Mohon tunggu...
Yanti Sriyulianti
Yanti Sriyulianti Mohon Tunggu... Relawan - Berbagilah Maka Kamu Abadi

Ibu dari 3 anak yang sudah beranjak dewasa, aktif menggiatkan kampanye dan advokasi Hak Atas Pendidikan dan Perlindungan Anak bersama Sigap Kerlip Indonesia, Gerakan Indonesia Pintar, Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak, Kultur Metamorfosa, Sandi KerLiP Institute, Rumah KerLiP, dan Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan di Indonesia sejak 1999. Senang berjejaring di KPB, Planas PRB, Seknas SPAB, Sejajar, dan Semarak Indonesia Maju. Senang mengobrol dan menulis bersama perempuan tangguh di OPEreT.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Perjumpaan dengan Gadis Papua Calon Mahasiswa UP

30 Agustus 2019   15:20 Diperbarui: 30 Agustus 2019   18:01 130
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berdiri di hadapanku dua perempuan Papua menunggu kereta jurusan Bogor. Dari belakang terlihat seperti kakak adik. "Saya mau ke UP, Bu, "sahut yang muda sambil tersenyum manis menjawab pertanyaanku. Matanya menyipit sejenak. Anak-anak rambut di pelipisnya melingkar menambah kecantikan parasnya. 

"Perkenalkan, Bu, ini mamak saya. Ia datang dari Timika untuk mengantar saya mencari perguruan tinggi di Jakarta,"imbuhnya melihat mata saya beralih kepada perempuan di sebelahnya.

"Wah, benar-benar seperti kakak adik. Selamat datang di Jakarta, Mamak. Semoga Allah senantiasa melindungi  Mamak sekeluarga dan saudara-saudara Papua kita di mana pun berada, "aku berkata sambil bersalaman. Kami pun memulai perjumpaan dengan obrolan ringan.

Ini pertama kalinya aku naik kereta api dari stasiun Cikini. Kursi-kursi panjang masih berderet kosong. Aku memilih duduk di kursi sebelah kanan. Kedua perempuan Papua itu ternyata duduk agak jauh di seberang kiri saya.

Di Toraja Utara & Tana Toraja saya ketemu teman-teman Papua, di Palopo juga. Apapun yg mereka pikirkan saya cuma bilang "Saya ada untuk kamu".

Sore ini saya  mau ketemu dengan sebagian dari mereka di Makasar

Sudah ada permintaan untuk tidak mau photo bersama diviralkan, saya pun ikuti saja dengan ngga maksa photo  bersama mereka.

Saya hanya berusaha mendatangi, menyapa & kalau bisa memeluk, ketika mereka akhirnya nyaman & merespon dengan senyum itu sudah cukup untuk saya.

Saya ga bicara soal bendera, saya ga bicara apapun kecuali berusaha mendengar dg seksama untuk kemarahan, kegelisahan bahkan kebingungan mereka. .... biarlah kita beri waktu merrka berproses sendiri

Yang pasti, usai dialog walau sebentar, mereka yang bahkan balik memeluk erat kita, mengucap terima kasih.

Mereka ada dalam banyak tekanan. Kita hrs bersabar, jaga lisan kita, sambut saja mereka dg hangat. Karena cuma itu yg mereka perlukan dr kita, bersilaturrahmi aja sebisa mungkin, krn dg perjumpaan kita bisa berikan energi persahabatan kemanusiaan kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun