Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

Menulis adalah cara kami dari seberang Timur meraba-raba separoh dinamika di negeri ini. Anak pesisir dari Timur-NTT. Menulis untuk memuaskan diri saja, meski baru memulai. Lebih suka mendengar daripada banyak bicara. Menulis sebatas cara mengecap cita rasa keindonesiaan. Karena kompasiana ini miniatur Indonesia. Kontak : 081212450014

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Kenapa Tekor Melulu dengan Negara China?

24 Oktober 2020   07:16 Diperbarui: 24 Oktober 2020   08:17 152 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa Tekor Melulu dengan Negara China?
Ilustrasi (sumber: monitorriau.com)

Lepas dari soal suka tidak suka pada Anies Baswedan, kata-kata Anies yang deman adalah, jangan cuma bikin GDP (gross domestic product) tambun. Tidak apa dia tambun, asalkan adil dan berpihak. Istilah menterangnya, "antara public sector dan private sector, harus inline, purpose-nya pada keberpihakan dan keadilan. Disitulah fungsi negara. 

Jangan sampai GDP gemuk sedemikian rupa, tapi isinya cacing dan lintah. Kerjanya hanya menghisap segala protein dalam usus ekonomi kita. Tugas negara, sejatinya membikin GDP besar, tapi pula memakmurkan rakyat kecil.  Untuk apa GDP tambun, tapi rakyatnya pedar hingga alang kepalang blangsak.

Tidak apa kejar investasi, tidak apa menggenjet-genjet itu birokrasi sampai gepeng, demi efisiensi. Tapi jangan sampai rakyat dan buru juga digencet sampai gepeng. Jangan sampai tujuannya berhenti pada market function efficiency.    

Apa jadi, belakangan, dahi kita dibikin kernyit dengan ekonomi yang menceng. Entah ke kanan, pula ke kiri. Sebagai neolib juga tidak tentu, menjadi sosialis atau komunis juga indak jaleh. Sebentar-sebentar dituding komunis, sebentar-sebentar dimaki sebagai neolib.

Yang jelas, entah komunis atau neolib, sama-sama mencengkam ekonomi kita. Sama-sama maruk. Betapa tidak dongkol, satu dekade terakhir, perdagangan kita terus defisit dengan China. Sementara, Amerika yang dituding selaku biangnya neolib, kita sanggup menyabet surplus perdagangan dengannya. Kurang rakus apa Amerika? 

BPS sudah omong, pada Agustus 2020, perdagangan RI surplus dengan Amerika. melakukan ekspor komoditas senilai 1,6 miliar dollar AS dan impor 578 juta dollar AS dengan Negeri Paman Sam. Namun alang kepalang rumitnya, dengan China, kita malah defisit.

Defisit terbesar dialami dengan China, yakni sebesar US$ 893 juta. Dagang dengan China, kita tekor sampai US$ 893 juta per Agustus 2020. Ini bukan kali pertama. Jangan-jangan sampai kiamat, bakal tekor terus dagang dengan negara Tirai bambu ini. Apa lacur?

Mestinya, dengan prinsip-prinsip resiprokal, antara kita dengan China perlu renegoisasi perjanjian perdagangan. Tarulah menekan komponen-komponen perdagangan agar lebih adil secara resiprokalnya. Agar sekali tidak apa, kita alami surplus dagang dengan China. Jangan sampai seumur-umur tekor dan blangsak terus dengan mereka. Apakah sedemikian sawan, hubungan dagang kita dengan negara yang punya pagar tembok sampai menuding langit itu?

***

Selain dari sisi perdagangan kita sering tekor, dalam soal investasi, kita juga ketulung baik dengan China. Milsanya, dari sisi investasi di RI, cukup besar menyerap TKA dari China. Bahkan paling besar TKA China di Indonesia kalau kita mau bandingkan.

Kendatipun, dari total investasi sepanjang lima tahun terakhir (2015-2019), investasi China masih kalah dari Singapura. Dari data TKA di Indonesia sepanjang 2015-2019, TKA China paling tinggi dengan rata-rata pertumbuhan tiap tahun 0,17%.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN