Mohon tunggu...
Yoka Pramadi
Yoka Pramadi Mohon Tunggu... Lainnya - Peneliti di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya - LIPI

Lahir di Kota Angin, Majalengka dan menghabiskan masa kecilnya di sana. Pernah berkeliaran di Depok dan sekitarnya dan menuntut ilmu bertahun-tahun di Bandung, Paris van Java. Sempat terdampar di Kota Tapis Berseri di pulau Sumatera. Saat ini mengabdikan diri pada negara di Ibu Kota, Jakarta yang tak lama lagi katanya akan pindah ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Hikmah Puasa di Tengah Korona: Olahraga, Olahrasa, dan Olahjiwa

11 Mei 2020   15:00 Diperbarui: 11 Mei 2020   15:02 704
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

PHK yang terjadi di beberapa tempat adalah salah satu cara perusahaan dalam bertahan hidup. Lalu bagaimana cara masyarakat rentan yang terkena dampaknya secara langsung bertahan hidup? Banyak dari mereka yang kemudian pergi ke pegadaian untuk menggadai beberapa barang miliknya demi bertahan hidup di tengah pandemi Corona. Ada yang kemudian menguras isi tabungannya yang tak seberapa untuk bertahan sementara. 

Ada juga yang kemudian rela menjual aset yang dimilikinya hanya untuk menyambung hidup. Mereka menjual perhiasan, perabotan rumah, dan harta benda lainnya agar bisa membeli kebutuhan sehari-hari. Ketika isi tabungan sudah habis dan usaha mereka tak kunjung berbuah manis, sebagian dari mereka mulai kritis baik secara fisik maupun psikis.

Masyarakat yang berpenghasilan harian atau masyarakat kelompok rentan sudah seharusnya mendapatkan perhatian lebih. Layaknya amanat Undang-undang Dasar 1945, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara”.

Bantuan Presiden (kompas.com)
Bantuan Presiden (kompas.com)

Olahraga, Olahrasa dan Olahjiwa

Himbauan di rumah saja, Work From Home (WFH), Learn From Home (LFH), Pray From Home (PFH) atau segala akitivitas lainnya yang dilakukan di rumah menyiratkan bahwa kita lebih baik di rumah saja di masa pandemi ini.  Lalu apa yang harus disiasati dalam melakukan segala sesuatunya di rumah saja?

Pertama, jangan lupa untuk tetap selalu menjaga kesehatan fisik. Dalam hal menjaga kesehatan, kita harus tetap berolahraga dan menjaga asupan makanan dan vitamin. Bagi para pegawai yang tidak terkena dampak PHK dan masih berpenghasilan, mungkin hanya akan beradaptasi dengan kegiatan sehari-harinya. 

Hikmah Ramadhan bagi muslim ketika berpuasa yakni membuat kesehatan jasmani seseorang jadi meningkat dan lebih baik. Ketika seseorang berpuasa maka tidak banyak melakukan aktivitas makan dan minum. Hal ini membantu mengistirahatkan sistem pencernaan dalam tubuh selama beberapa waktu. Selain itu juga memberi kesempatan untuk tubuh kita mengeluarkan semua kotoran dan zat-zat berbahaya yang terdapat di dalamnya.

Kedua, selain menjaga kesehatan fisik jangan lupa untuk tetap merasa bahagia. Dalam rangka menjaga kesehatan psikis, kita tidak boleh stres yang bisa menurunkan imunitas kita. Mengolah jiwa kita agar selalu dalam keadaan baik-baik saja memang sangat sulit untuk menakarnya. Namun yang paling penting adalah tetap berpikiran positif, melakukan hal-hal positif, apalagi di momen Ramadhan ini seorang muslim bisa lebih khusuk beribadah dan menenangkan diri.

Ketiga, hikmah bulan Ramadhan yakni meningkatkan kepekaan perasaan kita terhadap orang-orang di sekitar yang kurang mampu. Pada saat berpuasa seseorang akan merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh para fakir dan miskin, yang hidupnya penuh kekurangan. Hal ini membuat kita ikut merasakan penderitaan orang yang kurang beruntung secara ekonomi. Ketika kita menahan lapar dan haus saat puasa, perasaan ini juga yang selalu dirasakan oleh para fakir miskin setiap harinya di luar bulan puasa. Merasakan emosi-emosi seperti ini membuat kita dapat semakin berempati dan bersimpati kepada mereka yang kurang beruntung.

Sedekah di Kala Susah

Di saat pemerintah mengakui penyaluran bantuan sosial kepada kelas menengah rentan cukup sulit maka bantuan keluarga, kerabat atau tetangga terdekat akan menjadi pertolongan pertama bagi masyarakat rentan. Kembali ke kasus Ibu Yuli dari Serang, Banten. Jika saja tetangganya bisa menyisihkan sedikit rezeki di saat mereka juga berjuang bertahan hidup, mungkin kisah Ibu Yuli yang kelaparan hingga dua hari beserta keluarganya tidak akan terdengar.

Memang dalam Islam yang pertama harus diperhatikan dalam bersedekah adalah keluarga sendiri, Imam Nawawi menyatakan bahwa ulama telah sepakat bersedekah kepada sanak famili lebih utama sebelum kepada orang lain. Namun apabila keluarga kita sendiri sudah tercukupi dan bisa bertahan hidup, ada baiknya kita tidak melupakan orang lain. Paling dekat adalah tetangga kita sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun