejati. People power (kekuatan rakyat) dipagari oleh hal-hal yang bersifat prosedural dan simbolis. Dominasi elite telah mencaplok hak politik rakyat.

Mekanisme itulah yang didobrak oleh people power saat Pilpres 2014 yang mendudukkan Jokowi sebagai Presiden. Menurut Goenawan, people power ini tidak boleh berhenti. Karena elite koruptor dan penindas rakyat yang menjadi lawan kekuatan rakyat tidak bakal berdiam diri.

Dari catatan itu jelas bahwa klaim AR bertolak belakang dengan people power yang digagasnya. Istilahnya memang sama, tapi esensinya, hakekatnya, tak ubahnya siang dan malam, terang dan gelap.

Ketiga, gerakan people power dalam Pilpres 2014 adalah gerakan rakyat di mana-mana yang bersatu hati memilih Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam Pilpres. Sedangkan people power yang dimaksud AR adalah merebut kekuasaan dari tangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Itulah sebabnya sejak sebelum pemugutan suara 17 April 2019, kubu 02 terus menyesatkan rakyat dengan opini bahwa Pemilu curang, Prabowo pasti dikalahkan, dst.

Dari situ jelas kalau  AR mengatakan maksud people power-nya sama dengan people power Jokowi, maka persamaan itu sangat mirip dengan menyamakan seekor singa dengan seekor kerbau. Besar dan berat badannya mungkin sama. Juga sama-sama binatang berkaki empat. Tapi jangan lupa, yang satu pemakan rumput, sedangkan yang lain adalah pemakan si pemakan rumput.

Tidak jelas apakah penyisik memintanya menjelaskan isi buku itu atau ia meminta diberi waktu menjelaskan kepada penyidik. Juga tidak diungkap apakah dia sudah membaca dan jujur mengemukakan isinya atau sekedar gagah-gagahan untuk menggertak penyidik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2