Mohon tunggu...
Yeni Dewi Siagian Psikolog
Yeni Dewi Siagian Psikolog Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog

Professional Training Organizer, Human Capital Practitioner, Digital Marketing ,Trainer dan Assessor BNSP Licensed | Coach, Productivity and Women Empowerment Psychologist | Member of APA (American Psychological Association) | WeSing @yenidewisiagianpsikolog | Twitter @yenidewisiagian | FB/IG @yenidewisiagianpsikolog | YouTube @yenidewisiagianpsikologtv | Pernah bekerja sebagai Journalist di Majalah Intisari (KKG) | Business Inquiries Contact 0812-9076-0969 | Founder of www.butterflyconsultindonesia.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Gejala "Halu" Zaman "Now" (Belajar dari Kasus Investasi Bodong)

25 Maret 2022   19:43 Diperbarui: 15 April 2022   04:40 1411
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Designed by @butterflyconsultingindonesia

Kalau membaca judul tulisan ini mungkin ada orang yang bingung, ada orang yang jengkel atau ada orang yang tertawa. Sebelumnya saya jelaskan dulu arti kata "halu" yang berasal dari kata halusinasi dan "hubungannya" dengan kasus investasi bodong yang sedang ramai dibicarakan saat ini.

Berikut ini arti kata halusinasi :

Halusinasi adalah persepsi sensori salah yang terjadi tanpa adanya rangsangan yang nyata, substansial dan berasal dari luar ruang nyatanya. Mudahnya... halusinasi adalah pengalaman dari salah satu atau kelima pancaindera manusia yang salah tanpa adanya obyek nyata dari luar.(https://grhasia.jogjaprov.go.id)

Tapi berhubung saya menulisnya di dalam 2 tanda petik ("), artinya adalah seakan-akan dan bukan nyata.

Saya terpikir judul ini karena saat ini ramai sekali berita tentang investasi bodong dan flexing alias pamer yang dilakukan oleh sekelompok orang, sebut saja oknum.

Biasanya mereka masih muda (mungkin usia 30-40 th -- an) dan bergaya ala ala konglomerat. Pesan lambo, tesla, punya jetpri, pakai baju mewah merk luar negeri, bicara tinggi, dll.

Kalau dicek latarnya mirip-mirip, dulunya susah, sekarang pas pandemi covid, bisnisnya pada meledak. Lalu apakah tujuannya hanya sekedar flexing alias pamer saja ?

Ternyata tidak. Kalau ditelusuri, mereka adalah para marketer dengan segala bentuknya. Dan tujuannya flexing tentu saja adalah : kamu beli produk saya, kalau kamu mau kaya seperti saya di masa pandemi covid ini.

Lalu muncullah para followers-nya yang silau karena ke-"halu"-an ini dan sorry to say, ikutan "halu" juga.

Kenapa saya bilang followersnya juga "halu" ?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun