Mohon tunggu...
Analisis Pilihan

Semakin Yakin Pilih Demokrat Usai Debat Pilpres, Mau Tahu Alasannya?

18 Januari 2019   16:02 Diperbarui: 18 Januari 2019   16:10 0 7 3 Mohon Tunggu...
Semakin Yakin Pilih Demokrat Usai Debat Pilpres, Mau Tahu Alasannya?
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat di Pekanbaru. Sumber: Antara Foto

Bagi yang fanatisme terhadap pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2019 pasti akan dengan segala cara mengatakan bahwa pasangannya lah yang paling hebat. Apalagi jika kita melihat 'bacot' yang muncul usai gelaran debat perdana Pilpres 2019 yang dilaksanakan semalam (17/1). Tapi bagi saya, gelaran debat semalam hanya semakin memantapkan pilihan saya untuk memilih Partai Demokrat dalam Pemilu 2019.

Jangan bingung-bingung memikirkan korelasi debat Pilpres dengan pilihan saya yang memilih Partai Demokrat. Saya paham, sebagian pembaca pasti akan berpikir "kan gak ada kader Demokrat yang jadi capres ataupun cawapres di Pilpres 2019". Begini penjelasan saya.

Dari gelaran debat Pilpres semalam, saya tidak melihat adanya etikat dari paslon dalam membangun demokrasi yang sportif, sehat, dan bermartabat. Bagi saya secara pribadi, 'persetan' dengan paslon yang melihat contekan, paslon yang planga-plango, ataupun paslon yang cuma umbar janji. Bagi saya itu hanya menjadi tolak ukur atau referensi saya untuk memilih pemimpin berdasarkan pilihan pribadi saya.

Di atas dari pilihan pribadi tersebut, menurut saya pilihan pemimpin yang bisa memenuhi kehendak rakyat (tidak hanya pilihan pribadi) adalah hal yang mutlak. Apa itu kehendak rakyat? Sederhana, terpilihnya pemimpin yang tidak melahirkan kegaduhan sehingga menghasilkan iklim demokrasi yang sehat, ekonomi yang stabil, pembangunan yang berkelanjutan, dan iklim politik yang dinamis tapi kondusif.

Hal itulah yang tidak saya dapatkan dari penampilan debat semalam. Para paslon hanya sibuk dengan ego memenangkan konstituennya masing-masing sehingga lupa membangun harmonisasi dari demokrasi itu sendiri. Kita lihat contohnya sesi terakhir debat yang menyarankan paslon memberikan apresiasi kepada paslon lainnya. Kendati waktu yang terpakai baru 30 detik dan menyisakan waktu 1 menit 30 detik, namun petahana berat lidah untuk dapat memberikan apresiasi kepada paslon lainnya. Ini tentu menjadi tontonan terburuk dalam sejarah demokrasi kita.

Kondisi ini lah yang memantapkan pilihan saya untuk memilih Partai Demokrat, karena filosofi partai berlambang mercy ini adalah "lanjutkan yang sudah baik, perbaiki yang belum baik". Artinya, Partai Demokrat memberikan pemahaman berdemokrasi yang baik dan utuh bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak membabi buta mendukung sesuatu dan juga tidak menutup mata bila melihat sesuatu yang salah. Dalam bahasa sederhanya, katakan benar jika itu benar, dan katakan itu salah jika itu salah.

Sampai disini mungkin masih ada pembaca yang bertanya, "hubungannya apa?". Disini saya menjelaskan, mungkin banyak dari kita yang hanyut dengan dukung-mendukung paslon capres-cawapres tertentu sehingga lupa diwaktu yang bersamaan 17 April 2019 akan diselenggarakan Pemilu Serentak antara Pilpres dan Pileg. Disini kuncinya. Dalam tatanan negara demokrasi, legislator dari partai yang berpengalaman merawat demokrasi sangat dibutuhkan.

Partai Demokrat 10 tahun telah membuktikan hal tersebut. Dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di eksekutif (presiden) dan Partai Demokrat yang kuat di parlemen (DPR) membuktikan harmonisasi kehidupan berdemokrasi di republik ini berjalan dengan baik. 

Buah dari kehidupan demokrasi selama 10 tahun itu sangat bisa dirasakan oleh rakyat Indonesia disemua lapisan, seperti ekonomi yang stabil, hukum yang tidak tumpul ke atas, pembangunan manusia dan infrastruktur yang berjalan seiringan, dan lebih terpenting adalah terbangunnya budaya saling menghargai antara tokoh maupun pemimpin politik yang terdahulu.

Pembangunan bukanlah kehendak penguasa. Pembangunan adalah kehendak rakyat. Oleh sebab itu, dibutuhkan legislator yang peduli dan memahami kebutuhan rakyat. Oleh sebab itu, Partai Demokrat adalah solusi. Karena selama 10 tahun Partai Demokrat (2004-2014) enggan umbar janji, hanya unjuk bukti, dan diapresiasi. Jika sudah paham, yuk pilih Demokrat di Pileg 2019.