Mohon tunggu...
Yohannes Laurentius R
Yohannes Laurentius R Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Pamulang.

Seorang pembaca yang menulis di sela waktu sebagai mahasiswa dan budak korporat.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Pencarian Jati Diri dalam Buku "Berani Tidak Disukai" oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

19 September 2021   13:13 Diperbarui: 19 September 2021   13:16 84 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pencarian Jati Diri dalam Buku "Berani Tidak Disukai" oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

"Kesendirian tidak membuat kita merasa kesepian. Kesepian adalah mengetahui bahwa ada orang lain, masyarakat, dan komunitas di sekitar kita, namun merasa benar-benar dikecualikan oleh mereka."

Teori filsafat Teleologi yang dikembangkan oleh alfred adler mengenai perasaan inferior ini berkaitan dengan ukuran nilai seseorang terhadap dirinya. Ukuran nilai yang dimaksudkan adalah perasaan bahwa seseorang tidak berharga, atau bahwa nilai dari dirinya hanya sebatas itu. Penafsiran terhadap diri kita itu bersifat subjektif. 

Sedangkan, Menyadur American Psychological Association, inferiority complex atau kompleks inferioritas, adalah kondisi psikis yang timbul karena rasa ketidakcukupan dan insecure yang berasal dari kekurangan fisik atau psikologis aktual maupun yang dibayangkan. Dan, kompleks superioritas adalah sebuah gangguan dalam jiwa seseorang yang dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mencapai kesempurnaan di dalam setiap aspek kehidupan orang tersebut. 

Penderitanya melakukan hal itu karena tidak ingin dipandang rendah oleh banyak orang, padahal belum tentu orang lain memikirkan hal yang sama. Seperti yang Adler katakan, perasaan inferior bisa menjadi pemicu bagi kerja keras dan pertumbuhan seseorang. Misalnya, kalau seseorang memiliki perasaan inferior berkenaan dengan pendidikannya, lalu memutuskan, Aku tidak punya pendidikan tinggi, jadi aku hanya perlu berusaha lebih keras dari yang lain, itulah arah yang diharapkan. 

Kompleks inferioritas, di sisi lain, merujuk pada kondisi yang mulai menjadikan perasaan inferiornya sebagai alasan. Jadi, seseorang berpikir, Aku tidak punya pendidikan tinggi, jadi aku tidak bisa sukses, atau aku tidak tampan, jadi aku tidak bisa menikah. 

Ketika seseorang bersikeras memakai logika "A adalah situasinya jadi B tidak bisa dilakukan dengan cara seperti itu dalam kehidupan sehari-hari, itu tidak bisa dikategorikan sebagai perasaan inferior. Itu adalah kompleks inferioritas. Ini hanya tentang takut melangkah ke depan; juga bahwa kau tidak mau mengambil upaya yang realistis. 

Kau tidak ingin berubah sampai-sampai kau bersedia mengorbankan kesenangan mu saat ini. misalnya, waktu yang kau habiskan untuk bermain-main dan berkecimpung dengan hobimu. Dengan kata lain, kau tidak diperlengkapi dengan keberanian untuk mengubah gaya hidupmu. Akan lebih mudah jika keadaan tetap seperti apa adanya sekarang, sekalipun kau mungkin punya sedikit keluhan atau keterbatasan.

Bagaimana cara mengisi bagian yang hilang itu. Cara yang paling sehat adalah berupaya mengisinya lewat kerja keras dan pengembangan diri. Misalnya dengan mencurahkan perhatian pada studinya, terus-menerus berlatih atau lebih giat bekerja. Akan tetapi, orang-orang yang tidak diperlengkapi dengan keberanian pada akhirnya akan masuk ke kompleks inferioritas. Lagi-lagi, ini tentang berpikir, aku tidak punya pendidikan tinggi, jadi aku tidak bisa sukses. Dan ini menyiratkan kemampuanmu dengan menyatakan, "andai aku berpendidikan tinggi, aku bisa menjadi sangat sukses." 

Bahwa "aku yang sesungguhnya", yang kebetulan tersembunyi saat ini karena masalah pendidikan, sebenarnya superior. Seseorang menderita perasaan inferioritas yang kuat, ditambah lagi, dia tidak punya keberanian untuk menebusnya melalui model kerja keras dan pertumbuhan yang sehat. Meski begitu, dia tidak bisa mentoleransi kompleks inferioritas dari pemikiran A adalah situasinya, jadi B tidak bisa dilakukan. Dia tidak bisa menerima "ketidakbecusan dirinya". Di titik itu, dia berupaya menebusnya dengan cara berbeda, dan mencari jalan keluar yang lebih mudah. Dengan bersikap seakan-akan dirinya superior, dan menikmati perasaan superior yang semu.

Ada 2 tipe superioritas kompleks:

1. Adalah tipe orang yang senang membanggakan prestasinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
19 September 2021
LAPORKAN KONTEN
Alasan