Mohon tunggu...
Ya Yat
Ya Yat Mohon Tunggu... Penulis - Blogger

Penyuka MotoGP, fans berat Valentino Rossi, sedang belajar menulis tentang banyak hal, Kompasianer of The Year 2016, bisa colek saya di twitter @daffana, IG @da_ffana, steller @daffana, FB Ya Yat, fanpage di @daffanafanpage atau email yatya46@gmail.com, blog saya yang lain di www.daffana.com

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Di Tol Trans Jawa, Trembesi Melawan Polusi

11 Desember 2018   20:18 Diperbarui: 11 Desember 2018   20:36 472
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya menepikan motor yang sedang saya kendarai siang itu. Suara dering handphone yang tak berhenti, membuat saya memutuskan berhenti berkendara sejenak dan mengangkat telepon genggam saya yang tak henti menjerit. Nampaknya ada hal penting yang membuat si penelepon menelpon saya berkali-kali.

Motor saya pinggirkan di dekat gerobak cendol milik seorang lelaki yang sedang melayani pembelinya. Siang panas begini memang nikmat meminum es cendol yang dingin. Namun bukan karena ingin es cendol makanya saya berhenti. Saya mengambil telepon genggam dari dalam tas, tertera nama yang begitu saya kenal di layar telepon genggam saya, nama si anak bungsu.

Ternyata si bungsu menelepon berkali-kali karena urusan yang dianggap penting untuknya, ia minta ijin untuk membeli schetch book di sebuah toko buku, di mal besar di daerah saya. Begitu penting hingga ia ingin saya menjawab teleponnya dan memberinya ijin. Doh.. bikin deg-degan aja anak ini. Kirain ada masalah apa.

Telepon saya tutup setelah saya ijinkan si bungsu pergi, tak lupa berpesan agar ia kembali segera setelah buku yang dicarinya sudah dibeli. Saya bersiap memakai helm dan kembali mengendarai motor lagi, namun gerobak cendol yang berjarak beberapa meter dari saya membuat saya urung berangkat lagi. Kok nikmat ya kalau saya minum es cendol dulu.

Membuat teduh di panasnya hari (dok.yayat)
Membuat teduh di panasnya hari (dok.yayat)
Beberapa menit kemudian, saya menikmati segelas es cendol sambil duduk di kursi plastik yang disediakan penjual cendol. Bapak penjual cendol duduk tak jauh dari saya, ia bersandar di batang pohon besar yang beberapa akarnya menyembul dari dalam tanah. Pohonnya tak terlalu tinggi namun kanopi daunnya lebih lebar dari tinggi pohonnya. Daun-daun dari pohon besar ini menaungi kami, membuat panas matahari tak langsung jatuh ke kulit. Teduh jadinya.

Sambil menikmati es cendol, saya melihat sekeliling. Jalan raya di bilangan Depok ini cukup lebar, namun tak terlalu ramai dilalui kendaraan karena merupakan jalan alternatif. Pohon-pohon besar berjajar rapi, menjadi pembatas jalan dua arah ini. Pohon-pohon ini sama jenisnya dengan pohon yang menaungi saya. Pohon Trembesi namanya.

Trembesi kerap ditanam di jalan raya. Kanopi daunnya yang tumbuh melebar membuatnya menjadi pohon peneduh jalan raya. Seperti barisan Trembesi yang ada di depan saya. Kanopi daunnya meneduhkan jalan yang berlawanan arah. Kalau Anda sedang melintasi jalan tol, Trembesi akan menjadi pohon yang sering Anda temui.

Sejatinya Trembesi bukan hanya pohon peneduh. Ia adalah pohon dengan bermacam manfaat. Pohon yang sering disebut Ki Hujan ini, mengurangi polusi karena menyerap CO2 yang keluar dari kendaraan bermotor. Satu pohon trembesi mampu menyerap 28 ton CO2 per tahun. Akarnya yang kuat mampu mengikat air hujan hingga tak segera mengalir ke laut. Makanya Trembesi kerap ditanam untuk program penghijauan dalam rangka mengurangi dampak pemanasan global.

GIGI dan Tasya abis nanam trembesi (dok.DTFL)
GIGI dan Tasya abis nanam trembesi (dok.DTFL)
Dampak pemanasan global memang makin besar aja. Beberapa tahun belakangan ini musim kemarau berlangsungnya lebih lama dari musim penghujan. Kekeringan terjadi di mana-mana. Saya cukup sedih ketika menengok sawah ayah saya di kampung saya di Jogja minggu lalu. Sawah ayah ditumbuhi rumput liar. Tanahnya pecah-pecah karena kering.

Kata ayah, sawah belum bisa ditanami padi karena tak ada air. Bukan hanya sawah ayah saya aja yang seperti itu, tapi seluruh sawah di areal persawahan di kampung saya. Memang ada yang menanami sawahnya dengan tanaman yang tak terlalu membutuhkan banyak air. Tanaman ubi jalan misalnya. Tapi itu tak banyak. Karena itu ketika beberapa hari belakangan ini hujan sering turun, saya sungguh bersyukur karena sawah bisa segera ditanami.

Jangan sampai pemanasan global berdampak makin parah. Menghijaukan bumi kembali harus dilakukan dengan segera dan kita harus melakukannya bersama-sama. Salah satu pihak swasta yang memberi perhatian besar pada program penghijauan adalah Djarum Foundation melalui programnya Djarum Trees For Life (DTFL) Trans Jawa. DTFL Trans Jawa punya misi menanam 8.400 Trembesi di ruas Tol Trans Jawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun