Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Movie Enthusiast | Music Lover | Kompasiana Awards 2018 Nominee for Best in Specific Category

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"X-Men: Dark Phoenix", Penutup Saga yang Antiklimaks dan Mudah Terlupakan

9 Juni 2019   22:57 Diperbarui: 10 Juni 2019   15:35 0 10 5 Mohon Tunggu...
"X-Men: Dark Phoenix", Penutup Saga yang Antiklimaks dan Mudah Terlupakan
Sumber: 20th Century Fox

Dark Phoenix menjadi salah satu saga X-Men fenomenal yang dirilis di era 80-an. Memfokuskan penceritaannya pada karakter Jean Grey, Dark Phoenix juga menjadi salah satu komik yang memiliki nuansa dark hingga menjadikannya salah satu pelopor komik yang mengenalkan sosok villain modern. 

Premisnya sederhana. Bagaimana jika seorang superhero kelebihan kekuatan super dalam dirinya sendiri dan membuatnya berada di persimpangan antara kebaikan dan kejahatan.

Sumber: store.marvelcomics.com
Sumber: store.marvelcomics.com
Dark Phoenix pernah juga menjadi referensi cerita untuk mengakhiri season X-Men animated series era 90-an meskipun mengalami beberapa perubahan di sisi penceritaannya.

Brett Ratner yang kemudian ditunjuk menjadi nakhoda film penutup trilogi awal X-Men pun kemudian mencoba mengadaptasi cerita Dark Phoenix tersebut untuk tampil di layar lebar lewat film X-Men: The Last Stand tahun 2006 silam.

Gagal baik secara kritik maupun respon para fansnya, The Last Stand nampak menjadi sebuah kesalahan besar kala disebut menyia-nyiakan potensi kisah Dark Phoenix yang memang cukup rumit diadaptasi ke versi sinematik. 

Alih-alih memfokuskan filmnya pada kisah pengorbanan Jean Grey, The Last Stand justru antiklimaks dengan membuat kisah kepahlawanan untuk Logan dengan tambahan kemunculan sisi emosional Logan lewat adegan "pembunuhan paksa" kekasihnya.

Sumber: Foxmovies.com
Sumber: Foxmovies.com
Pada suatu wawancara yang dikutip oleh Time.com, Simon Kinberg yang pada saat itu ada di kursi produser dan penulis pun mengaku bahwa The Last Stand merupakan salah satu kekecewaan terbesarnya sepanjang hidup. 

"My biggest regret from The Last Stand is that the Dark Phoenix story, which is the most enduring story in the history of this very esteemed saga, was given a back seat in the movie. So when I reset the timeline, I was absolutely conscious that what that would allow us to do is tell the Dark Phoenix story again." -Simon Kinberg.

Lantas, apakah Dark Phoenix berhasil menjadi "revisi" atas apa yang ditampilkan oleh The Last Stand dulu?

Sinopsis

Sumber: 20th Century Fox
Sumber: 20th Century Fox
Memulai kisahnya di tahun 70-an, jauh sebelum Jean Grey masuk akademi X-Men, Jean Grey kecil (Summer Fontana) berada di kursi belakang mobilnya kala ibunya Elaine (Hannah Anderson) dan ayahnya John (Scott Sheperd) mengemudi sambil menikmati lagu kesayangan mereka. 

Tak bisa fokus terhadap kekuatan pikirannya, Jean pun tak sengaja menyebabkan orangtuanya mengalami kecelakaan mobil yang mengenaskan, sementara dirinya tak luka sedikitpun.

Cerita pun kemudian maju ke tahun 90-an kala anggota X-Men ditugaskan untuk menolong para astronot yang terjebak di luar angkasa di tengah badai kosmik yang mematikan.

Sumber: 20th Century Fox
Sumber: 20th Century Fox
Bertarung dengan waktu, para anggota X-Men pun berjibaku menolong para astronot sebelum terjadi tubrukan antara pesawat dengan badai kosmik tersebut. Namun tak disangka, Jean (Sophie Turner) yang masih berada dalam pesawat ulang alik harus terkena badai kosmik mematikan tersebut.

Namun alih-alih bertemu dengan ajal, Jean justru menyerap badai kosmik tersebut ke dalam tubuhnya. Jean pun kini memiliki kekuatan yang luar biasa, dimana dirinya bahkan tak sanggup mengendalikannya.

Sekuel yang Sejatinya Tak Diperlukan

Matthew Vaughn (vibe.com)
Matthew Vaughn (vibe.com)
Jika anda mengikuti franchise X-Men, anda pasti sudah tahu bahwa Matthew Vaughn, sutradara X-Men: First Class, terpaksa mengundurkan diri akibat perbedaan visi dengan para petinggi 20th Century Fox. 

Alih-alih melanjutkan sekuelnya, Vaughn malah mengerjakan proyek Kingsman yang hebatnya juga mendapat respon positif di pasaran, baik oleh para kritikus maupun penonton kasual.

Ide Vaughn untuk membuat trilogi baru lewat kisah para anggota X-Men yang berusia lebih muda, nyatanya dimentahkan begitu saja. Pasca First Class, seharusnya ada 1 film X-Men lagi sebagai jembatan sebelum Vaugh mengakhiri saganya lewat film X-Men: Days of Future Past.

"That's one of the reasons I didn't continue, because they didn't listen to me. My plan was First Class, then second film was new young Wolverine in the 70s to continue those characters, my version of the X-Men. So you'd really get to know all of them, and my finale was gonna be Days of Future Past. That was gonna be my number three where you bring them all... because what's bigger than bringing in McKellen and Michael and Stewart and James and bringing them all together?" - Matthew Vaughn (comingsoon.net)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4