Yasintus Ariman
Yasintus Ariman Pembina Pramuka Penegak & Penulis 'gembel'

Olah pikir olah rasa, buktikan diri berguna bagi yang lain

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Emi Nomleni, Simbol Kebangkitan Perempuan NTT?

7 Juni 2018   10:45 Diperbarui: 7 Juni 2018   10:53 410 6 4

Sejak terbentuknya Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan perpecahan dari propinsi Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara), belum ada tokoh atau figur perempuan yang terpilih atau sekurang-kurangnya berani maju untuk menjadi pemimpin di NTT. Keadaan ini tentu tidak terlepas dari budaya patriarki yang mendominasi pola perilaku masyarakat NTT umumnya.

Bukan hal yang tabu di NTT maupun di seluruh wilayah nusantara ini, perempuan rentan terhadap kekerasan dalam bentuk pelecehan hingga pemerkosaan dan KDRT. Salah satu fakta sosial yang masih mengganjal adalah banyaknya perempuan NTT yang menjadi TKW ilegal di negeri Jiran dan banyak diantaranya harus meregang nyawa  kerena disiksa majikan.

Menariknya di tengah situasi ketertindasan seperti ini, muncul satu tokoh perempuan NTT yang berani maju untuk menjadi orang nomor dua di tanah berbatu karang ini. Dialah Emi Nomleni. 

Bagi saya ini sesuatu hal yang luar biasa.  Beliau menjadi satu-satunya perempuan yang berani menunjukkan ketangguhan sekaligus ingin mematahkan dominasi kaum pria dalam hasrat menjadi pemimpin.

Mungkinkah ini pertanda kebangkitan kaum perempuan NTT? Jawabannya, secara kasat mata kemunculan tokoh perempuan di panggung politik NTT tentu bukanlah hal yang baru. Hal ini tampak dalam keterwakilan perempuan di DPRD baik pada tingkat kabupaten maupun propinsi dan juga pusat.

Namun sejujurnya hal itu lebih sebagai realisasi dari regulasi 30% keterwakilan perempuan dalam partai politik. Sehingga keterwakilan kaum perempuan bisa terakomodir. Sedangkan untuk menjadi bupati dan gubernur, perempuan belum menampakkan ketangguhannya. Perempuan masih kalah bersaing.  

Kemunculan tokoh Emi Nomleni dalam panggung pilkada NTT, bagi saya bukan sebuah kebetulan. Dalam pandangan saya tokoh ini diusung oleh partai yang memperoleh suara mayoritas di NTT. Itu berarti beliau adalah figur terbaik di partai yang sanggup mengalahkan figur-figur lain di internal partai yang memang ingin maju. Dan hal ini sempat menimbulkan riak-riak konflik di internal partai yang kemudian membelot mendukung paslon lain.

Meski demikian, tetap muncul pertanyaan mengapa partai PDIP menjadikannya sebagai orang nomor dua dan memilih figur lain di luar partai untuk menjadi orang nomor satu? Ada apa dengan PDIP di NTT sebenarnya? Dalam konteks ini tentu kalkulasi politiklah yang menjadi acuannya. Hal ini juga tidak terlepas dari tata kehidupan budaya patriarki yang mengakar bahwa perempuan hanyalah sebagai pendamping atau pelengkap.

Namun ketika situasi berubah tatkala Marianus Sae yang menjadi pasangannya dalam pilkada NTT terkena OTT KPK, mau tidak mau, suka tidak suka Emi Nomleni seakan berjuang sendirian. Beliau menitikan air mata pada saat penentuan nomor urut paslon di KPU NTT.

Kasus dugaan korupsi yang mendera Marianus Sae tentu menjadi pukulan telak  buat para pendukung dan tentu saja menjadi kegembiraan bagi para lawan politik. Tetapi di sinilah menjadi ajang pembuktian kualitas diri seorang Emi Nomleni.

Pada debat pilkada, ia sendirian. Ia tidak gentar berdiri di antara para pejantan tangguh berwajah lama yang enggan letih berusaha untuk memuaskan sawat kekuasaan meski gagal berkali-kali. Ide-ide yang dilontarkannya sama sekali tidak menunjukkan inferioritas sebagai perempuan.

Jika ditelisik lebih dalam situasi yang dialami Emi Nomleni di panggung politik NTT saat ini tidak berbeda jauh dengan keadaan yang dialami oleh Megawati Soekarnoputri. Jika dulu Megawati bersama PDIPnya meraih suara mayoritas dalam pemilu 1999 tetapi hanya sanggup menjadi orang nomor dua di Republik ini. Ketika itu Gusdur yang menjadi orang nomor satu ditumbangkan MPR melalui sidang istimewa, Megawati dengan sendirinya naik menjadi orang nomor satu.

Dengan demikian, sudah bisa diprediksi sekirannya Marianus Sae terbukti bersalah dan harus mendekam di penjara maka Emi Nomlenilah yang menjadi gubernur NTT. Itu artinya beliau menjadi gubernur perempuan pertama di NTT. Sama seperti Megawati yang menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia.

Lagi-lagi ini hanya bentuk perhitungan mulus jika Nomleni menang pada pilkada 27 Juni nanti. Kalau pun ia kalah namun kemunculannya di panggung politik sekelas pilkada sudah diacungi jempol. Ini mau membuktikan perempuan NTT sesungguhnya layak diperhitungkan dalam panggung kekuasaan yang selama ini terpenjara oleh budaya patriarki.

Apakah Emi Nomleni bisa menjadi simbol kebangkitan kaum perempuan NTT, ataukah hanya sekedar menunjukkan diri ada? Jawabannya dikemblikan ke nurani setiap insan (perempuan dan laki-laki) penghuni tanah Flobamora. Dan nurani saya manis berbisik Emi Nomleni bisa menginspirasi perempuan lain di NTT. Salam damai.